
Pagi ini Jelita berjalan-jalan di taman mansion keluarga Wira. Ia di temani sang Oma dan Sarah, Jelita berjalan sedikit demi sedikit hingga ia bisa berjalan kembali dengan lancar.
"Duduk dulu, yu" ucap Jelita.
Sarah mengangguk dan langsung duduk di kursi yang ada disana.
"Kapan kamu cekup sayang?" tanya Oma
"Bulan depan, Oma. Apa Oma mau ikut?" tanya Jelita balik.
"Boleh, nanti kamu kabarin Oma saja" jawab Oma Fita.
Jelita mengangguk, lalu mereka masuk karena hari sudah siang. Mereka akan membersihkan tubuh nya lalu sarapan pagi.
"Makan yang banyak ya, dan jangan lupa minum obat nya" ucap Oma dengan lembut.
"Iyaa Oma" balas Jelita.
"Bun, aku sama suami dan sarah akan pulang besok" ucap Hana.
"Loh kok cepet banget" lesu Oma
"Iyaa Bun, soal nya pekerjaan aku sudah menanti. Jika libur kami akan kesini lagi" ucap suami Hana.
Oma hanya menganggukan kepala saja, ia tidak bisa melarang nya karena ia juga sangat mengetahui pekerjaan suami Hana sangat banyak.
"Oma kan ada aku yang nemenin" hibur Jelita tersenyum.
Oma Fita langsung mengangguk tersenyum dengan manis.
"Nanti ajak jelita kesana, Ayah" ucap Hana.
"Iyaa, Nak" balas Ayah Wira.
Setelah selesai sarapan, Jelita pamitan untuk pulang ke Apartemen Bunda dan Ayah nya.
__ADS_1
"Hati-hati, besok kesini lagi" ucap Oma dengan memeluk Jelita erat.
"Iya Oma, yaudah aku berangkat dulu" pamit Jelita.
Lalu Jelita masuk ke dalam mobil yang sudah di sediakan oleh sang Opa, bahkan sopir nya pun sudah ada.
Jelita melambaikan tangannya pada keluarga baru nya. Lalu ia merebahkan kepala nya pada sandaran kursi mobil.
"Apa Nona tidak kenapa-napa?" tanya sopir dengan khawatir.
"Tidak Pak, aku hanya bahagia saja" jawab Jelita tersenyum.
"Apalagi mereka, Non. Mereka bahkan sudah sangat lama mencari keberadaan Nona" ucap sang sopir.
"Mungkin takdir hidup ku yang harus begini kali ya Pak" balas Jelita lirih.
"Jangan sedih, Non. Semua nya sudah baik-baik saja sekarang, bahkan kebahagian Nona sedang menanti" ucap sopir tersenyum.
Jelita mengangguk dan menatap ke arah luar jendela mobil.
Jelita melangkahkan kaki nya dengan sangat anggun ke arah lift. Lalu ia menekan tombol lantai yang di huni nya.
Hari ini adalah weekend , jadi Jelita sengaja pulang hari ini karena ingin menemani Farhan.
Bahkan ia pulang juga tidak memberitahu yang lainnya.
Ting.
Jelita langsung keluar dan melangkahkan kaki nya ke Apartemen keluarga nya.
Tok Tok.
Jelita menunggu di depan pintu dengan tersenyum.
Ceklek.
__ADS_1
"Kakak" panggil Farhan dengan bahagia.
Lalu Farhan memeluk Jelita dengan sangat erat.
"Aku merindukan Kakak" ucap Farhan lirih.
"Nak, siapa yang datang" ucap Kania dari dalam.
Farhan lalu mengajak sang Kakak masuk, Gibran dan Kania langsung saja tersenyum lebar pada Jelita.
"Nak" ucap Kania memeluk Putri nya, begitupun dengan Gibran.
"Emang udah kuat jalan sendiri?" tanya Gibran
"Udah Ayah, aku udah sembuh kok" jawab Jelita terkekeh.
Gibran mengangguk dan mengajak mereka duduk di ruang tamu.
"Kebetulan sekali, Bunda sedang membuat Cake kesukaan kalian" ucap Kania
"Horeeee" pekik Farhan dan Jelita senang.
Sedangkan Gibran, ia menggelengkan kepala nya melihat tingkah berdua.
Jelita lalu menceritakan bagaimana keluarga Ayah nya yang sangat baik dan menyayangi nya.
"Ayah tidak akan melarang kamu mau tinggal disana, karena itu juga keluarga kamu, Nak" ucap Gibran lembut.
"Aku akan tinggal dengan adil, Ayah" balas Jelita tersenyum.
Gibran mengangguk dengan tersenyum lembut. Lalu mereka melanjutkan kembali berbincang nya.
.
.
__ADS_1
.