
Nana dan Dewi terus saja fokus pada berkas yang ada di hadapan-nya, mereka tidak menyadari bahwa waktu makan siang telah tiba.
"Ehemmm" dehem Dio yang memang sudah masuk ke ruangan Nana.
Nana langsung saja mengangkat wajah nya dan ia cukup terkejut melihat kedatangan dari sang calon Suami-Nya.
"Abang, kenapa udah disini?" tanya Nana bingung.
"Lihat jam di tangan-Mu, sayang" jawab Dio dengan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Nana.
Dengan reflek Nana langsung melihat jam tangan-Nya, dan ia langsung tersenyum manis ke arah Dio.
"Ini satu lagi ya, Bang" ucap Nana dengan cengengesan.
"Yasudah, Abang tunggu" balas Dio dengan menggelengkan kepala melihat tingkah laku Nana.
Dio menatap Nana dengan sangat kagum, ia melihat bagaimana tegas dan wibawa nya Nana saat sedang bekerja dengan fokus.
"Sayang, kenapa tidak menerima tawaran Tuan Elga untuk mengadakan pernikahan kita di Mansion-Nya?" tanya Dio penasaran.
Nana menggelengkan kepala dan menghembuskan nafas dengan kasar.
"Aku tak enak pada keluarga yang lain-Nya, Bang. Meskipun mereka tidak keberatan tapi tidak dengan-Ku, disana adalah tempat privasi mereka, Bang" jawab Nana dengan lirih.
"Makanya aku memilih nikah di panti asuhan yang membesarkan aku saja, toh undangan-nya pun akan kerabat dan teman-teman kampus ku doang" ucap Nana kembali.
__ADS_1
Dio mengelus pucuk kepala Nana dengan sayang, ia merasa bangga dengan Nana yang sudah punya pikiran dewasa.
Dio tidak merasa sedikitpun malu akan calon istri nya yang bahkan dari panti asuhan dan tidak memiliki orangtua, malahan dia merasa sangat bangga bisa bersanding dengan wanita tangguh seperti Nana.
"Ayo Bang" ajak Nana setelah selesai dengan pekerjaan-Nya.
"Oke, kita makan siang dulu aja ya" ucap Dio lembut.
"Tau aja sih kalau aku lapar" kekeh Nana dengan bergelayut manja di lengan Dio.
Dio hanya tertawa kecil dan mengecup kepala Nana dengan lembut, lalu mereka langsung saja berlalu menuju ke arah parkiran.
Di sepanjang jalan, Nana hanya menampakan wajah datar saja dan ia hanya mengangguk kecil saat ada karyawan menyapa-Nya.
***
Cup
Zayn mengecup kening Qilla dengan lembut, lalu ia melepaskan diri dari pelukan Qilla, Zayn berniat akan membersihkan tubuh nya terlebih dulu.
"Tidurlah" ucap Zayn dengan lembut saat melihat Qilla yang menggeliat.
Setelah itu, Zayn langsung saja masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Qilla, ia masih terlelap dengan nyenyak di atas ranjang-nya.
__ADS_1
Hingga 30 menit berlalu dan Zayn menyelesaikan ritual berendam dan mandi nya.
Dan dengan jahil-Nya, Zayn membuka tirai dengan cepat dan dengan otomatis cahaya matahari langsung saja masuk dan menerpa wajah Qilla.
"Eummmm" lenguh Qilla dan menutup wajah-Nya dengan selimut.
"Sayang, bangun hei" ucap Zayn dengan tersenyum.
"Sebentar lagi ya, Mas. Aku lelah sekali" balas Qilla dengan menenggelamkan wajah nya di bawah guling.
"Yasudah" ucap Zayn
Lalu Zayn langsung saja berpakaian terlebih dulu dan setelah itu akan memesan makanan untuk makan siang mereka.
Zayn keluar dari kamar ganti dan melihat sang Istri yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Mas, tolong ambilin handuk" ucap Qilla dengan wajah polos nya.
"Mau mandi?" tanya Zayn lembut
Qilla menganggukan kepala nya, dan tanpa di duga sama sekali Zayn langsung menggendong-Nya.
Qilla langsung saja memeluk leher Zayn dengan erat karena terkejut dan takut terjatuh.
.
__ADS_1
.