
Sudah 2 hari keadaan Delisa semakin hari semakin memburuk. Bahkan Kafka sudah mendatangkan Dokter terbaik untuk menangani Delisa tetapi hasilnya nihi. Seolah menolak sembuh tubuh Delisa.
"Del, aku ikhlas jika memang kau ingin meninggalkan ku. Aku tau ini sangat sulit untukku bahkan aku sakit merasakannya. Tetapi aku sadar bahwa semua nya akan kembali padanya" ucap Kafka dengan nada tercekat bahkan air mata sudah menetes.
"Jika memang kamu lelah , pergi lah sayang. Aku Ikhlas dan semoga kamu sembuh dari segala sakit yang kau derita" ucapnya lagi.
Kafka menunduk dan melepaskan tangan Delisa. Lalu ia melangkah ke luar ruangan.
Setelah Kafka ke luar , Delisa mengeluarkan air mata nya.
-Siang Hari.
Di ruangan Delisa , Keila berteriak memanggil suami nya.
Ikmal dan Kafka langsung masuk dan melihat tubuh Delisa yang kejang. Kafka langsung memencet tombol darurat.
"Dek, Mbak mohon sadarlah" ucap Keila terisak.
Tak lama kemudian tim Dokter langsung masuk dan menyuruh yang lainnya menunggu di luar.
"Aku mohon selamatkan Adikku" ucap Ikmal
Kafka hanya menatap dengan penuh kosong, bahkan tubuhnya pun seolah mendadak lemas tak berdaya.
Ikmal langsung memberitahu Ayu dan Elga. Karena mereka baru saja pulang ke mansion Ikmal.
Kafka duduk dengan memejamkan matanya. Ia menghembuskan nafas kasar.
"Jika memang ingin kembali , kembalilah Del. Tetapi jika menyerah, aku ikhlas kamu pergi , Del" batin Kafka
__ADS_1
Ayu , Elga dan Qilla baru saja sampai. Ayu langsung memeluk tubuh tegap Putranya.
"Mommm , aku sakit" lirih Kafka dengan meneteskan air mata nya.
Elga menepuk pundak Kafka dengan pelan. Ia tahu sudah beberapa hari ini dia tersiksa.
Ceklek.
Dokter keluar dengan wajah menunduknya.
"Tuan , maafkan saya karena tidak bisa menyelamatkan , Nona" ucap Dokter Aji dengan penuh penyesalan.
Kafka langsung masuk ke ruangan rawat Delisa dengan penuh air mata. Keila langsung pingsan saat mendengar bahwa sang Adik telah meninggal.
Ayu , Elga dan Qilla langsung menyusul Kafka ke ruangan Delisa. Terlihat disana , Kafka sedang menangis pilu dengan memeluk tubuh kaku Delisa.
Perawat da yang lainnya membiarkan terlebih dulu agar Kafka dan keluarga nya disana.
Kafka mencium kening Delisa lembut. Elga memegang pundak Kafka dengan lembut. Kafka menangis di pelukan Elga dengan pilu.
Kafka merasa dada nya sesak saat melihat tubuh yang biasanya ceria , tegar dan kuat kini menjadi kaku dan tidak ada lagi senyumannya.
Elga menepuk punggung Kafka dengan lembut.
"Sabar dan Ikhlas. Daddy yakin kamu pasti kuat, Nak" ucap Elga dengan lembut.
Kafka hanya terisak dengan tubuh yang bergetar. Bahkan Qilla pun ikut menangis di pelukan sang Mommy. Qilla merasa sangat kehilangan Delisa karena ia juga sangat dekat calon kakak iparnya itu.
Sedangkan di Negara T. Sela , Raka , Retika dan Andi sudah bersiap untuk ke Negara I. Mereka sangat syok saat mendengar kabar Delisa yang meninggal.
__ADS_1
Bahkan Sela dan Retika menangis sepanjang jalan. Mereka sangat tidak menyangka pada sahabat baik , lembut , ramah dan selalu periang itu kini sudah tiada.
"Kenapa Delisa tidak memberitahu kita bahwa dia punya penyakit yang berbahaya. Kita kan bisa membantu nya , Hiks" ucap Retika di dalam pelukan Andi.
"Sabar , kami juga sama hal nya denganmu, Tika. Tapi aku lebih kepikiran ke Kafka. Dia pasti sok tegar padahal dia sendiri rapuh" ucap Sela dengan sendu.
"Hmmm kau benar , padahal mereka sudah berencana akan menikah sebentar lagi" timpal Raka dengan menatap ke arah luar jendela.
Bahkan Oma dan Opa nya pun sudah terbang dari tadi karena mereka juga sangat kaget saat mendengar calon cucu menantunya meninggal.
Apalagi Oma Kafka , dia menangis di pelukan sang suami , ia sangat tahu bagaimana Kafka yang sangat mencintai Delisa itu.
Bahkan setiap saat ia akan menceritakan tentang Delisa pada sang Oma. Ia yakin bahwa saat ini Kafka sedang sangat terpukul.
Saat ini di kediaman Ikmal sudah banyak pelayat bahkan para santri dan pengurus pesantren ikut serta disana.
Delisa yang memang sudah beberapa bulan selalu aktif di pesantren , bahkan ia menjadi tenaga pengajar dengan sukarela.
Jadi semua santri merasa kehilangan dengan tiada nya Delisa.
Kafka pergi ke kamar yang biasa ia tinggali saat berada di kediaman Ikmal. Ia langsung masuk ke kamar mandi dan langsung menyalakan shower.
"Arrggghjhhhhhh" teriak Kafka dan ia meninju tembok di kamar mandi.
"Kenapa semua nya terjadi , aku baru saja merasa bahagia tetapi kini semua nya hilang sudah. Kenapaaaaaaa" teriak Kafka dengan pilu.
Ia merasa dirinya tidak berguna. Bahkan ia menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Delisa, jika saja ia tidak lalai mungkin Delisa masih ada di sisi nya.
.
__ADS_1
.
.