
Shiro menghubungi Ketua Asosiasi dan menceritakan apa yang ia temui. Dari bertemu Kota dan terbentuknya sebuah Gate. Ia menghubungi Ketua Asosiasi untuk meminta tanggapannya dengan apa yang terjadi.
Takutnya jika ia asal masuk ke dalam Gate, Pahlawan di Kota terdekat akan tidak puas dengan Shiro yang mengambil alih tugas mereka. Jadi Shiro memutuskan untuk bertanya kepada Ketua Asosiasi terlebih dahulu.
"Coba kau deskripsikan Kota yang kau lihat, bentang alamnya dan apa saja yang bisa kau lihat."
Mendengar kata-kata Ketua Asosiasi, Shiro juga memberitahu Ketua Asosiasi tentang apa yang ia ketahui. Dari lingkungan gunung, hutan beserta perkiraan jarak dengan Kota.
Tak hanya itu, Shiro juga memberitahu arsitekstur Kota yang bisa ia lihat dari kejauhan. Shiro melaporkan semuanya.
"Itu adalah Kota W. Tunggu sebentar, aku akan menghubungi Walikota disana."
Shiro mengangguk, ia menunggu panggilan Ketua Asosiasi berikutnya.
Tak lama, Ketua Asosiasi memanggilnya kembali.
"Jadi gimana Ketua?" tanya Shiro dengan buru-buru.
"Sulit jika kau ingin menyelesaikannya, mereka tidak ingin hernegosiasi. Tapi kau bisa melakukan satu hal!" ucap Ketua Asosiasi.
"Apa itu?" tanya Shiro dengan nada lesu.
"Scouting. Kau bisa mengintai Gate terlebih dahulu seperti dulu. Tapi bedanya, kau bisa melakukan intervensi di dalam Gate, tapi jangan berlebihan. Gimana?"
Shiro memikirkannya sejenak. Menjadi scouting adalah hal yang membosankan. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi Ia memikirkannya matang-matang. Jangan sampai keputusannya akan memberatkannya.
"Okelah. Aku akan melakukannya. Tapi jika gelombang Raid pertama gagal. Aku akan bertindak sendiri, oke?" ucap Shiro.
"Oke."
Mendengar konfirmasi dari Ketua Asosiasi, Shiro mematikan komunikasi dengan Ketua Asosiasi lalu masuk ke dalam Gate. Tentu bersama Unseen yang sedang memegang kamera.
Memasuki Gate, Shiro hanya bisa melihat pemandangan yang memutih di depannya. Semua yang ia lihat, memutih karena salju. Dan saat ini, Ia berada di kaki gunung bersalju.
Suhu yang berada di bawah 0° Celcius, membuat Shiro harus berganti pakaian yang lebih tebal. Ia lalu mendaki ke gunung salju tertinggi. Karena menurut pengalamannya, lingkungan paling ekstrem adalah lokasi tempat tinggal Boss Gate.
__ADS_1
Gunung salju yang ingin didaki Shiro sangatlah tinggi. Mungkin ratusan ribu kilometer dari permukaan tanah. Bahkan Shiro tidak bisa melihat puncaknya. Selain itu, Kabut putih diketinggian juga menghalangi penglihatan Shiro untuk melihat ke puncak.
Baru ratusan meter mendaki, badai salju menghampiri Shiro. Walaupun tidak kuat, namun badai salju juga ikut membawa longsoran salju yang dapat menghambat Shiro.
Menghadapi longsoran salju, Shiro hanya bisa menghindarinya dengan terbang. Untung sayapnya adalah Frost Wing yang terbuat dari Bulu Es, sehingga tahan terhadap cuaca yang sangat dingin seperti ini.
Setelah beberapa menit, badai salju dan longsoran salju berhenti. Shiro juga mulai turun dan melanjutkan mendaki. Ia tidak melanjutkan terbang karena tubuhnya tidak terlalu tahan karena dingin.
Dengan mendaki seperti biasa, tubuhnya akan seperti sedang berolahraga dan menghangatkan tubuhnya oleh keringat. Hal ini tidak ia dapatkan ketika terbang.
Shiro melanjutkan mendaki. Ternyata badai dan longsoran salju membawa berkah kepada Shiro. Beberapa kelinci salju setinggi lututnya banyak yang keluar mencari makanan.
Menemukan mangsa, Shiro juga menjadi semangat. Ia mengambil beberapa Kelinci Salju untuk dijadikan sate ditempat.
Menghidupkan api di tengah cuaca yang sanagt dingin ini termasuk hal yang sulit. Untung saja teknologi di dunia ini sudah berkembang, ada alat pemanas berbahan bakar Inti Kristal elemen api yang bisa digunakan untuk memasak dan menghangatkan ruangan.
Jadi Shiro tidak terlalu khawatir tentang memasak di tengah gunung salju.
Setelah makan dan istirahat sederhana, Shiro melanjutkan perjalanan. Ia kini mendaki mengikuti arah sungai yang telah membeku.
Jika bukan karena tebalnya permukaan sungai yang membeku, sungai ini merupakan spot yang bagus untuk memancing. Shiro terus melanjutkan perjalanan mengarah ke hulu sungai.
"AOOOOO~"
"ROAAAR~"
Tiba-tiba suara lolongan dan raungan saling bersahutan di kejauhan. Shiro langsung memasuki kondisi tak terlihat dan terus bergerak menuju sumber suara.
Ia melihat seekor beruang kutub besar, lebih besar dari tubuhnya, sedang bertarung dengan segerombolan Serigala salju yang berjumlah 5 ekor.
Walaupun daya tahan Beruang Kutub sangat besar, namun menghadapi serangan para Serigala Salju yang terus menerus, stamina dan daya tahan Beruang Salju perlahan-lahan mulai terkikis. Terbukti dengan banyaknya luka yang ia terima, menandakan sudah lamanya perkelahian diantara mereka terjadi.
Benar saja, tak lama Beruang Kutub itu akhirnya dikalahkan oleh segerombolan Serigala Salju. Namun itu bukan tanpa kerugian. Para Serigala Salju semuanya terluka oleh Beruang Kutub, dua diantaranya bahkan kehilangan salah satu kakinya.
Melihat ini, Shiro yang sedari tadi menonton pertunjukan, akhirnya bergerak. Ia berniat mengambil keuntungan nelayan dari pertempuran kedua belah pihak.
__ADS_1
CTEKK! Shiro berpindah tempat dengan mayat Beruang Kutub yang perlahan kehilangan Auranya. Setelah itu Shiro mengeluarkan Twin White Tiger dan mulai menebas semua Serigala Salju yang ada.
Para Serigala Salju terkejut dengan kemunculan Shiro, tubuh yang lelah dan dipenuhi luka juga yang membuat mereka terlambat bereaksi.
Slasshhh! Mereka semua berhasil ditebas oleh Shiro dengan cepat.
"Oke, panen yang lumayan."
Walaupun Shiro hanya memiliki peluang yang kecil dalam mengambil keuntungan besar dari Gate ini. Tapi setidaknya tubuh Serigala Salju dan Beruang Kutub pasti cukup memiliki nilai.
Terutama bulu mereka yang bisa dijual atau digunakan dalam pembuatan baju dan jaket. Ya, setidaknya menurut Shiro, ia tidak akan terlalu rugi jika pahlawan Raid yang akan datang berhasil menaklukkan Gate ini tanpa dirinya.
Setelah menyimpan mayat-mayat tersebut, Shiro kembali melanjutkan pendakiannya.
Semakin ia mendaki ke puncak, semakin dingin juga lingkungannya. Bahkan angin kencang yang dingin juga semakin sering menerpa Shiro.
"Sial, terlalu ekstrem."
Jaket dan baju yang ia kenakan tidak dapat sepenuhnya menahan cuaca dingin ini. Ini mungkin terkait dengan kualitas bahan dalam pembuatan Jaket dan baju tebalnya.
Setelah dari sini, Shiro memutuskan untuk menggunakan mayat monster tadi untuk dibuatkan Jaket dan baju tebal yang kualitasnya lebih baik daripada yang ia kenakan sekarang.
Walaupun dingin menerpa, Shiro terus mendaki. Kemudian tak jauh ia melihat siluet seperti manusia dengan tubuh kekar tinggi dari balik Kabut dingin.
"Apa itu? Manusia?" tanya Shiro.
Untuk berhati-hati, ia menggunakan Stealth untuk melihat kondisi makhluk humanoid itu dari dekat. Untuk memastikan identitas dari makhluk tersebut.
Semakin dekat, Shiro perlahan mulai melihat penampilan makhluk tersebut. Makhluk itu juga tampak waspada dan merasa diperhatikan, namun ketika ia menoleh, ia tidak melihat apapun di sekelilingnya.
Shiro juga akhirnya melihat penampilan dari makhluk humanoid tersebut.
Tubuh dipenuhi bulu putih kecuali muka, telapak tangan dan telapak kaki yang berwarna biru pucat. Penampilan mirip kera yang berjalan dengan kedua kakinya.
"Hei, bukankah ini hanyalah legenda mitos di kehidupannya sebelumnya."
__ADS_1
Melihat penampilan makhluk humanoid itu, membuat Shiro bertanya-tanya: "Monster salju itu... Bukankah itu Yeti?"