
Setelah permasalahan Reno selesai, Qilla di sibukan dengan berbagai pekerjaan yang mengharuskannya kesana kesini.
Bahkan Qilla harus sampai ke luar kota, tetapi ia tetap bersama Zayn begitupun sebalik nya.
Hubungan kedua nya adem anyem saja, karena Zayn tidak terlalu menuntut apapun dan begitu pun dengan Qilla.
Seperti saat ini, Qilla dan Zayn sudah bersiap untuk keluar kota. Kali ini, Qilla yang menemani sang Suami melakukan perjalanan bisnis.
"Sudah siap sayang?" tanya Zayn dengan membetulkan letak jam tangannya
"Sudah Mas, ayo pergi" jawab Qilla.
Zayn lalu merangkul pinggang Qilla, mereka keluar kamar dan menuju ke lantai bawah.
Di bawah, Galih sudah menunggu untuk memberikan beberapa berkas nya.
"Selamat pagi, Tuan , Nona muda" sapa Galih dengan sopan.
"Tuan, ini berkas yang nanti akan butuhkan disana" ucap Galih kembali sambil memberikan berkas nya pada Zayn.
"Terimakasih, Galih. Aku titipkan perusahaan padamu" balas Zayn dengan tegas.
"Baik Tuan, hati-hati di jalan" ucap Galih dengan membungkukan sedikit badannya.
"Kami pergi dulu, Galih" ucap Qilla.
"Hati-hati Nona" balas Galih.
Qilla dan Zayn lalu pergi dari sana dengan sang sopir yang merupakan anak buah nya sendiri.
Zayn membukakan pintu mobil untuk sang Istri, setelah itu baru ia masuk ke dalam.
__ADS_1
"Jalan" ucap Zayn.
Sopir hanya menganggukan kepala saja, setelah itu ia melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.
Zayn langsung menutup tirai antara diri nya dengan kursi depan.
Qilla menatap sang Suami dengan tatapan bingung nya.
"Kenapa di tutup?" tanya Qilla.
Zayn hanya tersenyum dan memeluk Qilla dengan erat. Bahkan Zayn memindahkan duduk Qilla ke atas pangkuannya.
"Aku ingin bermanja" rengek Zayn dengan menguselkan kepala nya di dada Qilla.
"Ya ampun bayi besar aku" ucap Qilla dengan tertawa pelan.
Zayn hanya diam saja, ia masih anteng dengan mainnan kesukaannya.
"Mas, ini di mobil" ucap Qilla dengan menahan wajah Zayn yang akan bermain di dada nya.
"Hanya ini saja sayang, aku haus" balas Zayn dengan memelas.
"Haus ya minum sayang" ucap Qilla dengan sabar.
"Sayang" rengek Zayn dengan wajah memelas nya.
Qilla hanya bisa menganggukan kepala saja, ia tidak tega jika harus melarangnya pun.
Dan dengan semangat nya Zayn langsung memainkan gunung kembar Qilla.
Sedangkan Qilla, ia hanya bisa pasrah dan sesekali menggeliatkan badannya.
__ADS_1
"Kenapa akhir-akhir ini kau sangat manja sekali, Mas" ucap Qilla dengan heran.
Zayn hanya mengangkat bahu nya tanda tidak tahu menahu.
Usia pernikahan Qilla dan Zayn memang sudah menginjak 3 bulan, dan bahkan 1 bulan terakhir ini Zayn sangat manja pada Qilla.
Setelah puas dengan mainannya, Zayn membenarkan kembali pakaian Qilla.
"Puas?" tanya Qilla dengan ketus.
"Kurang sih, hehe" jawab Zayn dengan santai nya sambil cengengesan.
"Dih, dada aku sudah tegang begini" gerutu Qilla dengan pindah duduk nya ke samping Zayn.
"Sebelum kita punya babby, sayang" ucap Zayn memeluk Qilla.
"Iyalah, saat itu kamu tidak akan kebagian selama hampir 2 tahun" balas Qilla tersenyum kecil.
"Aku akan mencuri nya malam hari" ucap Zayn dengan terkekeh.
"Ya ampun Ayah tak ingin kalah" balas Qilla dengan tertawa.
Zayn pun ikut tertawa dengan renyah bersama Qilla. Mereka menikmati perjalanan nya dengan sesekali bercerita dan menggoda hingga menimbulkan tawa yang cukup renyah.
Anak buah Zayn yang menyopiri mobil tersebut pun ikut tersenyum kecil saat mendengar tawa sang majikan.
.
.
.
__ADS_1