
Mereka masuk kembali kedalam Mall dan langsung ke arah tempat bermain.
Tangan Jelita tidak lepas dari Kania , bahkan ia sampai meminta di gendong. Mila tersenyum melihat kedekatan mereka.
"Ayah , boleh tidak aku makan escream" ucap Jelita dengan wajah menggemaskan.
"Baiklah tapi hanya 1 cup saja ya" pasrah Gibran.
"Horeee" senang Jelita. Lalu ia mengajak Kania untuk membeli escream dulu.
"Apakah kamu tahu dimana Putri, Gib?" tanya Mila dengan sendu.
"Aku tak tau dia dimana sekarang, aku meninggalkannya karena dia mengambil jalan yang salah" jawab Gibran dengan manik matanya tak lepas dari Kania dan Jelita.
"Hmmm" dehem Mila kecewa.
"Oh iyaa , kapan jadwal cekup Jelita?" tanya Gibran menatap Mila.
"2 Hari lagi, Gib" jawab Mila
"Semua biaya nya biar aku tanggung, jadi kalian fokus saja untuk diri kalian ya" ucap Gibran tanpa mau di bantah.
"Tapi aku masih kerja di Caffe kan?" tanya Meli.
"Iyaa" jawab singkat Gibran.
Jelita membawa Kania ke arah arena bermain , bahkan Sofi dan Meli pun ikut bermain bersama. Mereka tertawa bahagia seperti tanpa beban apapun.
***
2 Hari kemudian.
Gibran bersama Kania dan Jelita terbang ke Negara T. Gibran akan meminta izin pada Orangtuanya untuk menikah kembali. Ia sudah yakin dengan pilihannya.
Kemarin Kania membawa Gibran dan Jelita ke Panti asuhan yang selama ini memberikannya kehidupan.
Selama di pesawat Jelita tak lepas dari pelukan Kania. Kania sendiri tahu bahwa Gibran bukan Ayah biologis dari Jelita.
-Negara T.
Gibran menyetopkan Taxi dan mengajak anak serta calon istrinya masuk ke Taxi tersebut.
"Ayah kita mau kemana lagi?" tanya Jelita
"Kita akan ke rumah Nenek" jawab Gibran tersenyum.
Tak ada jawaban ataupun pertanyaan karena Jelita sudah terlelap kelelahan. Dengan sayang Kania mengelus rambut panjang Jelita dan sesekali mencium pucuk kepalanya.
"Terimakasih" ucap Gibran menatap Kania.
Kania menatap balik Gibran dengan tersenyum.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kamu mau menerimaku menjadi bagian hidupmu , bahkan aku bukan siapa-siapa" balas Kania lembut.
"Kita akan menjalani kehidupan bersama dan aku mohon jangan pernah ada kebohongan di antara kita nantinya. Apapun itu tanyakan saja jangan mementingkan ego sendiri, ya" pinta Gibran
__ADS_1
"Hmm begitupun kamu, jika aku salah ataupun ada masalah yang menerpaku jangan dulu emosi tanyakan saja dulu kebenarannya. Itu kunci rumah tangga agar utuh" balas Kania tersenyum.
Gibran memeluk kedua wanita yang sangat di sayangi nya tersebut.
Hingga tak terasa Taxi yang membawa mereka sampai di halaman mansion Wibawa.
Gibran membawa Jelita serta Kania masuk. Ia akan mengenalkannya pada Adik dan Orangtuanya.
Tingnong Tingnong
Ceklek.
"Wahh Abang" pekik Amanda senang.
Gibran tersenyum begitupun dengan Kania. Lalu Amanda menyuruh mereka masuk dan membawanya ke ruang keluarga.
Disana Bu Yulia , Ayah Salim serta Nicolas dan Raka sedang berkumpul. Karena Gibran sampai di sana tepat setelah jam makan malam.
"Bu , Ayah" panggil Gibran.
Bu Yulia memeluk putra nya dengan hangat , lalu ia menatap heran pada wanita yang sedang menggendong anak kecil.
"Siapa mereka, Gib" tanya Bu Yulia.
Kania hanya tersenyum canggung dan masih menggendong Jelita.
"Dia ini Jelita Bu, dan ini Kania calon istriku" jawab Gibran tersenyum.
"Wahh apakah ini Jelita cucu Nenek. Kau sudah besar sekali, Nak" senang Bu Yulia lalu mencium Jelita yang tersenyum.
Lalu Kania duduk di sebelah Amanda dan Bu Yulia. Sedangkan Jelita ia masih duduk di pangkuan Kania.
"Kapan kalian akan menikah, Gib?" tanya Ayah
"1 Minggu lagi, Ayah. Aku harap kalian akan kesana, kita hanya akan menikah sederhana tanpa pesta" jawab Gibran
"Gib , apa kau tidak ingin kembali ke keluarga ini?" tanya Nicolass.
"Bukan tidak mau, Nico. Aku hanya sudah nyaman disana dan apalagi aku juga akan membuka cabang Caffe ku di sana" jawab Gibran tersenyum.
"Untukmu saja perusahaan Ayah" ucap Gibran saat Nicolas akan bertanya kembali.
"Ck , kau ini belum juga nanya" sinis Nicolas.
Amanda terkekeh melihat wajah kesal suaminya. Kehidupan mereka sudah stabil saat ini berkat bantuan Tama dan Orangtua Ayu.
"Hmmm Ayah , aku mau main sama adik bayi yah" izin Jelita saat menatap Raka yang lucu.
"Iya , tapi gak boleh nakal" ucap Gibran menatap sayang Putrinya.
Jelita hanya mengangguk saja dan turun dari pangkuan Kania. Ia berjalan ke arah Nicolas dan meminta Raka di turunkan untuk main di karpet bulu tersebut.
Bu Yulia menatap Kania dengan wajah yang sulit di artikan , lalu ia menatap Gibran.
"Kania sudah tahu semuanya, Bu. Bahkan ia sudah tahu bahwa aku bukan Ayah biologis dari Jelita" ucap Gibran saat tahu tatapan Ibu nya.
__ADS_1
Kania memegang tangan Bu Yulia dengan lembut lalu mengusapnya perlahan.
"Bu , semua orang mempunyai masalalu. Entah itu baik ataupun jelek, tetapi bagaimana kita yang menyikapinya , ada yang malah mengulangi keselahannya ada juga yang menyesalinya. Aku menerima mas Gibran apa adanya Bu, bahkan aku bahagia atas kejujuran nya padaku" ungkap Kania dengan tersenyum lembut.
Bu Yulia memeluk Kania dan terisak di pelukan calon menantunya.
"Terimakasih, Nak. Kau wanita sangat baik , jika Gibran melakukan salah tegur saja ya, Nak" ucap Bu Yulia
"Tendang saja pantatnya, Kak" celetuk Amanda terkekeh.
Nicolas dan Ayah tertawa melihat wajah Gibran yang sangat kesal pada Amanda. Kania hanya mengulum senyum saja.
"Ayah mohon , jangan ulangi kesalahanmu lagi ya , Nak" pinta Ayah dengan serius.
"Tidak akan Ayah, Gibran sadar bahwa harta bukan dari segalanya , kebahagian orang yang kita sayangi adalah yang utama" balas Gibran memeluk Ayah nya.
"Hmmm ini baru Gibran sahabat gue" celetuk Nicolas.
"Ck , gak Adik gak suaminya sama-sama menyebalkan dan tidak tau sopan santun dengan Kakak" cebik Gibran dengan kesal.
Mereka tertawa bersama. Inilah yang mereka inginkan , kebahagian yang sederhana yang selalu menyertai rumahnya.
***
Sedangkan Ayu saat ini ia sedang merengek karena ingin makan martabak manis di jam 11 malam. Elga menghela nafas dan pergi mencari martabak tersebut.
"Huhh ada-ada saja kemauan bumil ini" gumam Elga.
Elga berputar mencari pedang martabak hingga akhirnya ia menemukan pedagang martabak tersebut.
"Bang , beli martabak manis dan telur ya 2" ucap Elga tanpa Exspresi.
"Baik Tua " jawab pedagang tersebut.
Elga menunggu di dalam mobil, jujur saja ia sudah mengantuk karena sudah hampir tengah malam.
Tok Tok
Elga menurunkan kaca mobilnya dan melihat pedagang martabak tersebut yang mengetuk kaca mobil.
"Berapa, pak?" tanya Elga.
"40 ribu, Tuan" jawab pedagangnya.
Elga memberikan uang 1 lembar berwarna merah tersebut dan memberikan pada pedagangnya.
"Kembaliannya untuk Bapak saja" ucap Elga dan ia permisi lalu melajukan mobilnya dengan cepat.
Sedangkan Ayu sudah tertidur pulas karena lama menunggu Elga yang sedang membeli martabak.
.
.
.
__ADS_1