Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
42


__ADS_3

Malam Hari.


Setelah bersiap Ayu dan El segera turun dari kamarnya. Di bawah Lana dan yang lainnya sudah menunggu.


Sebelum ke Bandara , Ayu dan yang lainnya makan malam terlebih dahulu.


"Maaf lama" ucap Ayu tak enak.


"Tidak apa , sayang" balas Bunda Rahma.


Lalu mereka memulai makan malam dengan tanpa bicara apapun.


Setelah selesai , Ayu dan El di antarkan oleh Lana ke Bandara.


"Kalian hati-hati dan jangan lupa cucu untuk, Ayah" goda Ayahnya dengan tersenyum.


"Siap akan aku berikan" balas Elgaza terkekeh.


"Ihhhh Ayah" rengek Ayu malu.


Hahaha mereka tertawa karena senang melihat wajah Ayu yang sudah memerah.


"Hati-hati ya" ucap Bunda memeluk Ayu dan El bergantian.


"Iya, Bunda. Kalau begitu kami berangkat dulu" balas Ayu


El menggandeng tangan Ayu dan membawanya masuk ke dalam mobil yang sudah Lana siapkan.


Lana di bantu oleh pengawal memasukan koper Tuan dan Nyonya nya.


Lana melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena jarak ke Bandara hanya 30 menit dari sana.


-Bandara-


Ayu , El dan beberapa pengawal masuk kedalam pesawat pribadi Ardmaja.


El menyuruh Ayu untuk beristirahat di dalam kamar yang ada di kamar tersebut.


Sedangkan El akan berbicara terlebih dahulu dengan para pengawalnya.


Ayu merebahkan tubuh lelahnya dan tak lama kemudian dia sudah terlelap dengan pulas.


El masuk setelah selesai berbicara dengan pengawalnya. Ia naik ke ranjang dan merebahkan tubuh di sisi Ayu.


El memeluk tubuh wanita yang di cintainya dan ikut terbang ke alam mimpi.


**


Pulau Negara B.


Jam 10 pagi mereka baru saja sampai di Pulau pribadi milik El. Ayu berjalan ke luar pesawat yang langsung suguhi oleh keindahan Pulau tersebut.


"Wahh indah sekali" Ucap Ayu terkagum-kagum.


"Ayo sayang kita ke Villa dulu" Ajak Elga lembut.


Lalu Ayu beriringan melangkah ke arah Villa yang sangat elegant di depan Villa tersebut terlihat pantai buatan yang seperti pantai asli.


Ayu dan El membersihkan diri terlebih dahulu dan bersantai di balkon kamar.


El membawa Bibi pengasuh dan beberapa pengawal kepercayaannya. Tidak banyak yang tahu dengan Pulau tersebut hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya.


"Apa kau suka sayang" Tanya Elga memeluk Ayu dari belakang.

__ADS_1


"Ya disini sangat sejuk bahkan sangat tenang" Jawab Ayu mengelus lengan El yang berada di perutnya.


Ayu menikmati pelukan hangat dari El meski jantungnya sedang berdisco.


El membalik tubuh Ayu dan memeluknya dari depan. Jujur saja Ayu merasa jantung nya akan meloncat saat ini.


El menyatukan keningnya dengan milik sang istri, lalu tangannya mengangkat dagu mungil istrinya.


Ayu mendongkak dan menatap bola mata El yang sangat jernih. El mencium kening , kedua mata dan turun ke bibir mungil yang selalu menggodanya.


Awalnya El membiarkan bibir tersebut hanya menempel tetapi lama kelamaan El melu*atnya dengan lembut.


Ayu membalasnya dengan kaku, karena setelah 1 tahun lebih ia baru merasakan kembali yang namanya berciuman.


El duduk dan mendudukan Ayu di pahanya. Ayu mengalungkan tangan ke leher El. Tangan kanan El memeluk pinggang ramping Ayu, sedangkan yang kiri sudah berkelana.


"Hmmmpppttt" desah Ayu saat tangan nakal El menyelinap ke dalam dressnya.


"Boleh?" Tanya Elga dengan serak


"Tapi pelan ya" Pinta Ayu dengan malu.


El mengangkat tubuh Ayu dan mereka masuk ke kamar. El merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati lalu ia menindihnya dan mencium kembali bibir candunya.


El memberikan pemanasan agar Ayu rilexs dan tidak terlalu tegang.


El membuka resleting dress Ayu dan menandaskannya. Ia menelan ludah saat melihat tubuh mulus istrinya yang tanpa cacat.


Lalu El membuka penghalang di tubuhnya, Ayu memalingkan wajah saat melihat belalai yang sudah tegak itu.


El menutup tubuh Ayu dan dirinya dengan selimut tebal itu. El membuka penutup puncak dada dan goa yang akan ia rasakan.


Dengan rakus el mengecap hampir semua lekuk tubuh Ayu. Ayu meremas rambut belakang El saat El bermain di dadanya.


El memberi jejak kepemilikan di dada dan leher jenjang Ayu yang sangat jelas karena kulitnya Putih.


"Sekarang ya" Ucap El dengan sorot mata sayu.


"Hmmm" Angguk Ayu dengan bersemu merah karena malu.


Lalu El menyatukan miliknya dengan milik Ayu. El agak kesulitan karena Ayu sudah lama tidak melakukan hubungan intim.


"isshhhhh" Rintih Ayu.


El mencium bibir Ayu agar membuatnya rilexs. Dalam satu hentakan El sudah masuk dan mendiamkan dulu beberapa menit.


Lalu dengan semangat ia memompa belalainya tetapi masih lembut.


Setelah beberapa menit berlalu Ayu mengalami puncaknya dan El membiarkannya dulu. Setelah itu El kembali menghantakan miliknya.


El menghentakan dalam-dalam miliknya saat sampai puncak pertamanya. Ia berharap bahwa akan ada segera sosok nyawa di rahim istrinya.


Ayu dan El entah berapa kali melakukannya sampai Ayu meminta agar El berhenti karena ia merasa lelah.


Mereka baru berhenti dan memulihkan tenaga nya kembali saat jam menunjukan angka 02 siang.


El menggendong Ayu dengan bride style ke kamar mandi. El dan Ayu melakukannya lagi 1 jam di kamar mandi. Ayu hanya pasrah dan membiarkan El yang memandikan bahkan sampai memakaikan baju.


Ayu terlelap saat sudah selesai berpakaian dan El menyelimutinya. El ikut terlelap dengan memeluk Ayu dengan erat.


"Terimakasih , aku sangat mencintaimu" Ucap El dan terlelap.


.

__ADS_1


***


Sedangkan di belahan dunia lainnya. Gibran dan Putri sedang bertengkar hebat karena Gibran melihat Putri bermesraan dengan lelaki lain.


"Memang sekarang aku sudah miskin, tapi lihat aku sudah mulai kembali merintis usahaku kembali harusnya kau mendukungku bukan malah selingkuh" Bentak Gibran.


"Aku bukan selingkuh, Gib. Tapi aku sedang merayu nya agar dia membutuhkan aku dan aku bisa meminta uang padanya" Teriak Putri dengan emosi meluap.


"Apa kau bilang? Ingat Put kau bukan wanita murahan yang akan memuaskan nafsu lelaki lain agar mendapat uang" Bentak Gibran kembali.


"Terserah tapi aku sudah lama melakukan itu bahkan saat dulu di Kota M" Ucap Putri keceplosan.


Gibran langsung melotot dan menggebrak meja makan.


"Apa yang kau ucapkan hah? Apa jangan-jangan Jelita bukan anak kandungku" Tanya Gibran dengan menahan emosi.


"Ti tidak , dia anak ka kandungmu" Gugup Putri


"Jawab dengan jujur , Putri" Teriak Gibran dengan mengcengkram tangan Putri erat.


Putri langsung meringis kesakitan saat tangannya di cengkram erat oleh Gibran.


"Gib, sa sakit" Rintih Putri yang sudah berkaca-kaca.


"Jawab , apakah Jelita anakku atau bukan?" Tanya Gibran penuh dengan tekanan.


"Lepaskan dulu, Gib" Mohon Putri terisak.


Lalu Gibran melepaskan cengkraman tersebut. dan kembali duduk dengan deru nafas yang memburu.


"Jawab" Bentak Gibran membuat Putri ketakutan.


"Ya dia bukan anakmu, aku tak tau siapa ayahnya dan saat itu aku sangat mencintaimu dan prustasi saat kau merenggut kesucianku" Teriak Putri.


Gibran langsung menunduk lemas saat mendengar bahwa anak yang selama ini ia sayangi bahkan Gibran dengan teganya sampai membuat anak yang dalam kandungan Ayu keguguran demi untuk anaknya dari Putri.


"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini, Put?" Ucap Gibran lirih.


"Aku bahkan sampai rela berpisah dengan calon anakku demi kalian. Dan aku sampai menyakiti wanita yang sangat aku cintai" Ucapnya kembali.


"Kenapa Put kenapa" Teriak Gibran terisak.


Putri menunduk takut saat melihat sorot mata Gibran yang penuh dengan amarah.


"Maafkan aku" Ucap Putri pelan.


"Maaf kau bilang? Tidak ada guna nya!" Balas Gibran dengan dingin.


Lalu Gibran keluar dari Rumah tersebut dan pergi dengan perasaan kacau nya.


Gibran melajukan mobilnya tanpa arah lalu ia berhenti di pinggir jalan.


"Arrggghhh kenapa ini semua terjadi. Maafkan aku Ayu aku menyesal" Lirih Gibran terisak.


"Kenapa aku sampai tertipu oleh wanita seperti Putri. Dan kenapa aku tidak menyadari bahwa kau lah segalanya Ayu" Teriak Gibran prustasi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2