Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
64. Berkelana


__ADS_3

"Aku ingin bertemu Ketua, apakah beliau sibuk ?" tanya Shiro.


Anastasya tersenyum dan membukakan pintu, "Pas sekali, ia sedang kosong saat ini. Silahkan masuk ! "


Shiro dengan sopan membungkuk berterimakasih, lalu ia masuk ke dalam Ruangan Ketua Asosiasi.


Suara deret pintu terdengar ketika Shiro membuka pintu.


Di dalam, ia melihat Ketua Asosiasi 'Thomas Schven' yang sedang asik menikmati minum teh di mejanya.


"Silahkan duduk." ucap Ketua Asosiasi.


Shiro duduk, dan tanpa basa-basi ia langsung mengucapkan tujuannya. "Ketua.. Aku ingin menjadi Petualang ! "


` pfftttt~`


` uhukk~ uhukk ~`


Teh yang Ketua Asosiasi minum menyembur keluar, ia terbantuk.


Ketua Asosiasi menatap Shiro dengan serius, ia tidak menyangka Shiro akan langsung membicarakan hal serius seperti ini. "Kenapa kau ingin keluar dari Asosiasi Pahlawan ?"


"Aku tidak bermaksud keluar dari Asosiasi Pahlawan, tapi aku ingin berkeliling dunia dan menjadi seorang Petualang. Kau tahu, badanku berkarat karena jarang sekali diberi kesempatan untuk bertarung." jelas Shiro.


"Kalau itu masalahnya, aku bisa memberimu banyak peluang untuk bertarung di dalam Gate. " tawar Ketua Asosiasi.


Tapi Shiro menggelengkan kepalanya, ia menolak. "Bukan itu alasannya. Masih banyak Gate yang tidak bisa dikelola Asosiasi, apalagi sekarang Gate lebih sering bermunculan. Aku ingin menyelesaikan Gate-gate tersebut dan bertarung untuk hadi lebih kuat."


Ketua Asosiasi terdiam ketika mendengar ucapan Shiro, ia menggosok keningnya.


"Lagipula, ini caraku menjadi seorang Pahlawan yang sesungguhnya." tambah Shiro sambil tersenyum lebar.


"Huh~"


Ketua Asosiasi tidak bisa membantahnya, ia hanya bisa mendesah pelan. "Baiklah kalau itu keinginanmu. Tapi aku punya satu syarat."


Shiro mengerutkan kening, "Apa syaratnya ?"


"Ketika Asosiasi butuh bantuanmu, datanglah dan bantu kami." ucap Ketua Asosiasi.


"Itu saja kah ?" Shiro tidak menyangka kalau Syaratnya sesimpel ini.


"Tentu saja. Selain itu, kami akan memberimu identitas dan izin khusus untuk masuk Gate sebagai bagian dari Asosiasi Pahlawan." tambah Ketua Asosiasi sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, tidak masalah. Tapi aku tidak berjanji bisa membantu sepenuhnya, aku hanya perlu berusaha sebisanya." jelas Shiro.


"Tidak apa-apa, itu saja sudah cukup."


` tepuk~`


` tepuk~`

__ADS_1


Ketua Asosiasi menepuk tangan, seakan memanggil seseorang.


Anastasya yang menunggu di depan pintu, kini ia masuk je dlaam ruangan ketika mendengar tepuk tangan dari Ketua Asosiasi.


Anastasya membungkuk hormat, "Apakah ada yang bisa saya bantu Ketua?"


"Buatkan surat izin khusus masuk ke dalam Gate untuk bocah ini, dan juga berikan ia bola komunikasi khusus." perintah Ketua Asosiasi.


"Siap, Laksanakan."


Anastasya lalu pergi dan menjalankan perintah dari Ketua Asosiasi.


"Ngomong-ngomong, bukankah kau sedikit terkenal sekarang?" ucap Ketua Asosiasi.


"Maksudnya? Aku tidak paham maksud Ketua." Shiro memiringkan kepalanya, ia tidak mengerti maksud dari Ketua Asosiasi.


"Oh, jadi kau tidak tahu ya ? hahaha."


Ketua Asosiasi tertawa, sedangkan Shiro malah jadi tambah bingung akibat respon dari Ketua Asosiasi.


"Maaf, maaf. Sekarang banyak berita tentangmu yang beredar di kalangan masyarakat dan para pahlawan."


"Berita apa ?" tanya Shiro penasaran.


"Tentang kau sang pembunuh berdarah dingin, pembunuh dalam gelap. Assasin yang sempurna, dan semacamnya. Kau beneran tidak tahu kah ?" ucap Ketua Asosiasi.


Shiro menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku baru tahu sekarang. Jika Ketua tidak memberitahunya, mungkin aku tidak akan tahu."


` tok~ tok~ tok~`


Suara ketukan tiba-tiba terdengar di tengah pembicaraan mereka.


"Silahkan masuk."ucap Ketua Asosiasi.


Pintu terbuka, dan ternyata Anastasya lah yang masuk. Ia membawa sebuah bola Kristal kecil seukuran bola tenis.


"Ini dia Ketua." Anastasya menyerahkan bola Kristal dan sebuah Id Card.


Ketua Asosiasi mengisyaratkan untuk menyerahkannnya ke Shiro. Shiro pun mengambilnya.


Setelah Shiro mengambil keduanya, Anastasya pamit keluar.


Lalu Shiro menatap Id Card dan Bola Kristal Komunikasi tersebut. Ia lalu bertanya mengenai bola Kristal itu. "Apa bedanya ini dengan bola Kristal komunikasi yang biasanya?"


"Sebenarnya sama saja, namun lebih terenkripsi dan hanya kedua belah pihak yang bisa berkomunikasi." jelas Ketua Asosiasi.


Shiro mengangguk, lalu ia memyimpan Id Card dan Bola Kristal Komunikasi tersebut ke dalam ruang penyimpanannya.


"Terimakasih Ketua." ucap Shiro berterimakasih dengan sopan.


Ketua Asosiasi Pahlawan mengangguk dengan penuh senyuman.

__ADS_1


"Karena urusanku disini sudah selesai, aku izin pamit dulu Ketua." ucap Shiro.


"Apakah kau tidak mau duduk dulu ? Kita minum tek bersama." ucap Ketua Asosiasi sambil menawarkan secangkir teh.


Namun Shiro menggelengkan kepalanya, ia menolak dengan sopan. "Tidak perlu Ketua, aku harus perlu menyiapkan beberapa hal untuk perjalananku nanti."


"Apakah kau akan pergi hari ini ? " tanya Ketua Asosiasi.


"Niatku memang seperti itu Ketua." jawab Shiro.


"Aku doakan keberhasilanmu kalau begitu."


"Terimakasih Ketua."


Lalu Shiro bangkit, ia membungkuk dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Saat keluar, Anastasya pun tersenyum dan membungkuk ketika Shiro lewat. Ia pun mengikuti Shiro keluar.


Seperti saat Shiro masuk, para pahlawan lainnya yang melihat Shiro, langsung menyingkir.


Shiro mencoba menahan senyumanya, karena ia tahu alasan mereka menyingkir. Semuanya hanyalah sebuah kesalahpahaman belaka, namun ia tidak berniat memberitahukan kebenarannya.


"Hati-hati dijalan." ucap Anastasya melambaikan tangannya.


Shiro menoleh ke belakang, dan ia tersenyum Ia juga mengangkat tangannya dan melambai, membalas lambaian tangan Anastasya.


Lalu Shiro kembali ke rumahnya dipinggiran Kota A. Ia masuk ke rumah dan mulai menyiapkan segala macam persiapan yang diperlukan.


Dari mulai pakaian, peralatan masak portabel, perlengkapan mandi, makanan, cemilan, minuman dan lain sebagainya. Ia meletakkan semua itu dalam Inventorynya.


Shiro tidak membawa semua perlengkapan dan peralatan. Karena ia mungkin masih akan kembali lagi ke rumah ini. Toh, berkelana bukan berarti ia pindah sepenuhnya.


Ia masih akan kembali dan pulang untuk rehat di kemudian hari. Mungkin aja di masa depan, rumah ini akan menjadi rumah bagi keluarganya.


Bisa saja bukan ? Semuanya bisa saja terjadi ya kan !


Shiro menutup pintu dan pergi menuju gerbang Kota. Ia menggunakan pakaian kasual biasa, bukan pakaian yang biasa ia gunakan saat menjadi pahlawan. Hanya kimono pria putih, dengan corak biru ungu.


Shiro menghampiri penjaga Gerbang Kota yang bertugas. "Aku ingin menggunakan susunan teleportasi antar kota."


Shiro menunjukkan kartu identitasnya dan mengeluarkan 10 keping Gold.


Penjaga itu memeriksa identitas Shiro. Setelah identifikasi, ia dengan senang hati mengambil Gold yang Shiro berikan.


"Tolong ikuti Aku!" ucap Penjaga tersebut.


Shiro mengikuti penjaga tersebut. Sampai akhirnya ia muncul di dekat susunan teleportasi.


Disana sudah ada pihak yang bertugas menjaga Susunan teleportasi. Penjaga tersebut pemit pergi.


"Sebutkan tujuanmu." ucap Penjaga Gerbang teleportasi.

__ADS_1


"Tujuan pertamaku adalah Kota..."


__ADS_2