Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
Shaqilla


__ADS_3

Mereka terus saja berbelanja tanpa mempedulikan belanjaan yang sudah banyak.


Setelah puas, mereka langsung saja menuju ke Club tempat biasa mereka nongkrong.


Sedangkan di Rumah Disti, ia sedang mengemas barang-barang nya. Disti memutuskan akan ikut bersama ke dua orangtua-Nya ke Kota L.


"Aku sudah mewanti-wanti kalian, jangan salahkan saja jika suatu saat kalian akan mengerti mengapa aku memilih menjauh dari Tiara" ucap Disti dengan menghela nafas kasar.


Ceklek.


Pintu terbuka dan munculah sang Bunda, ia memanggil Disti karena akan berangkat.


"Ayo sayang" ajak Bunda Disti.


"Iyaa Bun" balas Disti tersenyum pada sang Bunda.


Lalu mereka berdua langsung saja turun ke lantai bawah, disana sang Ayah sudah menunggu nya.


"Kau mengambil keputusan yang tepat, Nak. Kita tidak tahu bagaimana kejam nya keluarga Ardmaja dan Pramudya, kita cukup tahu saja dari oranglain tanpa harus merasakan-Nya" ucap Ayah Disti mengusap lembut kepala Disti.


"Iyaa Ayah, meskipun memang aku sempat benci pada Nana dan Qilla, tapi aku tidak punya pikiran untuk mengganggu rumah tangga nya" balas Disti.


Ayah nya menganggukan kepala, lalu mereka masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.


***


Sedangkan di Maldevis. Qilla dan Zayn baru saja tiba disana dan langsung saja menuju ke Resort yang sudah di pesan oleh Zayn.


"Ini indah sekali, Mas" ucap Qilla dengan menatap kesana kemari.

__ADS_1


"Ada yang lebih indah dari ini, sayang" balas Zayn tersenyum.


Selama di perjalanan menuju ke Resort, netra mata Qilla di manjakan dengan ke indahan Kota tersebut.


Hingga akhir nya mobil yang mereka tumpangi sampai di halaman Resort.


"Ayo, kita sudah sampai sayang" ucap Zayn lembut.


Qilla menganggukan kepala dan keluar dari mobil bersama dengan Zayn.


Zayn membawa Qilla masuk ke dalam kamar yang sudah di sediakan Zayn.


Ceklek.


"Ayo masuk" ajak Zayn.


Qilla langsung saja terpana dengan pemandangan yang langsung terlihat dari jendela besar di samping tempat tidur-Nya.


Zayn menghampiri Qilla dan memeluk nya dari belakang. Ia menyimpan dagu nya di pundak Qilla.


"Ini sangat indah, apalagi nanti kalau pagi-pagi" ucap Qilla kembali.


"Ya, aku sengaja memilih nya agar kau tidak bosan, sayang" balas Zayn lembut.


Zayn terus saja memeluk Qilla dengan lembut, bahkan bibir nya sudah menyeruak di leher jenjang Qilla.


"Emhh Mas" gumam Qilla dengan lirih.


Zayn langsung saja membawa Qilla ke arah ranjang yang berada di dekat-Nya.

__ADS_1


Zayn langsung saja menindih tubuh Qilla dengan lembut, ia bahkan menatap Qilla dengan tatapan yang penuh cinta.


"Boleh?" tanya Zayn dengan lirih


Qilla hanya menganggukan kepala dengan wajah malu nya.


Zayn langsung saja mengecup kening, mata , pipi dan yang terakhir di bibir Qilla.


Sedangkan Qilla, ia hanya bisa meremas sprei dengan sangat erat.


"Rilexs saja, sayang" bisik Zayn dengan lembut.


Lalu Zayn kembali mencumbu Qilla dengan lembut, hingga Qilla tidak sadar bahwa ia dan Zayn sudah tidak memakai sehelai benang pun.


Zayn langsung saja melakukan nya dengan sangat lembut dan pelan, ia tidak ingin membuat Qilla tidak nyaman dan kesakitan.


"Mmmmhhhhhh" lenguh Qilla dengan meremas seprei dengan erat.


Zayn menghentikan terlebih dulu aktivitas-Nya, ia akan membiarkan Qilla untuk terbiasa dengan semua-Nya.


"Sakit?" tanya Zayn mengecup lembut kening Qilla.


"Hemmm" jawab Qilla menggelengkan kepala nya kecil.


Zayn tersenyum dan kembali melanjutkan aktivitas bulan madu-Nya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2