
"Namun sebelum tujuan kami terealisasi, sebuah bencana terjadi..."
Mendengar kata bencana dari Lelaki tua itu yang disertai dengan nada yang penuh amarah. Shiro dan Ketua Asosiasi terdiam, benvana seperti apa yang membuat lelaki tua itu mengatakan kalau bencana menimpa mereka. Keduanya tidak berani bertanya.
Lelaki tua itu tampak menghela napas berat, kemudian melanjutkan ceritanya: "Agak berat menceritakannya kepada kalian. Namun ini adalah sesuatu yang sangat penting, kalian harus tahu apa yang terjadi di masa lalu."
"Belum sempat kami berkompromi dengan pemerintah, kami mendapat berita kalau ada beberapa orang dari kami yang menghilang. Kami terkejut, sehingga kami memutuskan untuk menunda masalah kompromi dan memutuskan untuk mencari Ras Manusia super terlebih dahulu."
"Setelah berhari-hari kami mencari, akhirnya kami menemukan hasilnya. Ternyata, banyak Ras manusia kami yang ditangkap oleh pemerintah dunia. Tentang kami yang memiliki kemampuan super ketahuan, sehingga Ras manusia kami ditangkap dan dijadikan objek eksperimen."
"Pemerintah dunia mencoba untuk mengekstrak kemampuan yang kami miliki dan membaginya ke semua manusia. Ketika berita ini kami ketahui, kami semua sangat marah. Bahkan karena hal ini, banyak dari kami yang merubah keputusan kami untuk membantu manusia di dunia ini."
"Perbuatan mereka menyulut sumbu yang telah lama padam. Kemarahan menyelimuti orang-orang kami. Sehingga tragedi lama terjadi lagi dan lagi. Perang antar kedua belah pihak terjadi. Manusia kami mengandalkan kekuatan magis yang kami miliki dan manusia asli dunia ini menggunakan senjata pemusnah mereka yang disebut Nuklir."
"Perang terjadi, dari kedua kubu banyak yang tumbang di medan perang. Karena kami juga sudah menyebar ke berbagai negara, peperangan juga terjadi di banyak negara. Yang membuat kami kesal dan marah, mereka dengan seenaknya saja membunuh semua orang, tak perduli apakah orang itu bersalah atau tidak. Mereka semua membunuh semua orang yang pernah berhubungan dengan orang-orang kami."
Pada layar, ditampilkan kejamnya perang antar sesama manusia. Tangis tersendu di semua medan pertempuran. Peperangan yang tidak hanya merenggut nyawa dan menghancurkan lingkungan, tapi juga membunuh moralitas.
Shiro dan Ketua Asosiasi menyaksikan kejamnya perang yang terjadi. Shiro belum pernah melihat perang yang sesungguhnya walaupun di kehidupannya sebelumnya.
Sedangkan Ketua Asosiasi, ia pernah menyaksikan perang, namun itu terjadi antara manusia dengan Ras asing. Ia belum pernah melihat perang brutal antara manusia dengan manusia lain. Jadi gambar dilayar sangat menumbangkan kognisinya.
"Perang antar sesama manusia terjadi cukup lama, mereka seakan ingin kami musnah. Sampai-sampai kedua belah pihak mengabaikan Gerbang Dimensional yang muncul diantara kami."
__ADS_1
"Sampai akhirnya ada sebuah suara yang menggema di telinga setiap orang. Suara itu menggema sampai melekat dipikiran kami. Suara itu menyatakan kekecewaannya kepada umat manusia. Suara itu ingin kami bersatu, maka dari itu, kami tiba-tiba pingsan semua."
"Ketika bangun, kami lupa alasan kami berperang, kami lupa kalau kami semua berbeda Ras. Kami hanya mengingat kalau kami adalah manusia."
"Eh tunggu, kalau begitu, bagaimana kau ingat ini semua?" tanya Ketua Asosiasi bingung.
Lelaki tua itu tersenyum: "Meskipun ingatan kami berubah, namun semua jejak kami masih ada. Semua rekaman, buku, teknologi, sihir, semuanya menjadi saksi bisu kalau kami berbeda. Dunia seakan kembali ingin kami bersatu."
"Sebelum kemudian, berbagai saksi bisu itu mulai menghilang satu persatu dengan sendirinya. Kami memutuskan untuk mengumpulkan semua informasi yang kami ketahui dalam satu buku, semua tentang teknologi yang pernah ada di dunia asli, dan teknologi yang kami para Manusia super miliki."
"Setelah semua informasi yang kami miliki terkumpul, kami takut informasi yang kami kumpulkan juga akan ikut menghilang. Jadi kami menyegelnya menjadi sebuah buku. Dan informasi yang akan keluar akan berbentuk sebagai proyeksi."
"Ya, akulah informasi yang kalian inginkan!" ucap lelaki tua itu.
Sedangkan Ketua Asosiasi, ia terkejut karena mengetahui kalau lelaki tua itu bukanlah sosok yang hidup. Ia mengira kalau lelaki tua itu adalah jiwa dari seseorang yang melindungi buku ini. Namun ternyata ia salah, lelaki tua itu adalah informasi, layaknya sebuah teknologi AI.
Sementara itu, Shiro masih bingung terkait kenapa ia termasuk jiwa murni? Ia masih belum mengerti jawabannya.
"Tuan, apakah informasi yang engkau miliki hanya terkait dengan informasi sebelum buku ini terbentuk?" tanya Ketua Asosiasi.
"Tentu tidak, aku juga tahu beberapa hal terkait setelahnya. Seperti pembentukan aturan antara manusia yang memiliki manusia super dan manusia biasa setelah kami melihat dampak dari perang yang terjadi. Mengenai energi yang kalian sebut sebagai Aura yang tiba-tiba muncul di dunia ini, dan semacamnya. Oh ya, ngomong-ngomong, bayi yang dikontrak raja kami adalah Ketua Asosiasi generasi pertama, ia jugalah yang membentuk yang namanya Asosiasi Pahlawan."
Kemudian proyeksi lelaki tua itu tersenyum dan memandang Shiro: "Aku juga tahu tentang dirimu!"
__ADS_1
Boom~ Mendengar kata-kata lelaki tua itu, Shiro sangat terkejut. Sepertinya tidak ada rahasia lagi di depan proyeksi lelaki tua itu. Ia sepertinya tahu tentang identitasnya sebagai manusia dari dunia lain.
Walaupun Shiro sangat gugup, namun untungnya lelaki tua itu tidak berniat untuk membeberkannya. Jadi Ia tidak perlu khawatir.
Ketua Asosiasi saat ini tersenyum malu-malu, ia sepertinya ingin membicarakan sesuatu, namun ia agak malu membicarakannya. Sebelum akhirnya ia mengungkapkannya: "Tuan, bagaimana dengan teknologi yang kau bicarakan sebelumnya?"
"Hoho~ Itu hal yang mudah. Teknologi apa yang kau inginkan? Array pengumpul Aura? Alat teleportasi instan? Alat pendeteksi tingkat Aura? Alat pendeteksi Ras lain? Sinar elektromagnetik? atau apa?"
Banyak sekali teknologi yang disebutkan lelaki tua itu yang membuat Ketua Asosiasi tercengang. Dagunya hampir menyentuh lantai.
"Aku ingin semuanya?" ucap Ketua Asosiasi dengan penuh semangat. Ini adalah kesempatannya seumur hidup, jadi Ia tidak ingin hanya memiliki satu teknologi.
Meraba-raba dalam membuat teknologi membutuhkan waktu yang sangat lama. Mungkin saja tidak ada teknologi baru yang terbentuk sebelum ia mati.
"Hoho~ Kalau begitu, ini mungkin akan panjang. Apakah kau siap?"
"Iya, aku siap!" jawab Ketua Asosiasi dengan penuh semangat sambil memegang buku dan pulpen lengkap dengan alat perekam yang telah ia siapkan dari sebelumnya.
"Baiklah, Dimulai dari yang mana dulu ya? Oh ya, alat teleportasi instan. Pertama-pertama prinsipnya seperti ini..."
Proyeksi lelaki tua itu mulai memberitahukan tentang cara membuat alat teleportasi instan, Dimulai dari prinsip, bentuknya, bahan,dan prosesnya lengkap dengan apa yang perlu diperhatikan dan apa yang perlu dihindari.
Satu alat saja butuh beberapa jam, Shiro tidak tahan, sehingga ia pergi dari sana secara diam-diam. Ia tidak tahan lagi berada di dalam ruangan seperti itu.
__ADS_1