Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
96. Konsultasi


__ADS_3

Shiro melirik salah satu Item di Inventorynya. Sebuah item yang Ia dapatkan dari sistem ketika Ia resmi menjadi seorang Pahlawan.


Ketika biasanya Shiro mendapatkan Metode Pelatihan atau Skill dari Lotere Sistem. Namun kali ini, Ia hanya memperoleh sebuah Item.


Bahkan, Item yang Ia peroleh adalah Item tipe Konsumsi yang hanya bisa dipakai satu kali saja. Namun Item tersebut bukan sembarang Item, Item ini memiliki efek yang luar biasa.


Sebuah item yang pasti dapat merubah dunia.


Nama Item tersebut adalah Starfall Ore.


Starfall Ore memiliki bentuk seperti batu biasa, karena merupakan sebuah pecahan dari Bintang Jatuh itu sendiri. Jika tidak ada penjelasan dari sistem, mungkin Shiro sudah lama membuang Batu tersebut.


Menurut penjelasan sistem, Starfall sendiri merupakan sebuah mineral khusus yang memiliki kekuatan suci tingkat Dewa yang memiliki efek mengabulkan permintaan apapun sampai Aura Khusus didalam Starfall itu habis.


Permintaan yang diajukan tidak terbatas apapun. Bahkan jika seseorang meminta hidup abadi, menghidupkan orang yang sudah mati ataupun menghancurkan alam semesta, Starfall bisa mengabulkannya.


Ketika membaca deskripsi ini, Shiro sempat kegirangan.


Walaupun dapat mengabulkan semua permintaan, pengguna akan menerima resiko atas apa yang Ia inginkan. Resiko ini tidak diberitahukan Sistem kepada Shiro, sehingga sampai saat ini, Shiro masih memikirkan permintaan apa yang perlu Ia minta yang Sagat berguna untuk dirinya saat ini dan kedepannya tanpa merugikan dirinya.


Sebab, menurut penjelasan sistem, semakin besar permintaan yang diinginkan, maka resikonya semakin besar pula.


Contohnya, jika seseorang ingin menghidupkan orang yang telah mati. Resikonya bisa berupa pengguna kehilangan ingatan mengenai orang tersebut, menjadi cacat, ataupun kematian pengguna itu sendiri.


Maka dari itu, Shiro sampai saat ini masih memiliki banyak keraguan dan pertimbangan tentang permintaan apa yang ingin dikabulkan.


Apalagi, Starfall Ore ditangannya hanya fragmentasi dari Starfall yang asli. Sehingga penggunaannya hanya bisa dilakukan sekali. Setiap permintaan yang ingin Ia ajukan, perlu Shiro perhitungkan matang-matang.


"Huh~" Shiro mendesah pelan. Kemudian Ia menyeruput kopinya yang hampir habis.


Sesekali Shiro melihat kearah Kakek Tingkas yang masih terlihat tegar melihat pemandangan pedesaan yang mulai ramai.


Shiro memutuskan untuk berkonsultasi kepada Kakek Tingkas, "Kek, bolehkah aku menanyakan sesuatu kepadamu?"


"Sebutkan saja nak, mumpung kau masih disini Coba sebutan, apa yang ingin kau bicarakan?"

__ADS_1


"Daripada bertanya, ini lebih kearah konsultasi. Sebab Kakek lebih berpengalaman dari ku."


"Yaudah, tanyakan saja."


"Begini Kek, menurut Kakek, apakah dengan kekuatan satu orang, bisa menyelamatkan dunia ini?"


Kakek Tingkas berpikir sejenak, Ia mengelus-elus janggutnya sebelum memberi jawaban kepada Shiro.


"Satu orang tidak bisa menyelamatkan semua orang, namun satu orang pasti bisa merubah kondisi dan mempengaruhi orang lain. Namun, kekuatan satu orang, pasti dapat menimbulkan permusuhan dan rasa iri dari orang lain. Walaupun kekuatan itu digunakan dalam hal kebaikan."


Shiro merenungi jawaban Kakek Tingkas, perkataannya memang benar. Sekuat apapun seseorang, pasti akan ada yang tidak suka kepadanya. Selain itu, ada kalanya kekuatan orang tersebut tidak dapat menyelamatkan semua orang.


Shiro memahami hal tersebut, kemudian Ia melanjutkan untuk bertanya, "Lalu Kek, menurut Kakek, jika kekuatan seluruh manusia di dunia ini menjadi jauh lebih kuat dan setara, apakah bisa menyelesaikan semua Gate yang muncul ?"


Pertanyaan Shiro kali ini, langsung ke topik utamanya. Ia melihat Kakek Tingkas menggelengkan kepalanya.


"Nak, meskipun semua orang menjadi sangat kuat. Akan ada bahaya tersembunyi. Memang benar Gerbang Dimensional bisa dihilangkan jika semua orang menjadi kuat dan bekerja sama. Namun pertanyaan yang perlu dipikirkan adalah, apakah dengan kekuatan yang mereka miliki, mereka semua dapat bekerja sama dengan baik tanpa memiliki ego tersendiri ?"


Shiro memikirkan pertanyaan tersebut. Namun jawabannya hanya satu. Sebelum sempat menjawab, Kakek Tingkas terlebih dahulu menjelaskannya.


"Tidak bisa kan ? Meskipun Gerbang Dimensional telah menghilang dan dibasmi sepenuhnya. Dengan kekuatannya yang dimilikinya, mereka akan memulai konflik Internal masing-masing diantara para manusia."


"Huh~ Terimakasih Kakek atas Konsultasinya."


Shiro berterimakasih kemudian bangkit, lalu kembali ke kamarnya. Ia berniat mengepak segala barang-barangnya yang ada di kamar. Setelah sarapan, Ia berniat melanjutkan perjalanannya untuk mengembara.


Disisi lain, Kakek Tingkas melihat kepergian Shiro dengan tatapan simpati. "Nak, beban dipundakmu sangat besar. Semoga kau tetap kuat."


Kemudian Kakek Tingkas merubah ekspresinya karena melihat kedatangan Lidya.


"Kakek, aku mendengar semuanya. Apakah tidak apa-apa membiarkannya tahu tentang suku kita ?" ucap Lidya.


"Tidak apa-apa. Dia orang baik kok. Kalo bisa, kau temani dia. Tuntun jalannya, jangan sampai Ia tersesat."


Wajah Lidya menjadi merah merona ketika mendengar ucapan Kakek Tingkas. Ia tahu maksud Kakek Tingkas ingin menjodohkanmya dengan Shiro.

__ADS_1


"Apa yang Kakek bicarakan? Aku tidak mengerti."


Kakek Tingkas terkekeh pelan melihat tingkah cucunya Lidya. "Ya sudah kalau kau tidak mengerti. Kau akan tahu nanti"


Lidya mengangguk, "Ngomong-ngomong kek, kira-kira apa maksud pertanyaannya yang terakhir ? Kali ini aku benar-benar ga mengerti."


"Meskipun aku jelaskan, kau tidak akan tahu. Singkatnya, Ia mendambakan perdamaian dan memiliki beberapa cara untuk menggapainya. Namun Ia bingung memilih cara yang mana. Ia takut salah langkah. Singkatnya begitu."


"Oh, begitu ya~" jawab Lidya sembari mengangguk, seakan Ia mengerti.


"Lidya, kau tidak mau mengucapkan selamat tinggal kepada pemuda itu?"


"Maksudnya Kek?" Lidya pura-pura tidak mengerti.


"Pemuda itu sedang membereskan barang-barangnya, mungkin sehabis sarapan Ia akan pergi. Kau tidak ingin mengucapkan selamat tinggal?. Ohhh...,atau kau ingin mengikutinya berkelana ? Kalo begitu, minta izin orang tuamu terlebih dahulu."


"KAKEEKK~" Lidya malu mendengar kalimat terakhir Kakek Tingkas, Ia kemudian berlari kembali masuk ke dalam rumah.


Kakek Tingkas yang melihat perilaku cucunya, hanya bisa tersenyum ringan dan menggelebgkan kepalanya.


Disisi lain, Lidya kembali ke kamarnya, Ia tidurnya dan menutup mukanya dengan bantal, Ia lalu bergumam pelan kepada dirinya sendiri. "Lagipula, aku terlalu lemah untuk bisa berkelana bersamanya."


Kemudian, Lidya berdiri. Ekspresinya menjadi lebih tegas, "Sudah kuputuskan, Aku akan lebih banyak berlatih dan menjadi lebih kuat lagi."


Setelah itu, terdengar suara ketukan dan panggilan dari luar kamarnya yang mengejutkan Lidya.


"Nak, mari makan."


Mendengar suara Neneknya yang menyuruhnya untuk ke Ruang makan. Lidya menghela napas lega, sebab neneknya memiliki sedikit masalah dalam pendengarannya. Sehingga Ia tidak takut suaranya barusan terdengar oleh neneknya.


"Iya nek, Lidya akan kesana."


......................


Setelah sarapan, Shiro bersiap pamitan dengan keluarganya Lidya dan Kakek Tingkas. Ia ingin segera melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Sebelum Ia sempat berpamitan, Lidya tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya. Shiro melihat ekspresi serius dari Lidya, "Lidya, ada apa ?"


"Aku ada yang ingin aku sampaikan kepadamu."


__ADS_2