Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
S2


__ADS_3

Setelah Ikmal menceritakan semua nya, Ia merasa sangat pesimis dengan mendapatkan pendamping dari Pesantren.


"Pak Ustadz , apakah masih pantas jika saya mengharapkan seorang istri dari peaantren ini? Ahhh saya merasa pesimis" ucap Ikmal mencairkan suasana.


'Kasihan sekali , padahal niat nya baik tetapi budaya di luar memang begitu' batin Keila


Keila hanya diam mendengarkan saja, ia juga sama mempunyai masalalu yang kelam sebelum kesini.


Ikmal menatap Keila yang memang sejak tadi mencuri pandangannya.


Pak Ustadz tersenyum tipis melihat interaksi kedua nya.


"Kei, apakah kamu bersedia menerima Nak Ikmal? Umurmu sudah matang dan kamu sendiri barusan mendengar bukan bagaimana kisah Nak Ikmal" ucap Pak Ustadz dengan to the point.


Ikmal memegang tangan Ibu Susi, ia merasa sangat cemas. Ia tidak tahu bahwa wanita yang di hadapannya akan menerima atau bahkan menolak mentah-mentah.


Keila menghembuskan nafas dan ia menatap istri Ustadz tersebut lalu menatap Ikmal sebentar.


"Beri aku waktu 3 hari, Pak. Aku akan melakukan shalat istikharah terlebih dahulu, jika memang Mas Ikmal adalah jodoku aku tidak akan menolak aku akan menerimanya dengan lapang dada" balas Keila lembut.


Ibu Susi mengusap tangan Ikmal dengan lembut , ia tersenyum supaya menenangkan Ikmal.


"Baiklah, jika sudah ada jawaban saya akan mengabari Ibu anda, Nak" ucap Pak Ustadz.


"Jangan karena terpaksa, jika memang kita tidak ada jodoh saya mohon jangan di paksakan ya. Lebih baik kamu jujur saja" ucap Ikmal pada Keila lembut.


"Iya Nak, kami tidak akan memaksa mu. Jika berjodoh dan kamu menerima nya , Ibu dan Ikmal akan merasa bahagia, tetapi jika kamu menerimanya karena paksaan Ibu dan Ikmal akan merasa bersalah" timpal Ibu Susi tersenyum.


Keila membalas senyuman Ibu tersebut dan menganggukan kepala.


"Kalau begitu , kami permisi dulu" ucap Ibu Susi.


"Baiklah, hati-hati di jalan" balas Pak Ustadz.


Lalu Ikmal menyalami Pak Ustadz dan tersenyum ke arah Keila.


Ikmal dan Ibu langsung berjalan ke arah mobil yang terparkir disana.

__ADS_1


"Nak, kita ke Toko dulu saja" ajak Ibu Susi.


"Baiklah, Bu. Sekalian kita makan malam di sana ya" balas Ikmal lembut.


Bu Susi langsung masuk ke dalam mobil. Mereka akan mencari terlebih dulu restoran.


Ikmal mengemudi dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia menghembuskan nafas kasar dan menyugar rambut nya.


"Nak , apapun jawabannya nanti kamu harus menerimanya dengan Ikhlas ya" ucap Bu Susi lembut.


Ikmal menengok dan kembali lagi fokus ke jalan.


"Iya Bu, aku akan Ikhlas menerimanya" balas Ikmal.


"Oh iya Bu, besok aku akan ke Negara T, aku akan mengunjungi makam Putri dan menemui Tuan Elga" ucap Ikmal.


"Baiklah, hati-hati dan sampaikan salam Ibu pada mereka" balas Bu Susi.


Ikmal mengangguk dan membelokan mobilnya ke Restoran siap saji. Ia akan membeli makanan untuk makan malam di Toko bersama Ayah dan Ibu.


✴✴✴


Saat ini Kafka sudah mulai bekerja, ia akan lebih giat bekerja karena Kafka ingin segera menikahi Delisa.


Kafka awalnya sangat cuek pada Delisa , tetapi hingga ia melihat bagaimana Delisa yang ketakutan saat para Preman akan melecehkannya.


Delisa berjalan dengan pakaian sederhana nya. Ia menemui resepsionis terlebih dahulu.


"Maaf mbak di lantai berapa ruangan Pak Kafka?" tanya Delisa.


Resepsionis tersebut menatap Delisa dengan tatapan merendahkan. Ia melihat penampilan Delisa yang sangat sederhana.


"Apakah kamu pembantun nya?" tanya Resepsionis dengan merendahkan.


Delisa menunduk dan meremas papperbag yang ia bawa.


"Sudah sana , Pak Kafka tidak akan menemui gelandangan sepertimu" ledek teman nya dengan tertawa sinis.

__ADS_1


"Sayang" panggil Kafka saat keluar dari lift.


Delisa berbalik dan menatap Kafka dengan tersenyum tipis.


Kafka mengeryit heran saat melihat wajah sedih yang sangat terlihat di wajah Delisa. Lalu ia melihat pegawai nya yang berbisik tentang Delisa dan Resepsionis yang terlihat ketakutan.


"Kenapa tidak langsung ke ruanganku, hm?" tanya Kafka lembut.


"A aku tidak tau ruanganmu" jawab Delisa gugup.


Kafka menatap tajam kepada Resepsionis yang tertunduk dengan gemetar takut.


Kafka langsung saja merangkul pinggang Delisa dan membawanya masuk ke dalam lift khusus.


"Kenapa , hmm?" tanya Kafka yang melihat Delisa hanya diam saja.


"Tidak apa, Ka" balas Delisa tersenyum kecil.


"Hei aku kenal denganmu bukan 1 atau 2 tahun sayang, aku tau kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku" ucap Kafka lembut.


Delisa menatap manik mata Kafka dan langsung memeluknya. Ia menangis terisak di pelukan Kafka.


Kafka memeluk lembut Delisa , ia sangat marah melihat Delisa yang menangis. Lalu ia menulis sesuatu di ponselnya dan mengirimkan kepada Asisten Pribadi nya.


Ting.


Kafka membawa Delisa langsung masuk ke ruangannya dan mendudukannya di sofa. Sela mengikuti dan melihat Delisa yang terisak.


"Kenapa? Pasti ulah dua resepsionis yang centil itu" ucap Sela dengan kesal.


"Sudahlah , mereka sudah di beri pelajaran oleh Asistenku" balas Kafka yang masih memeluk Delisa.


Sela langsung keluar dari sana , ia akan membiarkan Delisa lebih tenang dulu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2