Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
Extra Part


__ADS_3

Ardi dan keluarga duduk dengan di temani oleh keluarga Jelita dan Tuan Wira.


"Hmm, begini Tuan, Nyonya. Maksud kedatangan saya kesini bersama dengan orangtua saya, saya akan melamar Jelita untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anak ku kelak" ucap Ardi to the point.


Jelita melotot tak percaya, begitupun dengan Oma Fita. Sedangkan yang lainnya hanya bisa tersenyum kecil.


"Saya serahkan semua nya pada Jelita dan Tuan Wira" ucap Gibran tersenyum.


Tuan Wira menepuk pundak Gibran lembut, ia merasa terharu dengan semua keputusan Gibran.


"Bagaimana, Nak?" tanya Oma Fita.


Jelita menatap Ardi dan melihat ketulusan serta ke yakinan di mata nya. Lalu Jelita menganggukan kepala nya dengan malu-malu.


Ardi tersenyum bahagia dan ia langsung menatap Tuan Wira.


"Saya pun menyetujui nya, tolong jangan buat cucu gadis ku tersakiti dan menangis. Jika memang kamu yakin dengan Jelita, maka buktikanlah bahwa kamu pantas dengan menjaga nya" ucap Tuan Wira penuh ketegasan.


"Jangan sampai Kakak ku menangis ya, Dok. Sudah cukup selama ini dia selalu menangis karena penyakit nya dan jangan lagi ia biarkan menangis karena yang lainnya" ucap Farhan tegas.


"Aku tidak berjanji tetapi aku akan buktikan bahwa aku benar-benar serius dengan Jelita. Dan aku akan memjaga serta membahagiakannya" balas Ardi tak kalah tegas nya.


Tuan Wira dan yang lainnya tersenyum bahagia, lalu mereka memutuskan membahas tanggal pernikahannya.


"1 bulan dari sekarang berarti kalian akan melakukan pernikahan" ucap Oma Fita.

__ADS_1


"Iyaa Nyonya" balas Ibu Ardi sopan.


"Tidak usah sungkat, kalian itu sudah seperti keluarga bagi ku" ucap Oma Fita terkekeh.


Ibu dan Ayah Gibran ikut tertawa kikuk, ya memang hubungannya dengan Keluarga sangat baik.


Sedangkan Jelita, ia menunduk dengan wajah memerah nya. Ia tidak menyangka bahwa kehidupannya akan menjadi baik setelah pergi ke Negara tersebut.


"Ayo kita makan malam dulu" ajak Kania sopan.


Mereka mengangguk dan langsung mengikuti langkah Gibran selaku Tuan rumah disana.


Jelita tersenyum bahagia melihat keluarga nya berkumpul, hanya kurang Nenek, Kakek , Paman serta Bibi nya saja.


Setelah acara makan malam selesai, Ardi dan Kedua Orangtua nya memilih pamit undur diri karena sudah agak larut.


Sedangkan Oma dan Opa nya memilih akan menginap disana.


"Apa kamu bahagia, sayang?" tanya Oma Fita dengan lembut.


"Aku bahagia kok, Oma" jawab Jelita tersenyum malu.


"Oma berharap sekarang hanya akan ada kebahagian saja yang bersama mu, Nak" ucap Oma Fita lembut.


"Do'akan saja ya, Oma. Aku juga sudah bahagia dengan semua ini" balas Jelita.

__ADS_1


Kania tersenyum mendengar percakapan kedua nya.


"Kania, terimakasih kamu sudah mau merawat Cucu ku seperti Putri mu sendiri" ucap Oma Fita


"Jelita itu memang Putri ku, Nyonya. Aku sangat menyayangi nya sama hal nya pada Farhan. Aku tidak pernah membedakan ataupun apapun itu pada mereka berdua" balas Kania lembut.


"Dia itu sudah seperti permata bagi kami, Nyonya" ucap Kania kembali.


"Ahh aku terharuu" ceplos Jelita dengan tersenyum sambil meneteskan air mata.


Kania memeluk nya dan mengecup kepala nya dengan lembut.


"Aku sangat menyayangi Bunda" ucap Jelita lirih.


"Bunda juga menyayangi kamu, Nak. Jangan menangis lagi, sudah waktu nya kamu tersenyum" balas Kania mengusap air mata Jelita.


Oma Fita terharu melihat nya, ia bersyukur karena sang Cucu di didik dengan wanita yang lembut seperti Kania.


Lalu mereka memutuskan untuk tidur karena sudah larut malam. Oma Fita tidur bersama Jelita dan Opa bersama Farhan di kamar Farhan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2