Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
Shaqilla


__ADS_3

Malam hari nya, mereka berkumpul kembali di ruang keluarga bahkan Kafka dan Rendi pun ikut serta disana.


"Dek?" panggil Kafka


Qilla langsung menghentikan main bersama sang keponakan saat mendengar suara berat Kakak nya, sudah di pastikan bahwa sang Kakak akan berbicara penting.


"Ya, Kak" jawab Qilla dengan berpindah duduk nya ke sofa dekat Kakak Ipar nya.


Sedangkan Nana, ia memilih diam dan mengajak kedua balita itu bermain.


"Kau kan sudah masuk ke semester akhir, dan bahkan kau bisa saja lulus dan wisuda 2 bulan lagi karena kepintaran-mu" ucap Kafka


"Tapi kalau masalah itu tergantung kamu saja, Kakak hanya ingin kau sudah bisa membantu Daddy mengurus perusahaan Oppa. Bukan Kakak ingin serakah dengan perusahaan Daddy, tetapi Kakak kasihan melihat Daddy yang masih saja bekerja di usia nya yang sudah menua" ucap Kafka kembali dengan wajah tegas nya.


"Aku tahu, Kakak tenang saja ya, walaupun aku tak serumah tetapi aku sama Nana selalu membantu Daddy dan Oppa dengan membawa tugas perusahaan dan kami akan mengirimkan nya kembali jika sudah selesai" balas Qilla dengan tersenyum.


"Do'akan saja ya, Kak. Aku akan lulus dan wisuda dengan cepat supaya aku bisa melihat Mom dan Daddy menikmati masa Tua nya dengan bahagia dan tenang" ucap Qilla kembali.

__ADS_1


Adel memeluk Adik ipar nya yang selalu saja membuat nya kagum dan bangga.


"Kau akan melebihi Kakak dan Daddy, kau wanita yang akan di pandang tinggi serta segan oleh semua orang" ucap Adel dengan tulus.


"Kami selalu bangga padamu, Qilla" timpal Milsi dengan lembut.


"Ck, karena aku itu memang membanggakan" seloroh Qilla dengan mencairkan suasana.


Seketika mereka tersenyum dan tertawa kecil mendengar celetukan Qilla.


"Dan kau, Nana" ucap Kafka menatap sahabat Adik nya yang sedang tersenyum melihat tingkah Qilla.


"Hmm, I iya" jawab Nana dengan gugup.


"Aku mohon terus dampingi Qilla karena aku tahu kau wanita baik dan tidak niat apapun pada Adik ku. Jangan pernah bosan dengan tingkah laku Qilla yang kadang memang selalu usil" pinta Kafka dengan tulus.


"Aku memang tulus berteman dengan Qilla, Tuan. Tapi aku selalu merasa akan menjadi bahan olokan orang lain saat mereka tahu bahwa nanti Qilla adalah Putri bungsu keluarga Ardmaja, aku merasa tidak pantas berdampingan dengan Qilla. Bahkan saat aku mengetahui Qilla berbohong soal ini, aku marah dan bahkan mengacuhkan Qilla hampir 1 bulan" jelas Nana dengan menundukan kepala.

__ADS_1


"Dan entah kenapa atau memang Qilla sengaja, dia diam saja saat orang lain membully dan berlaku kasar pada nya. Hingga aku merasa kasihan dan berbalik merangkul pundak nya" ucap Nana kembali.


"Mungkin aku memang orang miskin, tapi aku tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan Qilla, Tuan. Dan aku berjanji, aku akan bersama dengan dirinya hingga dia memiliki pasangan yang mampu menjaga nya" ucap Nana dengan tegas.


Qilla langsung terpana dan memeluk Nana, ia merasa terharu dengan ucapan Nana.


"Terimakasih, aku percaya padamu" ucap Kafka.


Adel , Milsi dan Rendi tersenyum melihat Qilla yang menangis di pelukan sahabat nya.


Mereka semua tahu bahwa Qilla pernah di tipu oleh yang namanya sahabat karena status Qilla adalah Nona muda di keluarga Ardmaja.


Hingga ia memilih untuk pergi jauh dan mengubah hidup nya dengan sederhana.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2