
Shiro meninggalkan mayat Giant Cyclops tergeletak begitu saja di tanah, ia lalu menghampiri Ume yang saat ini sedang dijaga oleh Unseen.
"Waw, keren. Kau terlihat sangat kuat, bisa mengalahkan monster jelek itu dengan mudah."
Shiro melihat mata Ume berbinar, ia memuji-muji kehebatan dirinya. Shiro tersenyum malu mendengar itu, namun karena ia memakai jubah, Ume tidak bisa melihat ekspresi Shiro saat ini.
"Biasa aja, ini hal yang normal. Bagaimana denganmu? masih lelah?" tanya Shiro.
"Tidak, aku sudah baikan, lihat ini."
Ume berdiri dan melompat-lompat di tempat, menandakan bahwa ia sudah penuh energi.
"Baguslah, sepertinya kau bisa kembali sendiri."
Mendengar ucapan Shiro, Ume terkejut, "Apa maksudmu?"
"Itu... Berbahaya disini, jadi lebih baik keluar dari Gate atau mencari tempat bersembunyi."
Jawaban Shiro membuat Ume terdiam, memang benar disini sangat berbahaya. Tapi ia merasa enggan untuk pergi.
"Bagaimana denganmu?" tanya Ume.
"Aku ? Aku akan terus menjelajah dan menyelesaikan Gate ini."
"Bisakah aku ikut denganmu?" pinta Ume.
"Tidak, itu berbahaya." Shiro menolak permintaan Ume.
"Tolong, sampai aku menemukan teman-temanku saja. Boleh ya?" Ume mencoba memohon kepada Shiro.
Shiro berpikir sebentar lalu mengangguk, "Oke, baiklah, tapi sampai ketemu temanmu saja ya. Sepertinya keempat temanmu tadi tidak terlalu jauh dari sini."
"Ehh, maksudku bukan mereka. Tapi temanmu yang lain."
Kali ini, Shiro yang bingung dengan ucapan Ume. "Apa maksudmu? Mereka bukan temanmu?"
"Tidak, Eh Iya. Eh gini maksudku, mereka juga temanku, tapi aku ingin menemukan temanku yang lain."
Mendengar jawaban Ume, Shiro mengerti. "Oh, jadi dimana temanmu yang lain?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Kami berpisah sebelumnya untuk membagi tim, memisah para monster jelek itu."
Shiro menggaruk kepalanya, ia bingung.
"Bukannya lebih baik menunggu teman-temanmu di luar Gate agar lebih aman. Mereka pasti akan kembali kesana."
"Benat sih, tapi..."
__ADS_1
Kali ini, Ume terdiam. Tidak ada lagi alasan yang bisa dia buat.
Melihat tingkah laku Ume yang aneh, Shiro dapat menebak kalau ada yang Ume sembunyikan dari dirinya.
Shiro mengeluarkan Katananya dan menyeka noda darah pada bilahnya.
"Jadi, sebenarnya, apa yang kau inginkan?"
Melihat Shiro, Ume menjadi ngeri. Ia pun akhirnya memberi tahu Shiro apa yang ia inginkan.
Ume menceritakan kepada Shiro kalau mereka awalnya berjumlah 50 orang. Tim mereka percaya diri bisa mengalahkan Giant Cyclops karena pertahanan Giant Cyclops cukup lemah dan serangannya cukup lambat. Mereka berencana mengurangi mobilitas Giant Cyclops dan membunuhnya.
Namun yang tidak mereka kira, ternyata Giant Cyclops memiliki skill Area jarak jauh untuk mengendalikan batu dan tanah.
Tim mereka dimusnahkan. Hanya 10 orang dari mereka yang kabur. Namun satu-persatu dari mereka mengorbankan diri di tengah perjalanan dan mencoba menunda waktu. Dari 10 orang tersebut, tersisa 5 orang termasuk dirinya.
Dari situlah, Ume berniat mengikuti Shiro untuk mengumpulkan mayat teman rekan setimnya. Dengan Shiro yang menemaninya, ia akan merasa aman.
Mendengar cerita Ume, Shiro akhirnya mengerti. Ia juga awalnya terkejut ketika mendengar 40 dari 50 orang dapat dibantai dengan mudah oleh Giant Cyclops.
Menurut pendapat pribadinya, Giant Cyclops sangatlah lemah. Mudah sekali Ia membunuhnya. Namun mengingat mereka hanya pahlawan biasa, Shiropun dapat memakluminya.
"Lalu, ada berapa Giant Cyclops yang kalian ketahui di Gate ini?" tanya Shiro.
"Kurang lebih ada 10, tapi kami berhasil membunuh 2, dan kau membunuh 1, jadi mungkin sisa 7."
Ume membuka mulutnya ingin menjawab, tapi ia berpikir, jika ia memberitahu lokasinya, pria berjubah hitam pasti akan pergi sendiri dan meninggalkannya seorang diri.
"Aku akan mengantarmu."
Mendengar jawaban dari Ume, Shiro mendesah pelan, sepertinya Ia tidak bisa membohongi wanita di depannya.
"Baiklah, baiklah. Tunjukkan jalannya."
Mendengar jawaban Shiro, Ume bersemangat. Ia ingin memeluk Shiro, namun ia mengurungkan niatnya.
Shiro menyimpan kembali Katananya dan berkata kepada Ume: "Sebelum itu, mari kita urus mayat Giant Cyclops ini."
Ume mengangguk, ia bersama Shiro menghampiri mayat dari Giant Cyclops. Mereka mulai membedah dan memotong tubuh Giant Cyclops untuk diambil material yang berharga.
Namun, Shiro mengerutkan kening setelah memilah bahan. Sebab, tidak ada yang berguna selain Inti Kristal.
Kulit Giant Cyclops tampak tipis. Kuku dan cakarnya tak sekuat belati di ruang penyimpanannya. Palingan matanya yang tampak berguna, namun karena satu-satunya mata Giant Cyclops ia potong, jadi tidak bisa ia manfaatkan.
Gigi dari Giant Cyclops cukup bagus, namun baunya yang membuat Shiro dan Ume tidak tahan. Entah apa yang dimakan Giant Cyclops ini semasa hidupnya. Namun Shiro beranggapan kalau semasa hidupnya, Giant Cyclops ini selala makan kotoran.
"Inti Kristal ini jadi milikku, sisanya terserah dirimu."
__ADS_1
Ume mengangguk, ia hanya mengambil kuku dan cakar Giant Cyclops.
"Sudah?" tanya Shiro.
Ume mengangguk, kemudian Ia memimpin jalan, "Ikuti aku."
Shiro mengikuti arah Ume, ia tidak lupa bersiul untuk memanggil Twin White Tiger yang tengah berkeliaran tidak jauh dari sana.
Kedatangan sosok Harimau Putih membuat Ume waspada, namun setelah diingat-ingat ia pernah melihat Shiro memberi perintah kepada Harimau Putih itu, sehingga ia menjadi lega.
Twin White Tiger kembali dan berubah menjadi Sepasang Kerambit yang berada di genggaman Shiro.
Ume tidak terkejut dengan hal itu, sudah banyak hal menakjubkan yang pernah ia lihat selama ini. Ia terus memimpin jalan.
Perjalanan terasa lama, Shiro pun terasa kesal. Jika ia pergi sendiri, mungkin ia sudah pergi jauh. Ia agak menyesal menyetujui permintaan Ume. Lebih baik ia mencari sendiri dengan kecepatannya daripada bergerak lambat seperti ini.
Tapi semuanya telah terjadi, penyesalan tetaplah penyesalan, ia tidak mau menjilat ludahnya sendiri.
"Huh..."
Shiro mendesah pelan kemudian mengeluarkan Twin White Tiger kembali.
Twin White Tiger dilempar Shiro sehingga berubah kembali menjadi Harimau Putih.
"Kau naik Harimau Putih ini, biar perjalanan kita menjadi lebih cepat."
Mendengar ucapan Shiro, Ume sadar kalau ia hanya menjadi beban. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya. Ia pun menuruti perintah Shiro tanpa sepatah katapun.
"AAUUMM~"
Twin White Tiger meraung dan langsung berlari kencang mengikuti arahan Ume.
Shiro pun mengikuti dari belakang sambil terus waspada dengan lingkungan sekitarnya.
Perjalanan menjadi semakin cepat, mereka akhirnya sampai di tempat pertama.
Ume memerintahkan mereka untuk berhenti, karena ia melihat bercak darah yang masih sedikit tergenang, diikuti dengan pecahan armor tak jauh dari sana.
Ume tahu kalau ini adalah armor yang dipakai teman setimnya yang mengorbankan diri sebelum dirinya.
Setelah mencari di sekitar sana, Ume dan Shiro tidak menemukan tanda-tanda bekas pertarungan atau jejak melarikan diri. Mereka pun membuat kesimpulan kalau teman setim Ume, sudah dimakan oleh Giant Cyclops.
Air mata Ume berlinang, ia mengumpulkan pecahan armor temannya.
Kemudian Ume terkejut dengan apa yang Ia temukan di balik pecahan armor temannya.
"Apa ini?"
__ADS_1