Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
Extra Part (Jelita)


__ADS_3

Sesampai nya di Taman, Dokter Ardi memilih berhenti di kursi yang kosong dan sepi.


"Bagaimana kondisi mu saat ini?" tanya Dokter Ardi.


"Agak enak dari sebelum nya, hanya saja terkadang lemas" jawab Jelita.


"Aku kira kamu sudah sembuh saat kita bertemu dulu" ucap Dokter Ardi.


"Dulu aku tidak menyangka akan hidup sampai saat ini, aku hanya mengira akan cepat mati. Tetapi aku salah, aku bisa bertahan dan melihat bagaimana kedua orangtua ku sangat menyayangi ku. Dari sana lah aku bersemangat untuk bisa bertahan" balas Jelita tekekeh.


Dokter Ardi menatap Jelita yang sedang memandang jauh kesana.


"Aku selalu saja berjanji akan bertahan demi Ayah, Bunda dan Adik ku. Meski mereka bukan keluarga kandungku, tetapi aku sangat menyayangi mereka" ucap nya lagi.


"Sekarang kamu sudah sembuh total, hanya tinggal pemulihan saja. Aku harap kamu akan selalu bahagia, periang dan ceria. Jangan tunjukan sisi lemah mu pada siapapun kecuali padaku" ucap Dokter Ardi.


Jelita langsung menoleh dan menatap manik Dokter tersebut penuh dengan ke tegasan dan serius.

__ADS_1


"Maksud Dokter?" tanya Jelita.


"Kau tahu, sejak pertemuan saat itu aku mencari mu kemana-mana tetapi tidak ketemu. Bahkan setiap sudut kota di tanah air, aku menyuruh anak buah ku mencarimu. Hingga saat kemarin aku memilih menyerah tetapi kamu datang dengan keadaan sangat menyakitkan. Aku bahagia bisa bertemu dengan mu dan aku merasa sakit saat melihat mu tidur dengan lelap nya" ucap Dokter Ardi dengan menatap Jelita


"Kamu tahu, aku sudah menyukai mu, menyayangi mu sejak pertama kali kita bertemu. Aku menginginkan mu untuk menjadi istri, ibu dari anak-anak ku" ucap nya kembali.


Jelita menatap dengan tak percaya ucapan yang keluar dari mulut Dokter Ardi.


Jelita memalingkan wajah nya dan menghela nafas kasar.


"Apa lagi saat ini aku membutuhkan uang yang tidak sedikit demi kesembuhan ku, aku tidak mau di sebut memanfaatkan keadaan" ucapnya lagi.


"Aku pun sama seperti mu, berharap suatu saat bisa bertemu dengan mu dan bisa bersanding dengan mu. Tetapi itu hanyalah angan ku saja, Dokter" lanjut Jelita dengan nanar.


Dokter Ardi langsung berjongkok di hadapan Jelita, tangannya langsung mengusap lembut air mata yang sudah menetes.


"Aku tidak peduli apapun tentang omongan orang lain, yang aku pedulikan adalah aku akan bahagia bersamamu. Aku mohon jangan berbicara seperti itu, aku sungguh mencintai dan menyayangi mu, Jel. Aku akan selalu bersama mu suka maupun duka, dan aku pun ingin kamu juga seperti itu" mohon Dokter Ardi dengan sangat serius.

__ADS_1


"Baiklah, tetapi jika kamu sudah tidak menginganku aku mohon kembalikan atau bicaralah dengan baik-baik" putus Jelita dengan yakin.


"Itu tidak akan mungkin, terimakasih aku sangat mencintai mu" ucap Dokter Ardi dengan bahagia.


Lalu Dokter Ardi memeluk dan mengecup kening Jelita beberapa kali. Bahkan wajah Jelita sudah sangat merah karena malu.


"Ishh sudah, Dok. Malu" cicit Jelita dengan menunduk.


"Aku sangat bahagia" ucap Dokter Ardi dengan terus tersenyum.


Lalu mereka memilih untuk kembali ke ruangan Jelita karena hari sudah mulai siang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2