Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
102. Red Gate


__ADS_3

Dark Elf Wanita menyeret tubuh Babi Hutan yang segede truk itu. Ia terlihat tampak kuat karena berhasil menyeret tubuh gempal Babi Hutan itu menjauh.


Walau pada akhirnya, Dark Elf wanita harus memotong-motong tubuh Babi Hutan itu terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanannya.


Shiro tidak memperdulikannya, Ia tetap mengikuti arah kepergian Dark Elf wanita dengan hati-hati. Sampai akhirnya Shiro menemukan Dark Elf wanita itu bertemu Dark Elf lainnya.


Dark Elf Wanita itu terlihat memberikan hasil buruannya ke Dark Elf tersebut. Setelah itu, Dark Elf Wanita itu langsung pergi dan sepertinya kembali pergi berburu.


Kepergian Dark Elf Wanita itu Shiro biarkan begitu saja, kali ini Ia memiliki target lain yang harus ia tatap.


Kali ini Shiro beralih memata-matai Dark Elf yang menerima bahan buruan. Shiro tidak hanya melihat hasil buruan dari Dark Elf Wanita, tapi ada juga monster buruan lainnya yang sepertinya berasal dari Dark Elf lain.


Melihat banyaknya hasil buruan yang telah dikumpulkan dan para Dark Elf masih melanjutkan berburu, Shiro berpikir-pikir, "Seberapa banyak anggota Ras Dark Elf yang masih hidup ?"


Banyaknya hasil buruan yang diinginkan menandakan permintaan pasokan atas hasil buruan itu sangat tinggi.


Hal ini menandakan banyaknya anggota Ras Dark Elf yang perlu dikasih makan sehingga mereka terus melanjutkan perburuan.


Selain itu, dilihat dari cara dan banyaknya monster yang mereka berburu. Wajar saja jika di beberapa kawasan Hutan, tidak ditemukan satupun hewan buas yang berkeliaran. Semuanya telah dibabat habis oleh para Dark Elf.


Apabila hal ini terus berlanjut, kawasan perburuan para Dark Elf akan semakin menyebar, dan ada kemungkinan mereka akan berkonflik dengan makhluk atau ras lain.


Jika dengan makhluk atau ras tak dikenal, Shiro tidak mempermasalahkannya. Namun jika mereka berkonflik dengan manusia, akan ada pertempuran yang cukup hebat diantara keduanya.


Shiro terus menatap Dark Elf yang menerima hasil buruan. Namun tampaknya, Dark Elf tersebut belum berniat untuk pindah lokasi ataupun kembali ke kediaman mereka.


Dark Elf tersebut tampak sedang beristirahat dan sepertinya Ia hanya bertugas menerima hasil buruan. Shiro pun tak terburu-buru, ia terus menatap Dark Elf tersebut sembari sesekali berkeliling daerah sekitar.


Lambat laun, semakin berlalunya waktu. Satu persatu Dark Elf mulai kembali membawa hasil buruannya, bahkan ada Dark Elf yang tampak malu karena tidak membawa apa-apa.


Melihat para Dark Elf yang telah berkumpul dan sepertinya telah selesai berburu. Shiro juga sudah mulai bersiap. Setelah berburu, kemungkinan mereka akan kembali ke kediamannya. Sehingga Shiro harus bersiap untuk mengikuti mereka.


Dark Elf yang menerima hasil buruan, mulai membagikan hasil buruan tersebut.


"Apa yang mereka lakukan ?" pikir Shiro bingung. Setelah dikumpulkan, dikembalikan lagi.

__ADS_1


Namun setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Shiro paham. Pembagian hasil buruan ini hanya untuk membagi beban dalam membawa hasil buruan mereka.


Shiro dapat melihat dari Dark Elf wanita yang telah mengalahkan Babi Hutan segede truk itu, kini membawa mayat monster yang agak kecil.


Setelah membagi tugas dalam membawa hasil buruan. Mereka langsung bergerak ke satu arah secara bersamaan.


"Oke, waktunya tiba."


Shiro juga mulai menjaga jarak dan mengikuti mereka dari kejauhan.


Walaupun para Dark Elf tidak terlihat dari pandangannya, namun Shiro memantau dan mengikuti mereka berdasarkan persepsi Auranya.


Selama mereka tidak meninggalkan jangkauan persepsinya, Shiro masih bisa menemukan keberadaan mereka.


Selain itu, para Dark Elf bergerak dengan cukup lambat. Mereka sepertinya sedang berbincang-bincang dan bercerita sembari berjalan.


Hal ini membuat Shiro agak bosan mengikuti mereka. Tapi memang wajar, dengan membawa banyak hasil buruan, mereka harus bergerak secara perlahan.


Shiropun mulai lapar karena telah lama menunggu dan mengintai mereka.


Karena tak ingin tertinggal jauh, Shiro hanya mengeluarkan beberapa cemilan dari inventarisnya dan memakannya selama dalam perjalanan.


Setelah beberapa jam bergerak, pemandangan hutan telah berubah.


Shiro bahkan terkejut dengan perubahan yang ada didepan matanya.


"Apa ini ? apakah ini masih bisa disebut Hutan?" Shiro bertanya-bertanya kepada dirinya sendiri.


Sebab pemandangan di depannya merupakan sebuah hutan, namun tidak bisa disebut sebagai hutan.


Hutan yang terkenal karena kehijauan dan keasriannya, kini malah terlihat hitam, layaknya hutan mati.


Suasana tiba-tiba menjadi suram, Shiro meraba-raba tanah yang hitam gersang itu. Namun itu tidak bisa disebut sebagai tanah lagi, melainkan lebih cocok disebut debu.


Tanah seperti ini sudah dinobatkan sebagai tanah mati, tidak akan ada makhluk yang bisa hidup di tanah seperti ini.

__ADS_1


Di hutan mati itu hanya tersisa pohon-pohon besar yang nampal layu, mungkin jika terkena angin tang sedikit kuat, pohon-pohon itu akan langsung jatuh.


Melihat pemandangan ini, entah kenapa Shiro merasa kesal. Ada emosi marah yang muncul dari dalam dirinya.


Bagaimana tidak, sebagai manusia yang tahu tentang pentingnya alam, sebagai manusia yang selalu mengagumi alam, ia tidak terima ketika pemandangan yang seharusnya indah, malah berubah menjadi malapetaka.


Tiba-tiba Shiro kepikiran mengenai ucapan Kakek Tingkas tentang Gate.


Kakek Tingkas pernah berkata kepada dirinya bahwa Gate Merah perlahan-lahan akan menghancurkan lingkungan sekitarnya.


Walaupun Ia sedang marah saat ini, Shiro mencoba berpikir rasional. 'Mungkin ini efek sisa dari sebuah Gate Merah yang telah diselesaikan.'


Shiro mencoba berpikir positif, namun pemandangan didepannya kembali membuatnya tambah kesal.


Sebab, ada sebuah Gate Merah besar yang Auranya sangat-sangat kacau. Selain itu, para Dark Elf ternyata masuk kedalam Gate Merah itu dengan santai sambil membawa hasil buruannya


Para Dark Elf terlihat sangat santai ketika memasuki Gate Merah tersebut, layaknya kembali ke rumahnya sendiri.


" Sial, aku tidak akan memaafkan mereka."


Shiro keluar dari kondisi Stealth dan melihat ke dalam Gate Merah dengan perasaan marah.


Ia tidak terlalu menyangka, bahwa Dark Elf yang masih sejenis dengan Ras Elf yang cinta alam, membiarkan saja alam ini hancur berantakan tanpa tindakan apapun.


Tak hanya membiarkan alam hancur, namun mereka juga mulai berburu monster liar dengan membabi buta, tanpa menyisakan satupun dari mereka untuk terus berkembang biak.


Awalnya Ia memiliki pemikiran positif tentang Ras lain ketika melihat Suku Cindaku. Namun ternyata, tak semua Ras yang terkenal cinta alam akan benar-benar tahan akan godaan akan kehidupan.


Shiro tidak langsung memasuki Gate Merah tersebut untuk memberi Dark Elf pelajaran. Melainkan Ia melihat kondisi sekeliling terlebih dahulu.


Melihat pemandangan hutan yang rusak, dari diameter jangkauan kerusakan hutan yang sangat jauh. Kemungkinan Gate Merah ini telah ada bertahun-tahun lamanya.


Karena tidak ada pemukiman dan jarak dengan Kota-kota sangat jauh, wajar saja Gate tersebut dapat berkembang menjadi seperti ini.


Setelah itu ia mulai memutuskan. Shiro bergerak menuju Gate.

__ADS_1


Dengan mata merah ia berkata, "Aku tidak akan melepaskan mereka."


Kemudian Shiro kembali memasuki keadaan tak terlihat dengan menggunakan skill Stealth. Lalu Ia memasuki Gate Merah tersebut.


__ADS_2