Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
75. Altar


__ADS_3

Shiro mendarat di pulau kecil yang berada di tengah-tengah danau.


Pulau tersebut seperti pulau pada umumnya dengan luas sekitar 1 hektar. Pulau yang bisa dibilang cukup kecil.


Sekeliling pulau bisa dilihat dengan mata telanjang, yang hanya bisa terlihat beberapa pohon kayu dan sebuah reruntuhan yang berada di tengah-tengah pulau.


Shiro menjadi penasaran melihat reruntuhan di tengah-tengah pulau.


"Mari kita mendekat." ucap Shiro ringan kepada Unseen.


Unseen mengangguk, ia maju untuk pertama kalinya, memimpin jalan Shiro di depan. Ia bergerak cepat diantara bayangan dan perlahan mendekati reruntuhan tersebut.


Melalui persepsinya, Shiro dapat merasakan Aura samar yang terletak di dalam reruntuhan tersebut. Aura tersebut cuma ada satu, namun Shiro merasakan keakraban dari Aura tersebut.


"Sepertinya aku pernah merasakan Aura seperti ini, tapi dimana ya ?" Shiro mencoba mengingat-ngingat kembali. Namun hasilnya nihil, ia masih tidak bisa mengingatnya.


"Yaudah, yang penting masuk dulu. Mungkin ketika melihatnya secara langsung, aku bisa mengingat kembali hal tersebut."


Shiro memberanikan diri mengikuti Unseen masuk ke dalam reruntuhan.


"Apa ini."


Shiro tercengang ketika memasuki reruntuhan tersebut. Beberapa Patung batu berbentuk Thunder Bird seukuran 10 meter berbaris di dinding ruangan reruntuhan.


Para patung batu Thunder Bird berbaris menghadap sebuah altar Batu yang berada di tengah ruangan reruntuhan.


Shiro memfokuskan diri menggunakan kemampuan persepsinya, ia memeriksa setiap patung namun tidak ada sedikitpun Aura pada patung-patung batu tersebut.


"Huh, sepertinya aman."


Shiro merasa lega ketika akhirnya mengkonfirmasi bahwa mereka semua hanyalah patung belaka, bukan sebuah monster yang tersegel di dalam patung batu.


Shiro kembali memandangi altar yang berada di tengah, ia merasakan satu-satunya Aura di reruntuhan ini yang berada di tengah-tengah altar. Ia ingin melihat, apa yang berada di puncak altar tersebut.


Namun Shiro tidak akan menaiki tangga altar tersebut, ia takut akan ada jebakan di tiap tangga menuju altar.


Mengambil jalan aman, Shiro menggunakan Frost Wing untuk terbang dan melihat apa yang berada di puncak altar.


` swuusshhhh~`


` swuusshhhh~`


Shiro mengepakkan sayapnya, dengan lembut ia terbang menuju altar.

__ADS_1


Saat melihat apa yang berada dipuncak altar, Shiro terkejut. Ia juga akhirnya teringat mengenai Aura yang berada di puncak Altar.


Auara tersebut merupakan Aura yang terdapat pada susunan teleportasi.


Ya, yang berada di puncak altar tersebut, bukanlah benda atau makhluk apapun. Melainkan sebuah goresan-goresan di puncak altar yang merupakan sebuah susunan teleportasi.


Dengan ringan, Shiro mendarat di puncak altar. Namun ia berada di pinggiran, bukan di dalam susunan teleportasi. Ia khawatir ketika ia berdiri di susunan teleportasi, ia akan dipindahkan ke tempat yang tidak ia ketahui.


Bisa-bisa, ia akan dikirim ke isekai lagi. wkwk


Shiro memperhatikan susunan teleportasi yang cukup berbeda dengan susunan teleportasi yang biasa digunakan untuk berpindah kota.


Semakin lama ia melihat, semakin pusing ia memikirkannya. Akhirnya Shiro menyerah, karena ia tidak tahu mengenai susunan teleportasi sedikitpun.


Shiro memandangi Unseen yang berada di bayangan dibawah kakinya, "Hei, Unseen. Kau kan berasal dari Gate, apakah kau tidak tahu den susunan teleportasi ini ?"


Suara Unseen terdengar di telinganya Shiro. "Tentu saja aku tahu."


"Oh, kau sudah tahu, kenapa kau tidak memberitahuku ?" ucap Shiro dengan nada agak kesal.


"Kau tidak bertanya, ku kira kau sudah tahu juga." balas Unseen.


"Huh, yasudah. Coba beritahu aku mengenai susunan teleportasi ini ?" Shiro mengalah, ia tidak ingin berdebat dengan Unseen.


"Oke, begini. Seperti yang kita ketahui, setiap Gate mensimulasikan asal tempat tinggal dari para makhluk yang terbuang ke dalam Gate. Nah, sebelum terbuang ke dalam Gate.."


Shiro memotong perkataan Unseen, ia sudah tahu tentang asal-usul monster-monster Gate dari Unseen. "Kenapa kau tidak langsung memberitahukan tentang susunan teleprtasi ini, kau tidak perlu menceritakan kembali mengenai asal-usul monster Gate kepadaku."


"Okelah kalau begitu, ruangan ini adalah ruangan altar tempat persembahan. Kemungkinan besar, susunan teleportasi ini mengarah kepada tempat raja tinggal."


Mendengar penjelasan singkat Unseen, Shiro memikirkan sesuatu. "Tempat raja ? Mungkinkah....?"


Sebelum Shiro menjawab, Unseen mengkonfimasi kebenarannya di pikiran Shiro. "Ya, tepat sekali. Ruangan raja memiliki arti lain, yaitu ruangan tempat Boss monster berada."


Shiro sangat bersemangat ketika mendengar bahwa dengan susunan teleportasi ini mengarah ke ruangan Boss.


Namun ucapan Unseen kembali terdengar dan membuyarkan lamunannya. "Namun jangan senang dulu, susunan teleportasi ini hanya bisa digunakan sekali. Kalau kau masuk sendirian dan gagal mengalahkan Boss, yang lain tidak akan bisa memasuki ruangan Boss lagi. Itu berarti, Gate ini akan gagal kalian selesaikan."


Shiro mengangguk mengerti, ia baru tahu mengenai resiko ruangan Boss yang seperti ini. Karena yang ia tahu, ruangan Boss adalah ruangan Boss di lokasi normal. Bukan tempat khusus seperti ini.


"Jadi ini tempat persembahan para Thunder Bird ke raja mereka ya ?" gumam Shiro.


"Tidak, kau salah."

__ADS_1


Mendengar jawaban Unseen, Shiro mengerutkan kening kebingungan. "Hah, maksudmu ?"


"Tidak, aku tidak akan memberitahumu. Aku tadi ingin menceritakannya, tapi kau malah memotong ucapanku."


Mendengar kata-kata Unseen, Shiro tahu bahwa ia merajuk.


"Maaf Unseen, aku tidak akan mengulanginya lagi. Akan ku masakkan apa yang kau mau." Shiro mencoba membujuk Unseen.


"Tidak." Unseen menolak.


"Ayolah, mau ya, ya."


Shiro berulang kali mencoba membujuk Unseen, hingga akhirnya Unseen luluh dengan bujukan Shiro tentang makanan dengan Aura tinggi dan liburan beberapa hari.


Setelah sepakat, Unseen mulai menceritakan apa yang ia tahu. Shiro mendengarkan dengan seksama. Ia tidak lupa mengeluarkan catatan, dan mencatat apa yang Unseen katakan.


Waktu berlalu.


Dari penjelasan Unseen, Shiro mendapatkan berapa berita.


Bahwa altar ini digunakan oleh para makhluk di Benua Tak Berujung (Endless Land), untuk menyembah sang God.


Setiap makhluk mempunyai altar untuk menyembah sang God. Mereka semua hanya mempunyai tuhan yang sama. Sehingga mereka menyembah yang sama pula.


Namun Unseen tidak tahu, mengapa mereka semua menyembah God yang sama ?


Yang ia ketahui, bahwa mereka semua menyembah sang God sudah dari leluhur atau nenek moyang mereka. Sehingga mereka sebagai kaum muda hanya mengikutinya.


Bahkan, dari apa yang dijelaskan Unseen. Gate ini sendiri merupakan perlindungan dari God untuk mengatasi kepunahan atas ras mereka ketika Endless Land terjadi kekacauan.


Mendengar penjelasan Unseen, Shiro kembali bingung, ia mengerutkan kening mencoba mencerna informasi baru tersebut.


Ia bertanya-tanya tentang eksistensi God di Endless Land, namun Unseen tidak tahu apa-apa tentang God. Ia hanya mendengarkan tentang God dari leluhur mereka.


Selain itu, Shiro juga bingung kenapa God membiarkan kekacauan dan perebutan kekuasaan terjadi di Endless Land ? Lalu kenapa God memberikan mekanisme perlindungan seperti ini bagi pihak yang kalah ?


Semua pertanyaan di benak Shiro membuat misteri tentang Endless Land menjadi semakin kacau. Suasana yang semula mulai cerah, malah menjadi semakin berkabut.


"Sudah, tak perlu dipikirkan. Kami saja yang hidup disana tidak tahu apa-apa, apalagi dirimu. Fokus saja untuk menghadapi Boss selanjutnya."


Ucapan Unseen menyadarkan kembali Shiro. Unseen benar. Fokusnya sekarang hanya pada penyelesaian Gate.


Mengenai misteri-misteri tersebut, Shiro hanya bisa memikirkannya lain waktu.

__ADS_1


Shiro mengeluarkan alat komunikasi yang diberikan Leon kepadanya selain 2 buah Kristal kecil seukuran kelereng.


"Halo, ini aku Zero. Aku punya informasi penting yang perlu diberikan. Dengarkan aku..."


__ADS_2