
Ketua Asosiasi menghela napas berat mendengarkan permintaan Shiro. Ia kemudian melepaskan pekerjaannya dan membawa Shiro ke lokasi perpustakaan Asosiasi Pahlawan. Pekerjaannya digantikan oleh Anastasya.
Shiro mengikuti Ketua Asosiasi, ia ingin melihat apa sebenarnya Rahasia yang tersimpan rapat itu, sampai-sampai tersegel dan tidak ada yang bisa membukanya.
Ia tidak terlalu yakin bisa membuka segelnya, tapi ia yakin pasti ada petunjuk untuk membukanya.
Akhirnya keduanya sampai di ruang perpustakaan, didalamnya banyak sekali buku. Shiro sudah banyak membaca buku disini, jadi Ia tidak percaya kalau buku yang menyimpan Rahasia itu ada di dalam perpustakaan yang sering ia kunjungi dulu.
Ketua Asosiasi mengambil sebuah buku, dan tiba-tiba sebuah jalan rahasia terbuka dari balik rak buku tersebut. Shiro tercengang, ia tidak menyangka ada jalan rahasia disini. Apalagi ia tidak merasakan mekanisme yang melibatkan Aura. Itu berarti pintu tersembunyi ini dibuat menggunakan cara manual.
Ketua Asosiasi mengambil obor dan masuk ke dalam ruang rahasia yang mengarah ke bawah tanah.
Di bawah tanah, Shiro mengikuti Ketua Asosiasi yang ada di depannya. Di dalam ruang bawah tanah ini, ia dapat melihat kalau Orb yang dimiliki oleh Pihak Asosiasi Pahlawan berada disini.
Ternyata, selain menjadi ruang Rahasia bawah tanah, ruangan ini juga dijadikan sebagai Gudang yang menyimpan banyak item penting.
"Ketua, bukankah berbahaya jika semua item penting disimpan di satu tempat tanpa ada mekanisme perlindungan?" tanya Shiro.
"Haha~ Tidak masalah, Pahlawan yang menjaga di luar sudah cukup kuat. Selain itu, kebanyakan dari mereka adalah tipe sensor, jadi mereka akan tahu kalau ada sesuatu yang salah sedang terjadi."
"Oh.. Baguslah kalau begitu!"
Shiro tidak melanjutkan pertanyaannya, karena Ketua Asosiasi begitu percaya diri, ia pasti yakin dengan kekuatan yang dimiliki oleh Asosiasi Pahlawan.
"Oke, kita sudah sampai. Ini adalah bukunya!"
Ketua Asosiasi mengambil sebuah buku dengan sampul hitam yang dipenuhi oleh debu. Ia lalu menyerahkannya kepada Shiro.
Shiro memegang buku dengan sampul hitam itu, lalu menghapus debu yang menumpuk di atas buku itu.
__ADS_1
Ia lalu membuka halaman pertama yang berisikan sebuah perintah: "Semua kebenaran ada di dalam buku ini. Hanya manusia dengan Jiwa yang paling murni yang bisa membukanya!"
Kemudian Shiro mengabaikan kata pengantar yang tidak ia ketahui maksudnya itu dan melihat halaman-halaman lainnya.
Ketika Shiro melihat halaman demi halaman, ia tercengang. Karena apa yang ada hanyalah kertas putih biasa tanpa ada jejak Noda satupun. Ia pun kembali ke halaman pertama dan membaca kalimat pengantar buku ini.
"Kebenaran? Jiwa murni? Apa maksudnya?" gumam Shiro bingung.
Kebenaran apa yang tersimpan, dan Jiwa murni seperti apa yang dibutuhkan untuk membuka informasi yang tersegel di dalam buku ini.
"Apakah maksudnya pengorbanan?" Shiro mencoba menerkanya, namun ia kemudian menggelenggkan kepalanya.
Jika pengorbanan yang dimaksud, itu berarti buku ini tidak bisa dipercaya. Karena telah terkontaminasi Iblis. Hanya Iblis yang melakukan segela sesuatu melalui pengorbanan.
Kemudian ia mengalihkan perhatiannya ke Cover buku. Cover buku itu tanpa judul, dan warna hitamnya tidak merata. Selain itu, ada perasaan berbeda, agak kasar di beberapa bagiannya yang membuat Shiro merasa ada yang salah dengan sampul buku ini.
"Ketua, ada yang aneh sama sampul buku ini!" ucap Shiro.
Shiro mengerutkan kening ketika mendengarkan penjelasan Ketua Asosiasi. Bagaimana bisa buku yang putih bersih berubah menjadi hitam. Apalagi ini adalah buku penting, mana mungkin Ketua Asosiasi saat ini atau manusia dulu membiarkan ini menghitam begitu saja.
Ia pun bertanya kepada Ketua Asosiasi: "Bagaimana bisa menghitam seperti ini?"
"Darah, Menggunakan darah."
Shiro terkejut ketika mendengar penjelasan dari Ketua Asosiasi. Apakah ini benar-benar tentang pengorbanan seperti yang ia pikirkan.
"Untuk mengenali Jiwa yang murni, darah diperlukan. Tidak banyak, hanya satu tetes. Namun setelah ratusan tahun lamanya, kami tidak menemukan Jiwa murni seperti yang dikatakan buku ini. Sudah banyak orang yang mencoba meneteskan darah di sampul buku ini, namun selalu tidak ada reaksi."
Ketua Asosiasi menjelaskan kepada Shiro tentang mengapa banyak sekali bercak darah kering yang sudah menghitam di sampul buku ini. Shiro akhirnya paham, ini adalah metode mengikat item yang ia dengar dari berbagai cerita fantasi. Ia pun menghilangkan kecurigaannya.
__ADS_1
Ketua Asosiasi menceritakan kepadanya mereka sudah sering mencoba melepas segelnya. Dari darah anak kecil, orang dewasa, lansia, laki-laki, wanita, orang baik, penjahat, dan semacamnya semua pernah dicoba. Namun hasilnya nihil. Tidak ada dari mereka yang berhasil sampai mereka menyerah.
Shiro tercengang mendengar cerita ini, namun ia tidak percaya kalau buku ini tidak bisa dibuka. Pasti ada cara untuk membukanya. Salah satu petunjuk yang ada terkait dengan 'Jiwa Murni' yang disebutkan dalam pengantar.
"Ketua, bagaimana kalian menafsirkan Jiwa murni yang ada di pengantar buku ini?" tanya Shiro penasaran.
"Entahlah, kami juga tida terlalu mengerti. Kami menganggap Jiwa murni adalah sebuah keinginan mulia yang ada di antara para Manusia. Namun kami pernah mencoba mencarinya, namun sayang kami belum menemukannya!"
"Tapi Ketua, maksudn Jiwa Murni bisa juga berarti manusia asli dunia kita atau manusia asli yang keluar dari dalam Gate."
Ketua Asosiasi tersentak ketika mendengarkan perkataan Shiro. "Itu mungkin benar, tapi sekarang apakah ada yang tahu, siapa manusia yang asli dunia kita dan mana siapa manusia yang keluar dari Gate?"
"Mungkin saja, tapi menurutmu, siapa yang tahu yang mana manusia asli dunia kita dan manusia yang keluar dari Gate?"
Mendengar pertanyaan balik dari Ketua Asosiasi, Shiropun terdiam. Ia tidak tahu bagaimana cara menjawabnya.
Sebelum Shiro berbicara, Ketua Asosiasi melanjutkan kata-katanya dengan ekspresi penuh penyesalan: "Selain itu, kami sudah mencoba mencari apa yang kau tanyakan tadi. Tapi kami juga tidak menemukannya. Mungkin semua manusia dari dua dunia sudah terlalu bercampur sehingga kami tidak tahu jawabannya."
Shiro kembali terdiam mendengar kalimat Ketua Asosiasi. Jika sudah ratusan tahun berlalu, memang sudah tidak mungkin mencari tahu yang mana keturunan manusia asli dunia ini dan mana manusia dari dunia lain.
Tapi Shiro tetap ingin mencobanya. "Ketua, aku ingin mencobanya!"
"Terserah padamu!" jawab Ketua Asosiasi dengan nada datar. Ia sudah menyerah dengan hal ini, ia juga tidak percaya kalau Shiro bisa melakukannya.
Setelah mendapatkan Izin dari Ketua Asosiasi, Shiro lalu menggigit jarinya dan meneteskan darah yang keluar ke sampul buku itu.
Ketika darah Shiro jatuh dan mengenai sampul buku itu. Darah yang sudah menghitam tiba-tiba mengelupas dan sampulnya mengeluarkan cahaya putih keemasan.
Ketua Asosiasi yang awalnya tidak yakin, tiba-tiba tercengang ketika melihat perubahan yang terjadi pada buku itu.
__ADS_1
"Tidak mungkin.." ucapnya.