
Ayu memeluk Tama sebelum dia melepaskan Kakaknya yang akan kembali terbang ke tempatnya. Saat ini Nadin tidak bisa di tinggal agak lama karena manja nya bukan main.
"Salam untuk Ayah dan Bunda ya, Kak" ucap Ayu sendu.
"Oke, jangan sedih nanti kasihan Deds bayi nya" bujuk Tama lembut.
"Hati-hati" ucap Elga melambaikan tangan saat Tama masuk ke dalam mobilnya.
Elga memeluk pinggang Ayu dan membawa ke ruang kerja nya.
"Apa kabar sayang, jangan buat Mommy kelelahan yaa, Nak" ucap Elga sambil mengusap lembut perut Ayu.
Ayu menikmati usapan di perut nya dengan menyenderkan kepala di dada bidang Elga. Tangan Ayu memeluk tubuh suaminya dengan nyaman.
Hingga tak terasa Ayu terlelap di pangkuan suaminya dengan dengkuran halus dari mulut mungilnya.
Elga terkekeh dan mencium kening Ayu. Lalu ia kembali membuka pekerjaannya yang tertunda.
Sesekali Elga mengusap punggung Ayu agar tidurnya kembali nyenyak. Ayu bahkan menyelusupkan wajah nya di leher Elga.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Elga membawa Ayu ke kamar yang ada di ruangan tersebut. Ia merebahkan tubuh Ayu dengan hati-hati lalu mencium perutnya.
Elga ikut merebahkan tubuhnya di samping Ayu dan tak lama kemudian ikut terlelap.
Sedangkan Lana dan Vani baru saja tiba di rumahnya. Vani memutuskan untuk ikut suaminya ke kantor sehabis makan siang.
Lana bermain dengan perut Vani yang sudah agak membuncit itu. Ia selalu mengusap ataupun menciumnya.
"Mass awas dulu, mau masak buat makan malam" ucap Vani mengusap lemut rambut Lana.
Lana bangun dan duduk berhadapan dengan Vani.
"Bagaimana kalau kita memanggil kembali Bibi Art sayang, hanya 1 saja untuk membantumu" tawar Lana dengan lembut.
Vani sebenarnya sudah lelah menolak keinginannya , tetapi ia juga tidak bisa memungkiri bahwa makin hari ia semakin gampang lelah.
"Baiklah, di dekat Kostan ku ada ibu-ibu seperti Bi sari yang membutuhkan pekerjaan. Aku akan menyuruh dia saja, tak apa?" pasrah Vani
__ADS_1
"Iya sayang, terserah kamu saja" senang Lana , ia mencium seluruh Vani hingga Vani tergelak.
✴✴✴
Negara T.
Tama baru saja tiba malam hari di mansionnya. Dengan sabar Nadin menunggu di ruang tamu bahkan sampai melewatkan jam makan malam.
"Kak, makan dulu yuk. Sebentar lagi Kak Tama juga sampai" bujuk Utari duduk di sampingnya.
"Nanti saja nunggu Kakak mu, Dek. Entah kenapa Kakak ingin sekali makan bersama dengan Kakak kamu" ucap Nadin dengan mengusap lembut perutnya.
Utari menghembuskan nafas dan pergi ke ruang makan sendiri.
"Mana Kakak ipar mu, Nak?" tanya Bunda Rahma
"Dia kekeuh ingin menunggu Kak Tama, Bun" jawab Utari duduk di samping suaminya.
Dengan telaten Pranss mengambilkan makanan untuk istrinya.
Mereka makan malam dengan penuh kehangatan keluarga tersebut.
"Massss" senang Nadin lalu memeluk Tama.
Tama terkekeh lalu membawa Nadin ke pelukannya dengan sayang.
"Pasti belum makan?" tebak Tama dengan gemas.
Bertepatan dengan itu, anggota yang lainnya baru saja selesai makan dan menghampiri mereka di ruang tamu.
"Dia nungguin kamu, cepat ajak makan kasihan" ucap Ayah Antoni menepuk pundak Tama.
Tama menatap tajam ke arah Nadin tetapi di balas dengan tatapan lucu oleh Nadin, sehingga Tama tidak bisa berkutik.
"Hahhh ayo makan dulu, kasihan Baby" ajak Tama dengan lembut.
Nadin menganggukan kepala dengan antusias. Lalu mereka izin pergi dari sana.
__ADS_1
Bunda duduk dengan Utari yang sudah memangku toples keripik.
"Ck, sayang baru saja selesai makan" ucap Prans menggelengkan kepala.
"Masih lapar, Bang. Ini anakmu makannya rakus banget" balas Utari terkekeh.
"Hei ada-ada aja kau ini" ucap Ayah Antoni tertawa kecil.
"Oh iyaa Ayah , Bunda apa kalian akan kesana saat Kakak melahirkan nanti?" tanya Utari
"Iya kami akan kesana tapi nanti saat Kakak kamu melahirkan dan kami juga tidak bisa lama disini Kakak iparmu juga akan melahirkan" jawab Bunda Rahma lembut.
"Hmmm sehat selalu, Bunda" manja Utari sambil memeluk Bunda nya.
Bunda membalas pelukan Utari dengan mengusap lembut rambut panjangnya.
Pranss dan Ayah Antoni hanya tersenyum saja melihat dua wanita kesayangannya.
Sedangkan Tama sedang menyuapi Bumil yang sangat manja sekali. Ia kadang rela tidak makan demi menunggu Tama kembali ke rumah.
"Mas , bagaimana keadaan Ayu?" tanya Nadin
"Dia baik-baik saja, sayang" jawab Tama mengusap bibir yang belepotan.
"Hmmm syukurlah, sebentar lagi dia akan melahirkan, lalu tak lama kemudian malaikat kita yang akan lahir" ucap Nadin berbinar.
Tama mengusap kepala Nadin dengan lembut.
"Iyaa , makanya kamu harus sehat sayang" balas Tama lembut.
Setelah selesai makan malam , mereka memutuskan untuk istirahat karena merasa badannya yang lelah.
Nadin menyiapkan pakaian ganti suaminya saat suaminya sedang mandi. Lalu ia mmerbahkan tubuhnya dan terlelap dengan pulas.
.
.
__ADS_1
.