
Setelah berhasil mengalahkan One-Horned Giant Cyclops dan sekumpulan Giant Cyclops, Shiro mulai mengumpulkan jarahan.
Selain mengambil bola mata dan Inti Kristal dari monster-monster itu, Shiro juga mengambil tanduk kecil satu-satunya milik One-Horned Giant Cyclops.
Bersamaan dengan berakhirnya acara pengambilan material, Unseen juga kembali ke tempat Shiro dan menyerahkan hasil buruannya.
Shiro hanya mengambil bola mata Giant Cyclops, untuk Inti Kristal, Shiro biarkan untuk Unseen konsumsi sebagai cemilan dalam mengisi kembali Aura yang telah hilang.
"Ayo kembali."
Setelah mengambil material tersebut, Shiro mengajak Unseen untuk keluar dari Gua. Mereka akan mengajak Ume kembali ke dalam Gua untuk mengecek harta jarahan yang dimiliki para Giant Cyclops.
Unseen mengangguk, mereka pun keluar dari Gua dengan santai.
...****************...
Disisi lain.
Ume bersembunyi di balik pohon besar sambil terus memandangi mulut Gua. Ia tahu kalo pria berjubah putih (Shiro) itu kuat, tapi ia sedikit khawatir. Menghadapi musuh sebanyak itu, pasti tidaklah mudah.
Ume tidak pernah mengalihkan pandangannya dari mulut Gua, bahkan ia berniat untuk masuk juga. Namun ia masih mengingat nasihan Shiro, sehingga ia hanya bisa memata-matai dari kejauhan.
Tak lama kemudian, Ume mendengar suara raungan Giant Cyclops dari dalam Gua. Raungan Giant Cyclops membawa bayangan psikologis bagi Ume. Ia seakan melihat rekan-rekannya ditangkap oleh Giant Cyclops.
Kaki Ume menjadi lemah, ia terduduk di tanah. Ia terus memandangi mulut Gua, takutnya ada Giant Cyclops yang keluar. Jika begitu, itu berarti Pria berjubah putih (Shiro) sudah dikalahkan oleh musuh.
Ume hanya bisa melihat situasi dari kejauhan, Ia tidak memiliki kekuatan untuk mendekat.
Tiba-tiba Aura yang menyelimuti tubuhnya ada yang menghilang. Itu adalah Skill Stealth yang Shiro terapkan ke tubuh Ume.
Ume merasakan kalo skill tembus pandang yang diterapkan pada dirinya telah menghilang. Ume merasakan urgensi dalam hatinya.
"Sial, semoga dia tidak kenapa-kenapa."
Ume mencoba bangkit dan pergi ke dalam Gua. Jika Shiro terluka, sebagai seorang Pahlawan tipe Support, ia bisa membantu dalam menyembuhkan dan memberikan Buff kepada Shiro.
Ada penyesalan di hati Ume, seharusnya ia mengikuti Shiro masuk ke dalam Gua, bukannya hanya bersembunyi dan menunggu hasil di kejauhan.
"Hei, mau kemana? Bukannya sudah kubilang untuk menunggu disini."
Tiba-tiba sebuah suara terdengar di telinga Ume, ia memandang seorang pria berjubah putih dalam keadaan tanpa luka sedikitpun.
"Syukurlah kau baik-baik saja."
Melihat kembalinya Shiro, Ume menitikkan Air matanya. Kemudian Ume melompat dan memeluk Shiro dengan kencang.
"Aku kira kau kenapa-kenapa, soalnya..." ucap Ume dengan sesegukan.
__ADS_1
Shiro dengan gemetar membalas pelukan Ume, namun ia masih ragu.
Kemudian Unseen muncul dari bayangan Shiro dan menabrak siku Shiro. Sehingga terpaksa Shiro membalas rangkulan Ume.
Shiro hanya bisa melihat Unseen kembali ke dalam bayangannya dengan senyum mengejek.
"Awas kau nanti ya! " ancam Shiro di benaknya.
Kemudian Shiro mengusap punggung Ume yang telah terlanjur ia peluk. "Udah tidak apa-apa, semuanya sudah selesai kok."
"Benarkah ?" tanya Ume.
Kemudian Ia melihat tangannya yang masih memeluk Shiro. Ume langsung menjadi malu, pipinya memerah. Dengan cepat, ia langsung melepaskan pelukannya.
"Iya, kalo tidak percaya, mari ikuti aku ke dalam."
Ume mengelap air matanya kemudian mengangguk. Ia lalu mengikuti Shiro memasuki ke dalam Gua.
Baru pertengahan jalan, ia melihat sebuah mayat Giant Cyclops yang terkapar begitu saja di tanah Ini adalah mahakarya Unseen.
"Ini kau yang melakukannya?" tanya Ume.
Shiro menggelangkan kepalanya, "Bukan, ini perbuatannya Battle Pet ku."
Kemudian Unseen terkihat keluar dari bayangan Shiro. Ia lalu berdiri di bahu Shiro dan menghadap Ume. Unseen lalu membuat pose memamerkan otot bagaikan meniru gerakan binaragawan.
"Apa kau mau mengambilnya?" tawar Shiro kepada Ume mengenai tubuh Giant Cyclops.
Mendengar tawaran Shiro, Ume menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu. Ini semua punyamu."
Karena tidak ada yang menginginkannya, mayat Giant Cyclops ditinggalkan begitu saja. Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke dalam Gua.
Ketika sesampainya di dalam Gua, Ume menutup mulutnya karena terkejut. Ia tidak menyangka monster yang bisa membantai tim mereka, akan menghadapi situasi tragis seperti saat ini.
Ume lalu merasakan sedikit rasa takut ketika melihat Shiro.
"Mari ikuti Aku ke tempat rampasan perang mereka."
Ume mengangguk. Ia mengikuti Shiro ke tempat belakang bukit kecil yang ada di ujung Gua.
Shiro membawa Ume ke belakang tempat tidur One-Horned Giant Cyclops, tempat rampasan perang yang mereka kumpulkan.
"Silahkan ambil yang kau perlukan."
Kata-kata Shiro mengejutkan Ume. Ia kira akan ada permintaan bagi hasil atau semacamnya.
Melihat Ume terdiam cukup lama, Shiro pun bertanya kepada Ume: "Ada apa?"
__ADS_1
Ume terbangun dari renungannya, "Tidak apa-apa. Apakah kau tidak menginginkannya?"
Shiro menggelengkan kepalanya, "Tidak, ini bukan hak ku."
Mendengar jawaban dari Shiro, Ume semakin kagum kepada Shiro. Tidak hanya kuat, namun juga baik hati da dermawan. Nilai Shiro dimata Ume meningkat pesat.
"Tunggu apa lagi. Ambillah. Jangan terlalu lama, sebentar lagi malam."
Ume tertegun, kemudian Ia mulai mengambil barang-barang kepunyaan teman-temannya, beserta dengan Skill Book. Ia berniat akan memberikan semua ini kepada keluarga rekan-rekannya yang terbunuh.
Tak lama kemudian, Ume selesai mengumpulkan jarahan. "Selesai."
Shiro mengangguk, "Oke, mari kita keluar."
Shiro memimpin Ume keluar dari dalam Gua. Setelah keluar, mereka melihat kondisi lingkungan yang mulai gelap.
Melihat kondisi sudah mendekati malam, keduanya mulai mencari tempat strategis untuk bermalam. Walaupun bermalam di Gua adalah tempat yang bagus, namun tidak mungkin bagi mereka tinggal di tempat yang dipenuhi mayat dan bau darah.
Akhirnya malam pun tiba, dan mereka sudah menemukan tempat menetap sementara. Setelah memasang tenda masing-masing, mereka mulai barbecue-an sederhana untuk mengisi perut dan sedikit menghangatkan dinginnya malam.
Saat makan tersebut, mereka tidak banyak bicara. Tapi Ume memutuskan untuk jaga malam. Tentu saja Shiro menolaknya.
Debat mereka cukup panjang, namun setelah memberi berbagai alasan, akhirnya Ume setuju dengan pendapat Shiro.
Setelah debat tersebut, suasana menjadi dingin kembali. Mereka mulai mengerjakan aktivitasnya masing-masing.
Setelah membersihkan perlengkapan berbecue mereka, Shiro kembali ke tempat api unggun berada dan melihat Ume yang sudah tertidur di dekat sana.
Melihat senyum Ume ketika tertidur, tanpa sadar Shiro ikutan tersenyum. Ia kemudian mengangkat tubuh Ume dan membawanya ke tendanya.
Tak lupa ia menyelimuti tubuh Ume dengan selimut yang ada di tenda Ume. Setelah itu, Shiro keluar dari tenda Ume dan kembali ke dekat api unggun.
Moment-moment sebelumnya menyentuh hati Shiro. Sebuah kenangan lama yang ingin Ia lupakan, kembali lagi.
Saat ia mengangkat tubuh Ume yang tertidur dan membawanya ke tendanya, Shiro menjadi teringat kenangan saat membawa putrinya yang tertidur di pelukannya saat ia sedang kerja di rumah.
Saat itu, ia juga melihat senyum puteri kecilnya saat ia tertidur. Saat itu, Shiro, tidak Alvin menghentikan pekerjaannya dan menggendong puterinya ke kamar tidurnya.
Hal sederhana ini, membawa kenangan bagi Alvin atau Shiro yang sulit untuk dilupakan.
"Benar kata orang, sejauh-jauhnya orang pergi, Mereka tidak pernah melupakan keluarganya."
Shiro bergumam pelan, kemudian menutup matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia kemudian mendesah pelan dan melirik ke tenda milik Ume.
Dari Aura tenang Ume, Shiro sudah memastikan kalau Ume benar-benar tertidur. Mungkin karena pertarungan dan kelelahannya sebelumnya, yang membuat Ume cepat tertidur.
Kemudian Shiro mengeluarkan Orb yang ia dapatkan dari One-Horned Giant Cyclops.
__ADS_1
"Mari kita coba."