Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
51


__ADS_3

Setelah semua anggota keluarga berkumpul , mereka langsung ke ruang makan. Ayu sudah menelan ludah kasar saat melihat rendang ayam yang sangat menggoda.


"Mas ambilin rendang nya" rengek Ayu karena rendang tersebut sudah di kuasai Utari.


Utari tersenyum mengolok sang Kakak yang kelihatan sekali ingin makan rendang tersebut.


"Utari" tekan Elga dengan mata tajam nya.


"Ck" decak Utari dengan malas.


Ayu tersenyum senang bahkan ia bertepuk tangan saking senangnya. Ia lalu mengambil nasi sedikit dan rendangnya agak banyak.


"Udah mas" stop Ayu saat Elga akan menuangkan lagi rendang nya.


"Hmmm, makanlah tapi pelan-pelan ya" lembut Elga.


Ayah Antoni sangat bahagia melihat Putrinya yang sangat di jaga bahkan di sayangi oleh Elga.


Mereka makan dengan lahap. Ayu bahkan sampai menambah makannya.


Elga tersenyum melihat Ayu makan dengan lahap , karena jaranh sekali Ayu makan sampai nambah seperti itu.


Setelah selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga.


Ayu mengambil Baby Raka yang sedang di gendong oleh Amanda. Baby Raka baru berusia 3 bulan, dia sudah bisa mengoceh walaupun tidak jelas.


"Lihatlah mas , lucu sekali bukan" ucap Ayu pada Elga. Elga mengusap pipi Raka dengan sayang , lalu beralih mengusap perut Ayu.


"Iya sayang, nanti kita juga punya yang kayak gini" balas Elga tersenyum.


"Iyaa mas , nanti Kak Tama dan Nadin. Noh tinggal si onoh aja yang belum karena gak laku" ejek Ayu pada Utari. Utari langsung melotot kaget.


"Heh aku laku ya kalau kalian lupa" cebik Utari


"Tapi gak nikah-nikah" celetuk Ayah Antoni dengan tersenyum.


"Ayahhh ihh kok gitu" rajuk Utari langsung menatap sang Bunda.


"Bunda gak ikutan, Dek" ucap Bunda Rahma santai.


"Aaa kalian jahat ya , aku bilangin sama calon suamiku ya" celetuk Utari dengan wajah di buat sok sedih.


Ayu tertawa puas karena ia bisa membalas memggoda Utari. Elga mengecup pucuk kepala Ayu karena merasa gemas.


Utari mencebik melihat ke uwuan pasangan tersebut.

__ADS_1


"Uluh uluh sini peluk dulu" ucap Ayah Antoni terkekeh.


Utari memeluk Ayah Antoni dan menjulurkan lidahnya pada Ayu.


"Ehh aku punya suami ya yang bisa kapan saja di peluk" balas Ayu dengan kesal.


Hahaha. Mereka semua tertawa melihat Ayu dan Utari yang berdebat.


"Semuanya , saya permisi dulu sudah malam" pamit Bu Yulia sopan.


"Tidak menginap saja?" tanya Bunda Rahma.


"Besok lagi saja Bu, Ayahnya Amanda sendiri di rumah" jawab Bu Yulia tersenyum.


"Baiklah , hati-hati di jalannya" ucap Bunda tersenyum.


Lalu Ayu dan yang lainnya mengantar keluarga Wibawa sampai keluar mansion.


"Besok main lagi ya, Bu" ucap Ayu manja.


"Iya nanti kesini lagi, sayang" balas Bu Yulia memeluk Ayu.


Lalu mereka masuk ke mobil yang di bawa Nicolass. Amanda melambaikan tangan pada keluarga Ayu.


Setelah keluarga Wibawa pergi , Ayu dan yang lainnya masuk untuk istirahat ke kamar masing-masing.


Elga terkekeh melihat kelakuan Ayu , sampai sandalpun belum ia lepaskan saking lelahnya. Elga membuka sendal dan menyelimuti Ayu. Lalu ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Ayu.


✴✴✴


Negara K.


Sudah 1 bulan sejak Tama dan Nadin menikah. Mereka semakin berani menunjukan ke uwuan nya di depan Pranss apalagi Utari nya sedang berkunjung ke mansion Ayu.


"Kalian bisa tidak jangan uwuan di sini" kesal Pranss melihat Tama yang bermanja pada Nadin.


Nadin tertawa kecil melihat wajah kesal sahabatnya tersebut.


"Iri bilang saja" celetuk Tama.


Ck! Decak Pranss lalu pergi keluar dari ruang keluarga ke halaman belakang.


Nadin tertawa ngakak melihat Pranss yang ngambek sampai keluar dari sana.


"Jahil banget ya" ucap Tama mencium gemas pipi Nadin.

__ADS_1


"Mas ih malu ada Bibi" gerutu Nadin. Para pelayan hanya mengulum senyum saja.


"Kapan Ayah dan Bunda pulang ya , mas. Aku rindu Bunda" sendu Nadin. Yaps dia sangat dekat dengan Bunda Rahma, bahkan Nadin suka berebut pelukan Bunda Rahma dengan Utari.


"2 hari lagi, sayang. Sabar ya" bujuk Tama dengan lembut.


"Hmmm, mas aku ingin makan rujak" ucap Nadin dengan menelan ludah.


"Sayang ini sudah malam loh , masa jam segini ingin makan rujak" bingung Tama dengan mengeryit.


Nadin pergi menghentakan kaki nya. Ia pergi ke dapur menemui pelayan disana.


"Bi" panggil Nadin.


Para pelayan yang sedang bekerja pun melihat Nadin datang dengan wajah kesal.


"Iya , Nona. Ada apa?" tanya pelayan tersebut.


"Bi , aku ingin rujak, apa ada buah-buahan di kulkas" ucap Nadin dengan berbinar.


Para pelayan saling pandang dengan wajah bingungnya.


Salah satu dari mereka membuka dan melihat apakah ada buah-buahan atau tidak. Lalu ia melihat ada mangga dan apel saja.


"Nona , hanya ada mangga dan apel di kulkas" ucap pelayan tersebut.


"Gapapa Bi, tolong buatkan sambal rujaknya ya" balas Nadin antusias.


Tama datang dan langsung duduk di dekat Nadin. Tetapi Nadin langsung pergi dengan wajah kesal.


Tama langsung menghampiri kembali Nadin dan memeluknya.


"Kenapa hmm? Maaf bukannya aku tak mau menuruti keinginanmu , tapi ini sudah malam dan aku takut kau sakit perut" lembut Tama yang masih memeluk Nadin.


Nadin membalik tubuhnya dan memeluk Tama dengam erat.


"Maafkan aku , aku tak tau tapi aku sangat ingin makan rujak, Hiks" ucap Nadin terisak.


Tama menangkup pipi Nadin dengan sayang lalu mengecup mata nya bergantian.


"Tidak apa , tapi jangan banyak-banyak ya, sayang" balas Tama dengan lembut.


Nadin mengangguk dan tersenyum. Lalu salah satu seorang pelayan membawa nampan yang berisi rujak dan minuman.


Nadin makan di ruang tamu yang di temani Tama. Nadin makan dengan lahapnya, bahkan Tama sampai menelan ludah kasar saat melihat mangga muda yang pasti masam.

__ADS_1


.


.


__ADS_2