Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
164. Negosiasi


__ADS_3

Keesokan harinya, Shiro bangun dengan perasaan segar. Ia bersama Unseen menyantap sarapan mereka bersama. Sebelum kemudian ada panggilan telepon dari Ketua Asosiasi kepadanya.


Shiro langsung mengangkat telepon dan berkata: "Halo Ketua! Selamat Pagi!"


Nada sapaan ceria Shiro entah mengapa membuat Ketua Asosiasi kesal.


"Hei nak, semua yang kau inginkan telah ku sampaikan."


Mendengar ini, Shiro cukup penasaran. Sebab, Ketua Asosiasi tidak langsung mengatakan apakah negosiasinya berhasil atau tidak.


"Jadi bagaimana hasilnya, Ketua?" tanya Shiro dengan nada penasaran.


"Mereka setuju, Tapi..." Ketua Asosiasi terdiam tiba-tiba tanpa melanjutkan kalimatnya.


Nendengar kata 'Setuju' dari Ketua Asosiasi membuat Shiro bahagia. Namun ketika ada kata 'Tapi' diujung kalimat disertai diamnya Ketua Asosiasi, membuat Shiro tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya.


"Tapi apa Ketua?" tanya Shiro penasaran.


"Persyaratan tingkat lanjut masih perlu dinegosiasikan. Mereka juga ingin memastikan informasi yang kau berikan memiliki nilai yang sepadan atau tidak. Jadi kau harus datang ke tempat mereka dan menegosiasikannya dengan pihak mereka."


Mendengar kata-kata Ketua Asosiasi, Shiro terdiam.


"Bukankah itu scam?" gumam Shiro pelan.


Jika setelah melihat informasi tersebut namun mereka tidak setuju, bukankah itu kerugian baginya.


"Ketua, bagaimana jika mereka menipu setelah melihat informasinya?" tanya Shiro.


"Tenang saja, jika mereka berani berbuat macam-macam, kau bebas melakukan apapun di Gate itu. Oh ya, jangan lupa cek kontrak formalnya. Hati-hati jangan sampai tertipu."


Ketua Asosiasi memberikan jawaban yang membuat Shiro lega. Selain itu, pengingat Ketua Asosiasi cukup untuk menunjukkan rasa peduli dan kepercayaannya terhadap dirinya.


"Oke, Ketua. Dimana pertemuan itu akan dilakukan?"


"Salah satu Cabang Heroes Bar di Kota W."


"Oke, aku akan kesana."


Setelah itu, Shiro memutuskan panggilan. Ia mulai berkemas dan berangkat menuju Kota W. Oh ya, Shiro juga mengganti jubah Assassin yang berwarna putih menjadi jubah Assassin berwarna hitam.


Menuju Kota W, Shiro mulai banyak melihat penduduk ataupun pahlawan yang mencari nafkah dari hutan.


Shiro lalu berjalan masuk melalui Gerbang Kota. Setelah menunjukkan Kartu identitasnya kepada para penjaga gerbang Kota, akhirnya Shiro dipersilahkan masuk.

__ADS_1


Ini kali pertama Shiro mampir di Kota W. Ia melihat Rumah-rumah di Kota W yang mirip arsitekstur abad pertengahan.


Setelah berjalan beberapa menit dan bertanya kepada penduduk sekitar, Shiro akhirnya tiba di Bar Heroes.


Entah Heroes Bar adalah milik Anthonio atau hanya Bar biasa yang hanya mencari tenar lewat nama, Shiro tidak tahu.


Masuk ke dalam Bar, bel yang di belakang pintu langsung berbunyi. Shiro langsung disambut oleh Pelayan Bar.


"Halo Tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucap pelayan wanita itu.


Shiro menunjukkan Kartu identitasnya dan berkata kepada pelayan itu: "Aku Scouting dari Asosiasi Pahlawan, ingin menyampaikan informasi Gate yang muncul di dekat sini kemarin."


Pelayan wanita itu tertegun sebentar sebelum senyumnya kembali mekar. "Oke Tuan! ikuti !ku ke kamar sebelah!"


Shiropun mengangguk dan berjalan mengikuti Pelayan itu ke kamar khusus yang berisi meja dan kursi bagaikan sebuah kamar restoran.


"Tuan! Silahkan duduk dulu! Kami akan memanggil pihak terkait, mohon untuk tunggu sebentar!"


"Oke!"


Kemudian Shiro ditinggalkan sendiri di dalam ruangan itu yang hanya ditemani oleh beberapa makanan pembuka dan minuman.


Walaupun Shiro jarang menikmati hidangan yang terbagi-bagi ini. Namun daripada tidak ada yang bisa dilakukan, lebih baik ia mencicipi hidangan yang telah disajikan.


Mendengar ini, Shiro mengangguk tanpa bicara.


"Tuan! Apakah ada yang ingin dipesan?" tanya pelayan itu kembali.


"Tidak!" ucap Shiro.


Shiro sudah selesai sarapan sebelumnya, ia tidak perlu memesan makanan tambahan. Makanan pembuka yang telah disediakan disini sudah cukup baginya.


"Baiklah kalo begitu Tuan! Jika ada yang Tuan butuhkan, silahkan panggil saja aku! Aku pergi dulu, permisi!"


Pelayan itu pergi. Dan Shiro tidak masalah akan itu. Ia mampir kesini bukan untuk makan ataupun bersenang-senang, tapi karena transaksi.


Shiro menunggu selama kurang lebih 10 menit, sebelum kemudian ada yang mengetuk ruangannya.


Ada beberapa orang yang masuk ke dalam ruangan tempat Shiro berada. Mereka berjumlah 7 orang, dengan 6 orang terlihat seperti seorang Pahlawan dengan atribut lengkap.


Satu orang yang tampak biasa-biasa duduk di depan Shiro secara langsung dan mengulurkan tangannya ke arah Shiro. "Halo, aku walikota Kota W, Tom Reit. Salam Kenal!"


"Zero." Shiro menjawab singkat sambil menyambut salam Walikota Kota W.

__ADS_1


Kemudian walikota itu tampak memberi isyarat untuk orang lain yang tampak seperti Pahlawan untuk duduk bersama.


Setelah semua orang duduk, Shiro tidak lagi basa-basi, ia langsung bertanya secara langsung: "Kalian semua tahu tujuanku datang kesini. Jadi mari kita langsung ke topik utamanya."


"Tentu, sesuai yang Zero inginkan."


Walikota itu tampak tersenyum namun memberi Shiro rasa licik. Insting bisnisnya yang telah lama tidak Ia pakai, sekarang muncul di hadapan walikota ini.


"Sepertinya semua politikus dari berbagai dunia sama saja ya!" ucap Shiro di dalam hati.


"Jadi, apa syarat untuk bertukar dengan kesempatan menggunakan Orb?" tanya Shiro secara langsung.


"Tergantung informasi yang kau berikan. Kami ingin melihat dulu, jika sesuai kau berhak menerima hak mu."


Jawaban ambigu dari Walikota Kota W tidak membingungkan Shiro. "Benar saja, tikus ini." pikir Shiro.


"SPESIFIK!" balas Shiro sambil menaikkan nadanya sedikit.


"Apa maksudmu Tuan Zero?" tanya Walikota dengan pura-pura bingung.


"Jangan bermain trik denganku. Sebutkan syarat yang lebih spesifik! Jika tidak, transaksi batal."


Mendengar kata-kata Shiro, senyum di wajah walikota menghilang. Walikota terdiam, suasana ditempat menjadi hening beberapa menit.


Shiro melihat sepertinya Walikota tidak datang dengan niatan untuk negosiasi. Ia sudah beberapa menit menunggu setelah mengucapkan kata-kata itu, namun pihak Walikota tidak ada niatan untuk berbicara. Sepertinya mereka sedang berbicara melalui telepati dan sedang merencanakan sesuatu.


Tak lama, Shiro langsung berdiri dan memandang pihak Walikota: "Karena kalian tidak ingin bernegosiasi, aku akan pergi dulu."


Shiro memamerkan dua Orb yang ia dapat dari Gate sebelumnya, sebelum kemudian Shiro menghilang dari pandangan pihak Walikota.


Pihak Walikota terkejut, ia tidak menyangka Shiro akan menghilang begitu saja. Mereka berniat untuk menunggu lebih lama. Karena biasanya dalam bisnis, seorang penjual yang memiliki Chip akan mendapatkan keuntungan jika terus sabar menunggu.


Namun semua tindakan Shiro berada di luar kognisi mereka.


Walaupun mereka sudah merumuskan langkah-langkah pencegahan, namun yang terjadi saat ini terlalu mengejutkan mereka semua.


Kepergian Shiro telah membuat mereka sadar kalau negosiasi telah gagal. Merekapun hanya bisa kembali dengan tangan kosong.


Shiro sudah lama pergi, saat kondisi negosiasi mulai dingin, ia mengeluarkan belati yang dilapisi Aura dan melepaskannya ke tempat bayangannya berada. Tentu saja itu diperuntukkan untuk Unseen, dan Unseen pun mengerti.


Mengambil belati yang telah dilapisi Aura itu, Unseen diam-diam menyelinap keluar dari Bar Heroes dan telah menempatkan belati itu diluar Bar Heroes.


"Tcihh~ Berbisnis dengan monster lebih manusiawi daripada berbisnis dengan manusia."

__ADS_1


Saat ini, Shiro sudah berada di pintu gerbang Kota W. Ia berniat ingin melakukan apa yang ingin ia lakukan.


__ADS_2