Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
27


__ADS_3

Acara dari awal sampai akhir sudah selesai semua tamu undangan sudah kembali. Keluarga Ayu pun langsung pulang karena merasa lelah.


Sedangkan di Hotel. Putri sedang uring-uringan tak jelas, bahkan Jelita menangis pun ia malah bentak.


"Bisa diem gak si" Kesal Putri pada Jelita karena menangis.


"Harusnya kamu diemin Put, bukan malah di bentak begitu" Ucap Gibran dengan sinis.


"Mas aku tak mau tau pokoknya kamu harus membuat perusahaan Ayu jatuh atau bahkan di bawah kamu" Ucap Putri dengan enteng.


Gibran melotot tak percaya kenapa Putri bisa punya pikiran sampai kesana.


"Apa coba sekali lagi kau bilang, gila kali aku sampai membuat perusahaan Ayu jatuh bukan dia yang jatuh tapi malah aku yang akan gulung tikar" Balas Gibran dengan menahan emosi karena disana ada Jelita yang sedang di pelukannya.


"Pokoknya aku gak mau tau kamu harus lakuin itu, Mas. Kalau gak aku yang akan jatuhin wanita sialan itu" Kekeh Putri dengan semangat memburu.


Gibran pergi ke arah balkon dengan menggendong anaknya. Dia tak habis pikir dengan ucapan istrinya yang sangat tak masuk akal.


"Apakah aku salah memilih istri" Batin Gibran


Sementara Putri sedang menelpon seseorang dan menyuruh nya mencari tahu tentang Ayu semua nya.


Putri tersenyum miring karena ia yakin usaha nya akan berbuah hasil. Dia akan membuat Ayu jatuh di bawah nya kembali.


"Lihat saja , aku akan merebut kembali apa yang kau punya" Gumam Putri tersenyum.


***


Mansion Ardmaja.


El sedang membaca laporan tentang Ayu dari Lana. Ia sempat terkejut karena Ayu pernah mengalami stres berat selama beberapa bulan. Tapi itu tidak membuat dia merasa jijik ataupun berhenti untuk mengejar nya. El juga bahkan tahu bagaimana kehidupannya dulu saat menikah dengan Gibran.


"Aku akan menjadi kebahagian untukmu, Sayang" Lirih El dengan tersenyum.

__ADS_1


Lalu El langsung bangkit dan berjalan keluar dari kamar. Dia akan mencari udara segar di luaran sana.


El melajukan mobilnya ke arah danau yang berada tak jauh dari perumahannya.


Setelah sampai El langsung berjalan ke arah kursi yang disediakan disana. Ia duduk dan menghela nafasnya.


Netra mata nya melihat siluet wanita yang sudah beberapa bulan ke belakang ini mengganggu pikirannya.


El mendekati wanita tersebut dan terlihat dia sedang menatap danau dengan air mata yang menetes.


"Aku tau merelakan orang yang kita sayangi itu sangat susah. Apalagi ketika pengkhianatan yang kita dapat dari itu. Tapi kembali lagi pada kita , buat apa terus menangisi orang yang sudah berkhianat pada kita? Malah membuang waktu kita saja. Mending kita bangkit dan tata kembali masa depan" Ucap El dengan panjang lebar dengan menatap danau.


"Ya kau benar, aku begitu bodoh saat aku harus terus menerus memikirnya. Tapi ini air mata terakhir yang aku keluarkan untuknya. Besok akan aku balas atas apa yang mereka torehkan padaku" Balas Ayu dengan yakin. Ya wanita itu adalah Ayu.


Lalu Ayu menatap El dengan sorot mata tajam tetapi penuh dengan kekecewaan. Sedangkan El menatap Ayu dengan sorot mata yang teduh sehingga Ayu sangat betah menatapnya.


"Hemmm" Dehem El dengan tersenyum.


Lalu Ayu memalingkan wajahnya yang sudah merah karena malu. El hanya terkekeh saja melihat wajah yang sangat cantik itu.


"Ck, Tuan Muda yang kejam ini bisa juga lembut" Ledek Ayu dengan tersenyum.


"Hei mana ada aku Kejam" Balasnya dengan terkekeh.


Lalu mereka banyak bercerita tentang bisnis lalu tentang hobby dan yang lainnya. Hingga hampir larut salah satu Boddyguard Ayu mengajaknya untuk pulang.


"Kalau begitu aku pulang dahulu" Pamit Ayu lalu ia langsung berjalan meninggalkan El.


Sedangkan El dia sedang bahagia karena ia sudah selangkah maju untuk mendekati wanita tersebut.


"Hah ingin rasanya aku mengurungmu di Mansion ku" Gumam El dengan terkekeh. Lalu ia pun memilih untuk pulang ke Mansionnya.


**

__ADS_1


Mansion Pramudya.


"Mas, kenapa Putri kita tak pulang juga , lihatlah sudah jam 11 malam" Khawatir Nyonya Rahma.


"Tenanglah, kata Boddyguard nya mereka sedang di perjalanan pulang" Balas Tuan Antoni dengan lembut.


Tetapi tetap saja Nyonya Rahma masih khawatir. Bahkan ia duduk dengan gelisah karena Putri nya tidak kunjung datang.


Lalu terdengar suara mobil berhenti di depan Mansion. Nyonya Rahma langsung keluar untuk melihat apa Putri nya atau bukan yang datang.


"Yaampun, Nak. Kenapa pulang sangat larut , kau tau Bunda sampai khawatir" Ucap Nyonya Rahma saat melihat Ayu keluar dari mobil.


Ayu berjalan ke arah sang Bunda lalu memeluknya dengan sayang.


"Maafkan aku ya, Bun. Aku tadi hanya ke asyikan saja di danau" Balas Ayu cecengesan.


"Hehh lain kali jangan begitu, buat Bunda jantungan saja" Omelnya dengan gemas.


"Iya Bunda ku sayang" Balas Ayu. Lalu Ayu merangkul lengan sang Bunda dan membawanya masuk ke dalam. Disana sang Ayah sudah menunggu dengan bersidekap dada.


Ayu hanya tertawa kecil lalu memeluk Ayah nya. Sang Ayah hanya menghela nafas saja.


"Segeralah tidur, karena besok kau akan bekerja menggantikan Ayah" Perintah mutlak dari sang Tuan Besar. Ayu menghela nafas dan mengangguk.


"Kamu pasti bisa sayang" Ucap Sang Bunda memberi semangat.


"Baiklah, aku akan buktikan pada mereka bahwa aku bukanlah wanita lemah. Aku adalah wanita kuat dan sangat di takuti" Ucap Ayu dengan tegas dan semangat membara.


Lalu Ayu pergi ke kamar nya dengan wajah yang sangat tegas , dingin serta aura nya yang dominan.


"Lihat saja aku akan membuat kalian bertekuk lutut di bawahku, aku akan membiarkan dulu mereka bermain tetapi lihat saat aku sudah muak aku akan membalas nya dengan berkali-kali" Batin Ayu


Lalu Ayu merebahkan tubuhnya untuk istirahat , agar besok ia menyambut hari baru dengan semangat membara.

__ADS_1


.


.


__ADS_2