
Salah satu anak buah Nana memanggil Hendi di ruangan kerja nya.
Bahkan mereka juga memanggil Direktur keuangannya sekaligus.
"Setelah ini apa kita akan melakukan penggrebekan?" tanya Dio dengan santai.
"Bukan kita, tapi sebentar lagi Reno akan datang kesini" jawab Nana dengan tersenyum kecil bersama Qilla.
"Kalian mematikan sekali" ucap Dio menggelengkan kepala nya.
"Memang apa yang kalian lakukan agar memancing Reno kesini?" tanya Zayn dengan terus saja menghirup aroma rambut Qilla.
"Aku menekan semua pemegang saham di perusahaan itu untuk menjual nya padaku dengan harga murah, jadi perusahaan itu 70% milikku dan 30% milik Reno" jawab Qilla dengan santai.
"Bagus , baru ini wanita hebat ku" ucap Zayn dengan bangga.
Qilla hanya tersenyum tipis saja pada Zayn.
*Tok
Tok*
"Masuk" ucap Nana dengan berteriak.
Ceklek.
Hendi masuk dengan Direktur nya, bahkan wajah Hendi sudah tegang dan gugup.
"Sial, seperti nya mereka sudah mengetahui kekacauan ini" batin Hendi dengan meremas lengannya
"Selamat pagi mejelang siang, Nona , Tuan muda" sapa Direktur tersebut.
"Duduklah, aku tidak akan basa-basi" balas Qilla dengan penuh ketegasan.
Direktur tersebut memberikan berkas tersebut pada Hendi yang sudah pucat pasi.
"Bacalah itu, dan bandingkan dengan hasil mu" ucap Qilla tegas.
__ADS_1
Gluk.
Hendi menelan saliva nya dengan kuat, ia sudah pasrah bahwa inilah akhir dari segala nya. Seharus nya Hendi sudah bisa menebak saat rekening nya tidak bisa di pakai sejak tadi.
"Ma maafkan saya, Nona" ucap Hendi dengan gemetar.
"Maaf mu saya tolak Hendi. Aku tau kau sudah bekerja disini sudah lama sekali bahkan sejak Oppa ku yang memegang kendali, tetapi sekali pengkhianat akan tetap pengkhianat" jelas Qilla dengan raut wajah yang keji.
Gluk.
Brak.
"Apa yang sudah kau lakukan pada perusahaan ku, Qilla" teriak Reno dengan wajah merah padam dan juga nafas yang ngos ngos san.
"Datang bertamu itu harus nya salam dulu, bukan malah berteriak begitu" cetus Nana dengan santai.
"Diam kau pelayan, kau wanita rendahan yang hanya bisa menumpang pada keluarga Ardmaja dan sekarang kau bisa menikahi putra sulung dari Tamara" bentak Reno dengan lantang.
Nana langsung memegang tangan Dio yang sudah akan melayangkan bogem mentah pada Reno.
"Lebih baik saya menumpang, dari pada anda akan menjadi gelandangan" balas Nana dengan tersenyum mengejek.
"Diam kau" bentak Reno dengan tangan yang sudah melayang.
Bugh.
"Berani sekali kau akan melayangkan tangan pada Istri ku" teriak Dio dengan murka.
Reno cukup terkejut saat wajah nya yang di bogem memaling ke arah Hendi yang sudah ada disana dengan wajah ketakutan.
Semua rasa sakit sirna saat melihat patner nya ada di sana.
"Apa kau kaget dengan keberadaan Hendi disini, Tuan Reno?" tanya Qilla dengan santai.
"Jangan kira kami tidak tahu permainan apa yang sedang kalian mainkan" ucap Qilla kembali.
"Apa kau berhasil membuat bangunan Resort ku roboh, Reno?" tanya Zayn.
__ADS_1
Reno mengepalkan tangannya dengan kuat, ia sudah kalah telak dengan serangan balik yang tanpa di ketahui nya sama sekali.
"Nana, jual saham ku yang ada di perusahaan Reno dengan harga yang sangat rendah" ucap Qilla dengan tegas.
"Baik, Nona" balas Nana patuh.
Reno menggelengkan kepala cepat, jika itu sampai terjadi maka hancurlah sudah perusahaannya.
"Tidak perlu sayang, biar aku saja yang akan membeli nya. Nana cukup hubungi Galih saja" ucap Zayn dengan tersenyum mengejek pada Reno.
"Kalian sangat gila, jangan lakukan itu aku mohon" ucap Reno dengan frustasi.
"Mengapa jangan? Hal itu juga kan yang akan kau buat pada perusahaan Oppa ku dan Suami ku" balas Qilla dengan datar.
"Sayang, setelah itu hancurkan saja" rengek Qilla dengan manja.
"Lalu karyawan nya masukkan ke Resort mu nanti" timpal Dio dengan terkekeh.
"Aku mohon jangan" mohon Reno dengan memelas.
"Semua nya sudah terjadi, dan kau akan membusuk di penjara bersama Hendi" ucap Qilla dengan keji.
Qilla lalu memanggil anak buah nya untuk membawa Reno dan Hendi pergi dari sana.
"Aku akan membalas kalian semua, dengarkan itu bedebah" teriak Reno dengan lantang.
Qilla dan yang lainnya hanya terkekeh saja, lalu mereka menghela nafas lega.
"Kembalikan uang dari rekening Hendi ke perusahaan , Pak" ucap Nana pada Direktur keuangan.
"Baik Nona, kalau be begitu saya permisi" pamit Direktur tersebut terbata karena sangat takut.
Nana menganggukan kepala nya dengan tersenyum kecil, lalu ia kembali duduk bersama dengan Dio.
Mereka tinggal mengurus Tiara yang sedang terlena dengan buaian alam tidur nya.
.
__ADS_1
.
.