
Ke esokan pagi nya, Malik dan Gina sudah siap dengan berkas dan koper mereka masing-masing. Mereka akan berangkat dari kantor setelah mengadakan rapat terlebih dahulu dengan Perusahaan Ardamaja.
Gibran berangkat dengan di antar sopir pribadi Ayu dahulu. Dia sangat lelah karena semalam bergadang bergantian menjaga Baby Lita dengan Putri.
"Hati-hati Ayah" Ucap Putri menirukan suara anak kecil.
"Kalian juga hati-hati di Rumah ya" Balas Gibran mencium anak dan istrinya.
"*Apa Tuan semudah itu melupakan Nona Ayu. Bahkan Nona Ayu jauh lebih baik , ramah dan cantik di bandingkan Nyonya Putri" Batin Art yang tak sengaja melihat ke romantisan Gibran.
"Aku yakin Tuan akan menyesal" Batinnya kembali. Lalu ia pergi ke arah halaman belakang*.
Sepanjang perjalanan Gibran sibuk dengan tab di tangannya. Dia melihat semua perusahaan anak cabangnya yang lumayan melesat setelah ia bekerja sama dengan 2 perusahaan besar.
Bahkan Posisi perusahaannya sudah di urutan ke 5. Memang Gibran sangat pintar bahkan cekatan dengan menyakinkan kliennya ditambah lagi dengan Malik yang sangat membantu semua Ide nya.
"Perusahaan ku semakin melesat, aku harus lebih giat lagi" Gumam nya dengan bangga.
Tak lama kemudian mereka akhirnya sampai di Perusahaan. Gibran keluar dengan aura dingin dan kepemimpinan yang sangat kental.
Para karyawan menunduk hormat saat bertemu dengan Gibran. Tapi di belakang Gibran mereka mencibir habis karena berita perceraian Gibran dan Ayu sudah menyebar.
"Bagaimana sih wanita yang sudah merebut Tuan Gibran dari Bu Ayu. Bu Ayu itu kan paket komplit sudah cantik , pintar , boddy aduhai , ramah , baik pula" Bisik karyawan
"Yang aku tau sih katanya sahabat Bu Ayu saat SMA" Balas karyawan lain.
Lalu mereka bubar karena melihat Malik yang sudah berjalan masuk ke loby perusahaan.
"Ya mereka benar, Gibran sangat bodoh memilih Putri di banding Ayu" Batin Malik
Malik dan Gina langsung menuju ke ruangan Gibran tanpa memperdulikan bisikan para karyawan.
Setelah di dalam Lift Malik menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya yang lelah.
"Tuan, apa benar Bu Ayu hilang bak di telan bumi?" Tanya Gina penasaran.
"Ya dia menghilang , saya juga diam-diam mencari tahu tetapi sampai saat ini tidak menemukannya" Jawab Malik
__ADS_1
"Aku tau perasaan Bu Ayu bagaimana saat ini , mungkin karena itu ingin menyendiri. Kalau aku sudah putus asa mungkin dengan keadaan seperti ini" Ucap Gina menghela nafas.
"Ya dia sangat istimewa. Aku kalau jadi Gibran mungkin akan sangat bodoh melepaskan berlian demi emas" Balas Malik datar.
"Hmmm memang bodoh, Tuan" Ucap Gina.
Ting.
Mereka langsung keluar dan berjalan ke arah ruangan CEO. Malik membuka pintu tersebut dan masuk di ikuti Gina.
"Selamat pagi, Tuan" Sapa Gina dan Malik.
"Hmm pagi" Balas Gibran.
"Jam berapa dari Ardamaja akan datang kesini, Malik?" Tanya Gibran.
"Nanti jam 09, Tuan" Jawab Malik tegas.
"Kalian boleh keluar dan bekerja terlebih dahulu sebelum kalian pergi ke luar kota" Ucap Gibran datar.
Gina menyusun jadwal kerja Gibran selama 3 hari kedepan. Ia memilih jadwal yang agak tidak penting dahulu.
Kring kring
Bunyi telepon di meja kerja Gina dengan nyaring.
"Ya Halo" Ucap Gina sopan.
"Maaf Bu Gina , Tuan Ardamaja dan Asistennya sudah datang dan mereka menunggu disini" Balas Resepsionis
"Antarkan ke ruang rapat yang ada di lantai CEO" Ucap Gina.
"Baik, Bu" Balasnya
Lalu Gina memberi tahu Gibran dan Malik kalau tamu nya sudah menuju ke ruang rapat. Gibran langsung mengajak Gina dan Malik ke ruang rapat segera.
Setelah sampai mereka langsung bisa melihat Tuan Muda Elgaza dan Lana sang Asistennya.
__ADS_1
"Maaf menunggu Tuan Muda" Ucap Gibran ramah.
"Tidak Tuan, saya baru saja sampai" Balas Lana
"Langsung saja Tuan" Ucap Lana datar.
Mereka langsung membahas pekerjaan dengan serius. Bahkan Gibran tak tanggung memberikan Ide agar membangun sebuah Hotel dan Pusat pembelajaan di Negara B karena disana mereka belum sama sekali mempunyai aset. Hanya keluarga Pramudya saja yang mempunyai nya.
"Baiklah, nanti saya yang akan mengusulkan Ide ini pada Asisten Tuan Antoni" Ucap Lana
"Baiklah, Mari kita makan siang terlebih dahulu" Ajak Gibran tersenyum.
"Maaf Tuan Gibran, saya akan kembali ke Negara K karena sudah terlalu lama disini" Tolak halus Elgaza
"Baiklah Tuan Muda" Balas Gibran.
Lalu Lana dan Elgaza pergi dari perusahaan WibawaGroup. Semua karyawan wanita berdecak kagum melihat wajah tampan tamu Bos mereka.
**
Restoran.
Gibran mengajak Malik dan Gina makan siang terlebih dahulu sebelum mereka berangkat ke luar kota.
Di Restoran tersebut sangat berisik dengan pengunjung yang membicarakan Putri tunggal dari Tuan Antoni Pramudya sudah kembali dan akan mengambil alih semua perusahaan yang di miliki Ayah nya tersebut.
"Malik ada apa ini , kenapa disini berisik begini" Tanya Gibran risih.
"Kata salah satu pengunjung Putri tungga pewaris semua kekayaan Pramudya sudah kembali dan akan menggantikan Tuan Antoni sebagai CEO" Jawab Malik yang kebetulan saat kembali dari toilet mendengar seorang pengunjung yang berbicara.
Gina hanya diam fokus dengan Handphone nya. Dia sudah tau beberapa hari kebelakang dari sosial media nya.
Pesanan mereka akhirnya datang dan mereka langsung melahapnya tanpa bicara. Gina merasa risih karena tatapan para wanita yang terus memandang pada meja mereka.
.
.
__ADS_1