Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
S2


__ADS_3

Sudah 1 minggu sejak meninggalnya Delisa. Hari ini Kafka dan Yang lainnya akan pulang ke Negara nya.


Ikmal dan Keila mengantarkan Keluarga Ardmaja ke Bandara. Awalnya Kafka ingin tinggal disana lebih lama tetapi ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


Di mansion , semua barang tentang Delisa sudah di kemas rapi dan di masukan ke dalam gudang oleh Art disana.


"Jika sudah sampai , beritahu kami" ucap Ikmal


"Baik , kami pergi dulu" balas Elga


Lalu Ayu memeluk Keila , ia merasa Keila masih sangat terpukul atas kepergian Delisa.


"Ka , ini kotak khusus untukmu. Delisa pernah menitipkan kotak ini pada Tante untukmu" ucap Keila dengan memberikan kotak yang entah apa isinya.


"Terimakasih , Tante. Nanti aku akan kesini lagi" ucap Kafka dengan lembut.


Lalu Kafka mengusap perut Keila yang buncit. Setelah itu mereka langsung masuk ke dalam pesawat.


"Om , jangan dingin kayak Daddy. Nanti anak nya kayak kulkas dua pintu" olok Qilla pada Ikmal.


"Dasar bocah tengil" kesal Ikmal dengan wajah masam.


Tawa Qilla pecah saat melihat wajah Ikmal. Ia lalu melambaikan tangan dan berlalu ikut masuk dengan Orangtuanya.


Qilla duduk bersama dengan Kafka. Dengan erat Qilla memeluk tubuh Kafka dan menyenderkan kepalanya di pundak sang Abang.


"Bang , nanti kalau udah sampai kita berlibur yuk ke Villa, Daddy" ucap Qilla dengan memohon.


"Kamu kan sekolah sayang, bahkan 1 minggu ini sudah tertinggal pelajaran" tolak halus Kafka.


"Aku kan belajarnya Online , Abang. Ya ya wekeend doang kok" bujuk Qilla dengan manja.


"Baiklah , tapi wekeend depan ya" ucap Kafka pasrah.


"Okeeee" balas Qilla senang.

__ADS_1


Kafka mengacak rambut adiknya dan memeluknya dengan hangat. Mereka sama-sama memejamkan mata nya.


Sedangkan para Art di mansion Ardmaja , sedang sibuk dengan menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatang Keluarga majikannya.


"Bi , kasihan ya Tuan Kafka. Padahal Non Delisa baik ya" ucap Art lainnya pada Bi Sumi.


"Ya namanya juga umur tidak ada yang tahu" balas Bi Sumi tersenyum.


"Iya juga sih" ucap temannya.


Lalu mereka kembali fokus memindahkan semua kotak yang berisa Poto , hadiah dan yang lainnya dari Delisa.


Bahkan mereka hanya menyisakan 1 poto saja yang ada di nakas kamar tidur Kafka.


Mereka menyusun kembali barang-barang Kafka yang lainnya agar kamar tersebut tidak kosong , mereka semua di pantau oleh Lana , Vani dan Rendi Asisten kepercayaan Kafka.


Setelah selesai mereka semua kembali ke bawah dan membuat banyak camilan serta masakan.


Sore hari nya , Sela , Andi , Raka dan Retika juga datang ke mansion Ardmaja. Mereka akan menyambut keluarga Ardmaja dan akan ikut makan-makan.


Mereka hanya membawa satu mobil yang agak besar. Di belakang mobil mereka pengawal mengikuti nya.


Sesampainya di Bandara , mereka langsung menuju ke jalur Pribadi. Rendi dan Lana berjalan sambil berbincang tentang perusahaan Ardmaja.


"Bagaimana Ren di perusahaan?" tanya Lana.


"Aman, Om. Hanya saja Dokumen penting yang memerlukan tanda tangan Kafka sudah menggunung" jawab Rendi terkekeh.


"Hahhh Om sangat kasihan dengan nasib Kafka. Semoga saja dia bisa mendapatkan penggantinya yang lebih baik dari Delisa. Walaupun susah sih" ucap Lana menghela nafas.


"Ahhh itu mereka" ucap Rendi saat melihat Keluarga Elga berjalan menghampiri mereka.


Rendi langsung menyuruh anak buahnya untuk membawa semua barang bawaan Keluarga Elga.


"Ka" sapa Rendi memeluk Kafka dengan cepat

__ADS_1


"Gue baik-baik saja, Kok" ucap Kafka menepuk pelan punggung Rendi.


Rendi melepaskan pelukannya dan tersenyum hangat.


"Gue tau , lu akan kuat. Lu harus bangkit dan kuat , karena di perusahaan Dokumen sudah menggunung" balas Rendi tertawa kecil.


"Wahhh itu bagus dong, Kak. Itu adalah pundi uang Keluarga Ardmaja, Abang" celetuk Qilla dengan wajah berbinar.


Lana memeluk gadis mungil tersebut dengan tersenyum lebar.


"Kau benar, ayo kita pulang nanti makanannya habis oleh Kakak mu" ucap Lana dengan terkekeh.


"Ahhhj tidak , ayoo cepat pulang" ajak Qilla dengan cepat.


Mereka terkekeh dan mengikuti langkah kaki Qilla. Bahkan Kafka di buat tersenyum oleh kelakuan Adiknya itu.


Sepanjang perjalanan Qilla tak berhenti mengoceh dengan Lana. Ia menceritakan semua nya kepada Lana.


Bahkan Elga di buat pusing dengan ocehan mereka berdua.


"Kalian tidak bisa diam ya" ucap Elga dengan sinis.


"Syirik aja sih , Dadd" balas Qilla dengan tak kalah sinis nya.


Ayu tersenyum melihat Putri dan Daddy nya yang kadang tidak akur itu.


"Berisik tau" ucap Elga dengan memeluk Ayu.


"Iyaaa ini akan diam. Tapi jangan peluk Mommy aku" balas Qilla dengan mengerjapkan mata yang lucu.


Elga memutarkan bola mata nya malas. Tetapi Elga tidak melepaskan pelukannya pada sang Istri yang mana membuat Qilla kesal.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2