
Hari ini, pagi-pagi sekali Kania , Gibran dan Farhan sudah selesai bersiap. Mereka akan take off sebentar lagi.
Di sepanjang jalan, Kania terus saja menggenggam tangan Jelita yang belum sadar juga dari kemarin.
"Kak, Bunda mohon bertahanlah. Karena dengan itu kami merasa bangga dengan diri kami, Bunda dan Ayah akan menyembuhkan mu, Kak" gumam Kania lirih.
"Kamu wanita kuat, wanita tegar. Kamu ingin melihat adik bandel mu itu sukses bukan? Maka bertahanlah" gumam nya lagi.
Gibran mengusap bahu sang istri. Farhan juga sama sekali tak melepaskan pandangannya dari sang Kakak.
"Kak, bangunlah. Kita akan berobat supaya Kakak sehat, setelah sehat aku berjanji akan membawa Kakak keliling Duniaaa" batin Farhan
Sesampai nya di Bandara, Dokter Yuda dan Keluarga Gibran langsung masuk ke dalam Jet Pribadi keluarga Pamudya.
Keluarga Gibran maupun keluarga Ayu berteman dengan baik, mereka melupakan semua masa lalu karena emang sudah tidak ada guna nya lagi.
Amanda, Ibu , Ayah dan Suami nya hanya mengantarkan sampai Bandara saja. Mereka akan menjenguk nya nanti.
"Hati-hati, jika ada kabar apapun cepat beritahu kami" ucap Amanda pada Kania.
"Iyaa, tolong jaga Ayah dan Ibu nya. Dan kami juga titip Cafe" balas Kania dengan lembut.
Lalu mereka masuk ke dalam pesawat tersebut. Jelita bersama dengan tim Dokter. Sedangkan Keluarga nya duduk terpisah.
"Nak, tidurlah karena perjalanan masih jauh" ucap lembut Gibran.
__ADS_1
"Iya Ayah, Ayah dan Bunda juga istirahat ya. Karena tidak lucu jika nanti tiba disana kalah malah ikutan sakit" balas Farhan terkekeh.
"Iya sayang" jawab Orangtua nya tersenyum.
Mereka memutuskan untuk istirahat di sepanjang jalan. Karena memang kemungkinan nanti disana mereka akan kekurangan istirahat.
🍄
Beberapa jam kemudian akhirnya pesawat yang mereka tumpangi pun sudah sampai. Gibran dan yang lainnya langsung saja menuju ke Rumah sakit.
"Setelah Jelita menerima penanganan, Ayah akan mencari Apartemen dekat dengan Rs" ucap Gibran
"Iyaa Ayah, biar tidak terlalu jauh juga" balas Farhan.
Sesampai nya di Rs, mereka langsung saja menuju ke ruangan penanganan. Gibran, Kania dan Farhan menunggu di luar dengan khawatir.
Drrttt Drttt.
Ponsel Gibran berdering, dan ia langsung agak menjauh dari sana.
"Halo, Mal" sapa Gibran.
"Aku ke Rumah mu, tetapi kata Orang-orang disana kau tak ada" ucap Ikmal
"Maaf aku tidak memberitahu mu, kemarin Jelita kambuh lagi dan semakin parah. Dan Dokter menyarankan aku membawa nya ke Negara J. Kami baru saja tiba" balas Gibran menghela nafas.
__ADS_1
"Apaa, terus bagaimana sekarang keadaannya. Kamu kirimkan alamat nya dan aku akan segera kesana bersama istri ku" ucap Ikmal khawatir.
Tut.
Lalu panggilan terputus dan Gibran dengan segera mengirimkan alamat mereka sekarang.
"Siapa?" tanya Kania.
"Ikmal, dia mencari kita disana dan akan segera menuju kesini" jawab Gibran.
"Bersama dengan Keila?" tanya Kania lagi.
"Iyaaa, Mas lupa memberitahu nya kemarin" jawab Gibran.
"Gapapa , mereka juga akan memaklumi nya. Sekarang kita harus fokus pada ke sembuhan Jelita" ucap Kania lembut.
"Mudah-mudahan ada keajaiban yang dapat menolong nya" lirih Gibran dengan sendu.
Lalu mereka duduk kembali dengan Farhan, mereka menunggu disana dengan segala perasaan campur aduk nya.
"Kak bertahanlah, karena kebahagian Kakak akan segera sampai" batin Farhan sendu.
.
.
__ADS_1
.