Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
227. Menuju Lokasi


__ADS_3

"Aku ikut..."


Mendengar ucapan dari Lidya, Shiro dan Ketua Asosiasi langsung meliriknya.


"Kenapa kau harus ikut?" tanya Shiro.


"Aku bisa menunjukkan jalannya," jawab Lidya.


"Aku juga bisa!" ucap Dark Elf itu. Ia juga ingin menyelamatkan desanya.


Menanggapi jawaban keduanya, Shiro menggelengkan kepalanya, "Aku tahu lokasi desa kalian berdua. Jadi aku tidak perlu penunjuk jalan yang bisa menghambat perjalananku."


Lidya dan Dark Elf itu terdiam, mereka menunduk sambil menggertakkan giginya. Keduanya ingin pergi membantu untuk melihat kondisi desa mereka. Namun mereka tahu, dengan kondisi mereka saat ini, mereka hanya akan menjadi beban jika ikut bersama Shiro. Meskipun begitu, mereka sangat enggan jika harus tinggal di tempat yang tak mereka kenal.


"Tidak, aku tetap akan ikut!" ucap Lidya dengan wajah tegas.


Dark Elf itu juga menatap Shiro dengan wajah serius. Keduanya sepertinya sangat serius dan ingin ikut, mengecek keadaan desa mereka.


Melihat ketegasan diwajah keduanya, Shiro merasa tidak tega, ia menghela napas berat kemudian dengan terpaksa menuruti kehendak mereka.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kalian."


Keduanya tampak bersemangat mendengar persetujuan dari Shiro. Sedangkan Shiro menoleh kepada Ketua Asosiasi, "Ketua, bolehkah aku meminjam pesawatmu?"


"Emangnya kau bisa menyetirnya?" tanya Ketua Asosiasi dengan senyuman penuh arti.


Shiro menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan, "Hehe~ Aku juga ingin merepotkan Ketua sebagai sopir kami."


"Hahaha~ Sudah kuduga. Ayo berangkat!" jawab Ketua Asosiasi sambil memimpin Shiro dan yang lainnya ke lokasi parkirnya pesawat X milik Asosiasi Pahlawan.


Sampai di lokasi, mereka langsung memasuki pesawat. Dengan adanya Ketua Asosiasi, mereka tidak perlu izin khusus untuk mengemudikan pesawat X tersebut.


Sesampainya mereka disana, kehancuran adalah kata yang cocok untuk menggambarkan keadaan suku Cindaku. Semuanya rata dengan tanah, hanya bekas bangunan yang masih tertumpuk yang membuktikan kalau tempat ini dulunya sebuah pemukiman.


Melihat ini, Lidya langsung menangis. Ia tidak bisa menahan air matanya setelah melihat kondisi desanya yang telah hancur lebur.


Bahkan mayat para anggota suku Cindaku tidak ada. Dapat dipastikan kalau mayat-mayat tersebut akan digunakan oleh Iblis Organisasi Hitam untuk dijadikan sebagai ritual pengorbanan.


Shiro dan yang lainnya tidak bisa berkata apa-apa melihat kondisi memilukan ini. Dilihat dari bekas pertempuran, serangan itu telah terjadi sejak beberapa hari yang lalu. Dengan kata lain, mereka telah terlambat.

__ADS_1


"Mari kita ke lokasi kedua!" ucap Shiro.


Mereka telah terlambat, sehingga mereka memutuskan untuk menuju lokasi desa Dark Elf. Lidya yang bersedih juga hanya bisa ikut dengan wajah sembab. Ia harus menerima apa yang terjadi pada anggota sukanya.


Shiro dan yang lainnya masuk ke pesawat X menuju ke lokasi kedua yaitu desa para Dark Elf. Kurang dari 5 menit, mereka telah sampai di lokasi kedua.


Kondisi yang sama dengan apa yang dialami oleh suku Cindaku. Pemukiman Dark Elf telah dihancurkan. Mayat para Dark Elf juga telah menghilang, dan dari bekas pertempurannya, tampak lebih lama dari penyerangan suku Cindaku. Mungkin hanya berselang satu-dua hari.


Melihat kondisi pemukiman Dark Elf yang tampak tak bersisa, Dark Elf itu terduduk dengan air mata yang menetes ke pipinya. Ia memukul-mukul tanah dengan penuh amarah dan penyesalan. "Sial, kenapa ini terjadi?"


Melihat suku Dark Elf, Shiro merasa cukup kasihan. Mereka hampir dikuasai oleh para Iblis. Setelah mereka selamat dan tiba di dunia baru, mereka mulai beradaptasi dan membuat sebuah pemukiman. Namun nasib mereka sangat naas, kini pemukiman mereka dihancurkan oleh para Iblis di Organisasi Hitam bahkan mayat mereka tidak ada.


Shiro bahkan berpikir kalau membiarkan para Dark Elf ini hidup adalah sebuah kesalahan. Jika mereka semua ia musnahkan di dalam Gate, mungkin mereka tidak akan menderita seperti ini dan mayat mereka tidak akan dimanfaatkan oleh Organisasi Hitam.


Namun semua telah terjadi, penyesalan tetaplah sebuah penyesalan, tidak akan ada yang berubah meskipun penyesalan datang, semuanya akan tetap sama.


Mereka diam di lokasi itu cukup lama, setelah kondisi mulai merasa stabil, Shiro memandang kepada Lidya dan Dark Elf yang penuh amarah itu.


"Jadi, apa rencana kalian kedepannya?"

__ADS_1


__ADS_2