Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
S2


__ADS_3

Mereka berkumpul di ruang keluarga. Ayu dan Elga akan membahas Kafka yang akan menjadi CEO di Ardmaja.


"Retika , bagaimana kabar Ayah , Bunda mu?" tanya Ayu


"Ah iya, bagaimana kabar Malik dan Gina, Nak?" timpal Elga


"Mereka baik Om , mereka juga mengirim salam untuk kalian" balas Retika tersenyum.


"Ohh iya Tante, kata Bunda Amanda gaun yang tente pesan sudah jadi" ucap Raka yang baru saja dapat chat dari Bunda nya.


"Ahhh baiklah , besok Tante akan kesana" balas Ayu terkekeh.


"Abang apa mau ada yang di jelaskan?" tanya Elga dengan serius.


Kafka menghela nafas dan menggenggam tangan Delisa.


"Delisa ini sahabatku saat SMA dulu, Dadd. Dia hanya orang biasa , orangtua nya pun sudah meninggal dan saat ini dia menjadi guru Honorer di sekolah tempat Qilla bersekolah. Abang sudah menyuruh untuk menemui Sela agar bekerja di Ardmaja tetapi dia tidak mau" jelas Kafka dengan tenang.


"Ya dan pada saat kita berlibur ke mansion Oma , Sela dan Raka , Aku dan Delisa , Retika dan Andi pergi ke pantai dan dari sana kita menjadi pasangan" kekeh Kafka dan mendapat cubitan di pinggangnya.


"Sakit" keluh Kafka merajuk pada Delisa.


"Mulai" ledek Raka dan Sela.


Lana datang dengan beberapa berkas di tangannya. Ia meletakannya di atas meja dan mulai berbicara penting.


Delisa selalu menunduk ia merasa tidak pantas dengan Kafka. Ia juga sering merasa minder saat sedang berkumpul dengan mereka.


Bagaimana tidak , Sela adalah Putri dari Lana sang sekertaris terkenal. Retika Putri dari pengusaha Malik, Raka Putra dari Amanda dan Andi Putra dari Kakak angkat Ayu.


Tetapi mereka tidak memandang Delisa dengan rendah , tapi mereka selalu menganggap biasa saja.


Hampir tengah malam mereka baru selesai membahas masalah tersebut.


Ayu melarang Delisa untuk pulang , bahkan mereka menginap di mansion tersebut. Retika , Sela dan Delisa satu kamar di kamar Qilla , sedangkan Raka ia akan tidur di kamar Kafka.

__ADS_1


Tetapi Kafka membawa Delisa ke kamar nya.


"Kamu tidur disini saja ya, biar aku dan Raka yang tidur di kamar tamu" ucap Kafka lembut.


"Ta tapi


"Tidak ada penolakan" tegas Kafka.


Retika dan Sela langsung terkekeh saat melihat wajah Delisa yang bingung.


"Tidak apa, Nak. Pergilah sana istirahat" ucap Ayu lembut.


"Hmmm ba baiklah , Tante" pasrah Delisa.


Setelah Ayu pergi mereka langsung masuk ke kamar yang sudah di beritahu oleh Ayu. Delisa merebahkan tubuhnya di ranjang size Kafka, ia lalu terpejam karena merasa sangat mengantuk.


Tengah malam , Delisa merasa ada yang mengelus lembut pipi nya. Ia mengerjapkan mata dan perlahan membuka mata nya.


"Kafka" lirih Delisa


Lalu Kafka mencium kilas kening Delisa. Kafka pergi keluar kamar tersebut dan Delisa kembali memejamkan mata nya.


Kafka masuk ke kamar tamu dan merebahkan tubuhnya di samping Raka. Ia mulai memejamkan mata nya.


-Pagi Hari.


Delisa membantu memasak di dapur dengan Ayu dan yang lainnya. Ia dengan cekatan memasak ini dan itu , Ayu di buat takjub dengan kelihaian Delisa.


"Nak, kamu tinggal disini saja ya" ucap Ayu dengan antusias.


Vani menggeleng lemah melihat betapa Ayu sangat antusias.


"Sabar Mom, aku akan menikahinya dulu" celetuk Kafka dengan tenang.


Delisa hanya tersenyum malu dan menunduk. Ia merasa sangat malu dengan Orangtua Kafka.

__ADS_1


Delisa kembali memasak dan menata nya di meja makan. Elga melihat bagaimana Delisa yang sangat cekatan di dapur bersama sang istri.


Semalam dia sudah menerima laporan dari anak buah nya , bahwa benar adanya bahwa Delisa adalah anak baik-baik.


setelah selesai , mereka langsung memulai sarapan pagi dengan damai. Kafka di buat menambah kembali makanan saat lidahnya merasakan makanan hasil buatan tangan Delisa.


-Negara I


Di Negara inilah Ikmal dan Kedua Orangtua Putri sekarang tinggal. Ikmal membuka usaha kembali dengan modal yang ia punya.


Ikmal membuka kembali perusahaan dan ia membangunnya dari Nol. Ikmal merasa sangat beruntung karena Orangtua Putri sangat baik padanya.


"Nak , apakah kamu tidak ingin menikah kembali?" tanya Ayah Putri lembut.


"Huh, aku akan mencari yang cocok dulu, Ayah" jawab Ikmal tersenyum.


"Jangan selalu menolak, belajarlah membuka hati untuk wanita lain. Putri akan merasa kecewa denganmu, Nak. Umurmu sudah beranjak semakin tua" ucap Ibu setengah meledek nya.


Ikmal mendengus kesal tetapi ia juga tertawa mendengar celetukan Ibu nya tersebut.


"Doakan saja ya, Bu. Ingsaallah nanti aku akan menikah dan mengenalkannya pada kalian" jawab Ikmal dengan tegas.


"Apa perlu Ibu carikan di Pesantren?" usul Ibu Putri.


"Jika memang Ibu mau , silahkan saja. Tapi Ibu ceritakan semua masalaluku karena aku tidak ingin nanti dia akan kecewa" balas Ikmal lembut.


"Baiklah, nanti Ibu akan bertemu dengan Ustadz disana" ucap Ibu Putri tersenyum.


Lalu mereka melanjutkan kembali makan siangnya. Begitulah Ikmal , dia akan pulang jika sudah jam makan siang datang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2