
"Jadi apa pilihan kalian?"
Pertanyaan Shiro membuat keduanya terdiam sebentar, namun mereka sudah tahu arah tujuan hidup mereka. Mereka ingin tetap hidup dan membalaskan dendam yang selalu mereka ingat ini.
"Bisakah aku bergabung dengan kalian? Aku ingin menjadi kuat dan membalaskan dendam Rasku!" ucap Dark Elf itu dengan tegas.
"A... aku juga!" lanjut Lidya.
Mendengar ini, Ketua Asosiasi tersenyum. Ini adalah apa yang ia harapkan. Dengan bantuan mereka, setidaknya kekuatan para pahlawan akan bertambah.
Shiro kemudian berbisik ke telinga Ketua Asosiasi, "Selamat Ketua, kau mungkin akan mendapatkan asisten baru."
Mendengar godaan dari Shiro, Ketua Asosiasi hanya bisa tersenyum. "Mari kita kembali!"
Kegiatan mencari lokasi para Organisasi Hitam gagal total. Mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan mereka setelah menghancurkan kedua lokasi pemukiman tersebut. Mereka seakan telah menghilang di telan bumi.
Setelah mereka tiba di Markas Pusat Asosiasi Pahlawan, Ketua Asosiasi mulai mengatur identitas untuk keduanya. Sedangkan Shiro ditinggalkan begitu saja.
Shiro mencoba menghabiskan waktu dengan berkeliling kota, berharap bisa bertemu dengan Iblis Organisasi Hitam yang menyamar di masyarakat.
Namun semuanya tak semudah itu, sudah seluruh Kota A ia sisiri, namun tidak ada jejak Aura jahat milik Iblis di Organisasi Hitam yang ditemukan. Semuanya tampak normal.
Bahkan Shiro mencari di Kota-kota lain, namun hasilnya nihil. Para Iblis di Organisasi Hitam sangat pandai bersembunyi. Atau mereka memang telah menjauh dari pemukiman penduduk perkotaan, sehingga mereka tidak bisa ditemukan.
"Keberuntungan sepertinya sedang buruk," gumam Shiro menyesal.
Setelah seharian patroli, Shiro tidak menemukan satupun Iblis di Organisasi Hitam. Ia hanya bisa pulang kembali ke rumahnya yang ada di Kota A.
Sesampainya dirumah, sudah ada Ume dirumah miliknya. Ia sudah biasa dengan adanya Ume di rumah. Namun kali ini ada yang berbeda. Ada suara lain yang sedang sibuk di dapur selain Ume.
Shiro penasaran dengan suara wanita yang ada di dapur selain Ume. Ia mencoba mendengarkannya. Ketika suara itu semakin jelas, Shiro terkejut dengan suara wanita itu. Sebab, suara wanita itu ia mengenalnya. Bahkan ia baru bertemu hari ini.
__ADS_1
Krikk~
Suara derit pintu dapur yang terbuka. Sosok itu muncul tepat di hadapan Shiro. Keduanya sama-sama terkejut.
"Lidya, apa yang kau lakukan disini?" tanya Shiro.
"Eh... itu.. anu..." Lidya terkejut dengan pertanyaan Shiro, sehingga ia tergagap dan tidak bisa menjawab.
"Kalian sudah saling mengenal rupanya!" jawab Ume yang baru muncul.
Setelah itu, Ume menjelaskan apa yang terjadi. Sebenarnya Ume di beri tugas oleh Ketua Asosiasi untuk mencarikan tempat tinggal untuk Lidya.
Ume bingung dengan tugas itu, sebab, ia saja belum lama tinggal di Kota A, dan ia banyak keluar kota untuk melakukan misi. Jadi Ia tidak bisa merekomendasikan tempat tinggal untuk Lidya. Satu-satunya tempat yang ia pikirkan adalah rumah tempatnya tinggal saat ini, yaitu rumah Shiro.
Mendengar jawaban Ume yang sambil disertai dengan cengengesan, Shiro tidak bisa berkata-kata. Sebab, Ume lupa kalau ini adalah rumahnya.
"Lalu, aku tidur dimana malam ini?" tanya Shiro.
"Lupakan, aku akan berkemah di halaman depan!"
Sebelum Ume dan Lidya sempat menjawab, Shiro telah membuat keputusan. Ia langsung pergi ke halaman depan dan memasang tenda.
Sedangkan Ume dan Lidya saling memandang. Mereka sebenarnya akan berbagi kamar. Keduanya akan berada di kamar yang sama. Tapi sebelum mereka sempat mengatakan apa-apa, Shiro sudah keluar dari rumah dan memasang tenda di depan rumah.
"Ia sepertinya salah paham, kan?" ucap Lidya.
"Sepertinya begitu!" jawab Ume santai.
"Bukankah lebih baik memberitahunya?" tanya Lidya.
"Udah, santai saja," Ume terus melanjutkan kegiatan memasaknya.
__ADS_1
Melihat ini, ia merasa kalau adat budaya di dunia ini berbeda sehingga ia bingung. "Dunia yang aneh, Yaudahlah, lupakan saja!" Kemudian Lidya juga mengikuti Ume untuk melanjutkan kegiatan memasaknya di dapur.
Setelah selesai memasak, keduanya membawa masakan itu ke halaman depan. Selama memasak, keduanya sepakat untuk memberitahu Shiro tentang hal ini saat makan malam bersama. Sehingga keduanya membuat makanan yang cukup banyak dan berniat makan malam bersama dengan Shiro.
Mereka datang ke halaman depan membawa banyak makanan. Mereka ingin mengajak Shiro makan. Namun sayang, ketika mereka datang ke halaman depan tempat tenda Shiro berada, Shiro tidak ada disana.
"Eh, Shiro dimana?" tanya Ume.
"Sepertinya ia keluar!" jawab Lidya. Ia tidak mencium hawa keberadaan Shiro disana.
"Jadi, ini bagaimana?" tunjuk Ume ke makanan yang sudah mereka bawa.
Lidya mengangkat bahunya, "Aku tidak tahu, tapi sepertinya rencana kita gagal!"
Ume mendengus berat, "Yaudah, kita tinggalkan sebagian makanan ini disini, sisanya kita makan berdua."
Lidya mengangguk. Kemudian mereka membawa makanan tersebut kembali ke dalam rumah dan meninggalkan sebagian jatah makanan yang mereka buat untuk Shiro. Makanan yang mereka bawa, hanya bisa mereka makan semuanya dengan berat hati.
Setelah mereka makan, mereka masih menunggu Shiro kembali. Mereka berniat untuk memberitahukan kepada Shiro untuk tidak perlu berkemah di luar. Namun sudah beberapa jam menunggu, malam sudah semakin larut, namun Shiro masih belum menunjukkan batang hidungnya.
Akhirnya mereka menyerah, malam semakin larut, dan mereka sudah mengantuk. Sehingga mereka kembali ke kamar Ume untuk beristirahat. Mereka masih tidak memakai kamar Shiro.
Namun sayang, Shiro tidak mengetahui hal itu. Ia keluar sebelumnya untuk berpatroli mencari keberadaan Iblis di Organisasi Hitam, menurutnya malam adalah waktu yang tepat untuk mereka bertindak. Tapi sayangnya ia masih tidak menemukan keberadaan mereka.
Ia kembali setelah makan-makanan larut malam yang masih dijajakan. Sesampainya di rumah, ia tidak memilih untuk masuk dan berniat untuk beristirahat di tenda yang telah ia siapkan sebelumnya.
Melihat makanan yang ada di meja tendanya, Shiro tersenyum dan melirik ke arah rumahnya. Ia tahu ini pasti disiapkan oleh Ume dan Lidya untuknya.
Walaupun ia kenyang, Shiro masih menghabiskan seluruh makanan itu bersama dengan Unseen. Ia tidak ingin menyia-nyiakan yang telah dibuatkan untuknya. Sayang jika harus dibuang begitu saja.
Setelah semua makanan itu dihabiskan Shiro memandang ke arah rumahnya dan tersenyum, "Terimakasih!"
__ADS_1
Shiro kemudian masuk ke dalam tendanya dan kemudian beristirahat.