
Malam hari nya , Ayu dan Elga makan malam dengan Baby Kafka di gendongan Elga. Ayu menyuapi untuk dirinya dan juga Elga.
Baby Kafka tak berhenti mengecoh saat di pangkuan Elga. Ia sangat senang saat sang Daddy mencium dan mengangkat tubuh Putranya.
Setelah selesai mereka beranjak ke halaman belakang dan bersantai dengan menggelar tikar agar Baby Kafka bebas bergerak.
"Lihatlah Mas , anak kita sudah sangat aktif banget" ucap Ayu dengan bangga.
"Iyaa sayang, kita ke ruang keluarga saja ayo ini udaranya sudah agak dingin" ajak Elga dengan menggendong Baby Kafka.
Mereka berdua ke ruang keluarga, baru saja duduk Bi sumi sudah datang.
"Tuan, Nyonya maaf ada tamu" ucap Bi sumi sopan.
"Siapa, Bi?" tanya Ayu heran.
"Tuan Ikmal dan satu orang cewe" jawab Bi sumi dengan wajah bingung.
"Kenapa seperti bingung, Bi?" tanya Elga yang sedang memangku Baby Kafka yang tertidur.
"Saya seperti pernah melihat wajah wanita nya tetapi sekarang dia memakai hijab panjang" jawab Bi sumi.
"Suruh masuk saja, Bi. Dan tolong suruh Art lainnya menyiapkan minuman dan makanan" titah Ayu tersenyum.
Setelah Bi sumi pergi Ayu menidurkan Baby Kafka ke kamarnya dan menyuruh Bi sari menungguinya.
"Bi, tolong jaga dulu ya saya akan menemui tamu dulu" ucap Ayu dengan ramah.
"Siap, Nyonya. Tamu nya juga sudah ada" balas Bi sari.
Ayu lalu melangkah pergi keluar kamarnya dan langsung turun ke bawah. Ia melihat sang suami dengan wajah menahan emosi dan bahkan tangannya sudah mengepal.
Ayu terus saja berjalan dengan menatap heran pada tamu tersebut.
"Ikmal, siapa dia?" tanya Ayu penasaran karena sang wanita tersebut terus saja menunduk.
__ADS_1
Ikmal menghela nafas saat melihat wajah Elga yang menahan emosi.
"Dia dia adalah Putri" jawab Ikmal dengan setenang mungkin.
DEG.
Tubuh Ayu bergetar saat mendengar nama tersebut. Lalu tangannya langsung mengangkat wajah wanita yang bersama Ikmal.
Seketika wajah wanita tersebut langsung terangkat dan menatap wajah Ayu dengan penuh rasa sedih dan rindu menjadi satu.
DEG.
Ayu langsung terduduk kembali dengan wajah terkejutnya. Tubuhnya membeku saat melihat wajah wanita yang selalu menjadi hantu di hidupnya.
"Sayang" ucap Elga khawatir.
Ayu hanya memancarkan wajah menyeramkannya dan terlihat menahan emosi.
"Mau apa kau kesini" tanya Ayu dengan nada dinginnya.
Putri terdiam dan meremas tangan Ikmal dengan sangat erat. Ikmal mengusap lembut tangan Putri.
"Jika tidak ada yang kau sampaikan , pergilah pulang kau" sarkas Ayu dengan wajah datarnya.
"A aku i ingin minta maaf, Yu" ucap Putri terbata.
Ayu menatapnya dengan nyalang dan menajamkan tatapannya.
"Apa? Maaf? Aku sudah memaafkanmu tetapi hatiku tidak pernah berhenti membencimu. Saat kau seenaknya mengkhianatiku , mengambil suamiku dan membuat anakku pergi setelah itu Nenek dan Kakekku pun pergi karenamu, Put" bentak Ayu dengan nafas memburu.
"Ingin rasanya aku membunuhmu saat itu juga, tetapi aku tidak bisa, Put. Karena apa? Karena kau adalah sahabat yang seperti saudaraku sendiri dan aku menghormati orangtuamu. Tapi kesalahanmu padaku? Aoa kau kira aku bisa melupakannya begitu saja?" ucap Ayu masih dengan datar.
Elga terus saja menggenggam tangan Ayu agar memberi kekuatan pada istrinya.
Putri menunduk dengan air mata yang sudah menetes deras.
__ADS_1
"Kau tau, Put? Belum juga aku sembuh atas kehilangan anakku , Nenek dan Kakekku meninggalkan ku sendirian yang terpuruk. Aku seperti orang gila saat itu, 1 tahun aku hidup dengan menyalahkan diri sendiri. Apa kau tau ? Yang aku pikirkan saat itu bagaimana caranya aku bisa membalasmu tetapi hatiku menolak" sarkas Ayu.
"Maafkan aku, Yu. Sungguh aku menyesal, aku di butakan oleh keserakahan dan kegilaan untuk merebut Gibran darimu. Tapi aku tidak pernah berpikir ke depannya" ucap Putri dengan menangis di pelukan Ikmal.
Brakk.
"Aku bisa mengikhlas kan Gibran. Tetapi kau dengan tega membiarkan aku berjuang demi anakku dan Gibran, bahkan aku tak habis pikir kau dengan tega mengambil apa yang bukan hak mu. Aku menyesal sangat menyesal pernah bersahabat denganmu. Kau itu Sahabatku tetapi Penghamcur kehidupanku" bentak Ayu dengan wajah dinginnya.
"Dan sekarang kau kembali kesini untuk meminta maaf? Pulanglah aku sudah memafkan mu" ucap Ayu mulai melemah.
Putri melepaskan pelukannya dan berlutut di kaki Ayu yang akan pergi dari sana.
"Aku mohon maafkan aku, Yu. Maafkan kesalahan ku , aku menyesal sungguh sangat menyesal" ucap Putri dengan tersedu.
Ayu menyingkirkan tubuh Putri.
"Aku sudah memaafkanmu tetapi jika kau kembali lagi pada kehidupanku aku tidak sudi" jawab Ayu lalu ia pergi berlari ke kamarnya.
"Pulanglah" ucap Elga dengan datar sebelum ia menyusul sang istri.
Ikmal membawa Putri yang sedang menangis di lantai. Ia menggendong Putri keluar dari mansion tersebut.
Bi sari baru saja tiba di lantai dasar dan menanyakan pada Art lainnya.
Sedangkan Elga ia langsung masuk dan mengunci pintu kamarnya.
Disana , Ayu menangis dengan tersedu di sofa , perlahan Elga menghampiri dan memeluknya dengan erat.
"Aku benci dia mas, dia pembunuh Nenek dan Kakekku" lirih Ayu dengan pilu.
Elga terus saja memeluk dan mencium pucuk kepala Ayu dengan sayang. Ia menenangkan istrinya dengan sabar.
.
.
__ADS_1
.