
"Kek, kalian semua bukan masyarakat dunia ini kan ?"
Shiro agak segan untuk bertanya pertanyaan tersebut, sebab, jika benar, ada kemungkinan Kakek Tingkas akan tersinggung. Waalupun, masih ada kemungkinan tidak akan terjadi apa-apa.
Shiro memandang Kaket Tingkas, Ia ingin melihat perubahan ekspresinya. Namun Kakek Tingkas masih memandang pemandangan desa didepannya dengan wajah datar.
Sesekali Kakek Tingkas menyeruput kopinya, Shiro menunggu Kakek Tingkas memberikan tanggapan atas pertanyaan barusan.
"Kau tahu, sudah lebih dari 50 tahun desa ini berdiri. Kami semua membangunnya dari awal hingga berbentuk seperti ini," tunjuk Kakek Tingkas kepada suasana desa yang masih gelap remang-remang.
"Slurpp~ Ahhhh~" Kakek Tangkis kembali menyesap kopinya.
"Seperti yang kau duga, kami semua tidak berasal dari dunia ini. Kami semua berasal dari dunia lain dan terjebak di Gerbang Dimensional." lanjut Kakek Tangkis.
"Dunia lain ? Endless Land ya Kek?" tanya Shiro.
Kakek Tangkis menoleh dengan terkejut, lalu ekspresinya kembali seperti semula. "Ya, kami semua berasal dari Endless Land. Kami diasingkan dari sana, lalu kami memutuskan untuk tinggal disini untuk mencoba bertahan hidup."
"Tapi Kek, jika kalian memang keluar Gate, dimana Gate tenpat kalian berada?" tanya Shiro depan penuh rasa penasaran.
"Gerbang Dimensional yang menghubungkan tempat kami diasingkan dan dunia ini, telah menghilang."
"Owh..... Maaf Kek sebelumnya, Jika Gate tersebut memang sudah terselesaikan, Terus bagaimana kalian semua masih ada Kek? Maaf ya Kek, karena setahuku, dunia ini punya kebijakan untuk memusnahkan semua makhluk yang berasal dari Gate." jelas Shiro.
"Siapa bilang manusia dunia ini yang melakukannya ?" tanya Kakek Tingkas dengan nada santai.
"Hah ? Maksudnya Kek ?" Shiro bingung, berusaha mencerna maksud dari Kakek Tingkas.
"Bangsa Kami sendiri yang membuat Gerbang Dimensional tersebut menghilang." jelas Kakek Tingkas masih dengan nada santainya.
Sedangkan Shiro, ia masih garuk-garuk kepala, masih tidak mengerti bagaimana Gate tersebut terselesaikan. Apakah Boss monster bukan dari Suku Cindaku ? atau Mereka dengan teganya membunuh Anggota Suku Mereka yang menjadi Boss Monster? Shiro masih bingung dengan jawabannya.
"Aku masih bingung Kek, bisakah Kakek jelaskan pelan-pelan?" pinta Shiro.
__ADS_1
"Huh~ Baiklah, Dengarkan baik-baik ya. Ceritanya akan panjang. Karena kau sudah tahu mengenai Endless Land, aku akan melewati bagian itu."
Shiro memgangguk, Ia mulai mendengarkan cerita yang disampaikan Kakek Tingkas.
Kakek Tingkas memberitahukan bahwa Ia sebenarnya bukan kepala Suku Cindaku pada awalnya. Ia hanyalah pengganti dari Kepala Suku di sudah meninggal.
Kepala Suku Cindaku sebelumnya meninggal demi kepentingan bersama dan mewasiatkan kepada Kakek Tingkas untuk menjadi penerusnya sebagai Kepala Suku Cindaku.
"Apakah kepala Suku sebelumnya kalah dalam perang di Endless Land ?" potong Shior.
Kekek Tingkas menggeleng, "Bukan, karena Ia bunuh diri, atau lebih tepatnya, kami yang membunuhnya."
Shiro terkejut, "Bagaimana bisa ?"
"Tentu bisa, dengarkan baik-baik ya, begini..." Kakek Tingkas melanjutkan ceritanya.
Mereka menyebut Gate sebagai Gerbang Dimensional yang mengasingkan mereka. Awalnya mereka baik-baik saja tinggal di dalam Gate. Hingga akhirnya mereka merasakan sesuatu yang buruk.
Aura di dalam Gate lama kelamaan menjadi kacau. Kekacauan tersebut membuat beberapa anggota Suku menjadi Gila. Kepala Suku sebelumnya mencari cara bagaimana mengatasinya.
Mereka terus mencari tempat tinggal baru, namun sejauh apapun mereka melangkah, mereka akan kembali ke tempat semula. Bagaikan sebuah paradox.
Mereka menyadari kalau tempat baru yang dimaksud bukan tempat di dalam Gate, namun tempat di luar Gate. Hingga akhirnya, mereka menemukan Riak Gate menuju dunia tempat Shiro berada.
"Lalu Kek, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Kepala Suku sebelumnya tidak bisa meninggalkan Gate ?" tanya Shiro dengan penasaran.
Kakek Tingkas menggeleng, "Ia bisa keluar dari Gerbang Dimensional, namun ada sebuah masalah baru yang muncul setelah itu."
Shiro menjadi sangat penasaran tentang apa yang terjadi selanjutnya. Ia mendengarkan lanjutan cerita Kakek Tingkas dengan seksama.
Kakek Tingkas memberitahu bahwa Ketika mereka keluar dari Gate, mereka melihat pemandangan hutan dan gunung yang begitu asri. Namun mereka juga dikejutkan bahwa tempat mereka berada yaitu Gate, berwarna merah pekat.
Mereka awalnya tidak memperdulikannya, namun lama kelamaan, mereka merasakan bahwa Aura di dunia ini bercampur aduk dengan Aura kekacauan dari Gate. Hal ini menyebabkan lingkungan sekeliling Gate tersebut, gosong, tanpa kehidupan sedikitpun.
__ADS_1
Sebagai Ras atau Suku Pecinta Alam, Kepala Suku Cindaku sebelumnya berusaha mencari cara untuk menghilangkan Gate merah tersebut.
"Jadi Kek, apakah berhasil ?" tanya Shiro.
Kakek Tingkas menjawab: "Tidak, kami semua berusaha mencari cara, namun tidak menemukan apa-apa. Sampai akhirnya Kepala Suku sebelumnya memberitahu kami bahwa satu-satunya cara yaitu dengan membunuhnya."
Shiro melihat ekspresi Kakek Tingkas mulai berubah, matanya berkaca-kaca. Namun Kakek Tingkas terus melanjutkan ceritanya.
"Awalnya kami tidak percaya, namun Ia berkata bahwa ini rahasia saat kami semua diasingkan dalam Gerbang Dimensional. Beliau bilang bahwa Sebuah aturan muncul di kepalanya seakan memaksanya untuk merebut daerah di dunia ini atau dibantai oleh masyrakat dunia ini."
Sambil terus menyesap kopi yang tinggal ampasnya saja, Kakek Tingkas terus melanjutkan ceritanya.
"Beliau ingin kami semua membunuhnya untuk menyelamatkan rakyatnya dan rakyat dunia ini. Namun kami semua merasa tak sanggup untuk membunuh Beliau. Hingga akhirnya, kami menemukannya meninggal keesokan harinya."
Suara Kakek Tingkas mulai parau. Jelas sekali rasa sedih di setiap kalimatnya.
Shiro ingin menghiburnya, tetapi Kakek Tingkas melambaikan tangannya seakan menolak dan berkata bahwa Ia baik--baik saja. Ia kemudian melanjutkan ceritanya.
"Kami semua Shock mendengar berita itu. Kami tidak percaya dengan apa yang terjadi. Kami awalnya saling tuduh-menuduh, sampai akhirnya kami menemukan surat yang ditinggalkannya sebelum bunuh diri. Kami pun mulai menerimanya perlahan-lahan. Dan benar saja, Aura dari Gerbang Dimensional perlahan-lahan mulai berkurang sampai akhirnya menghilang."
Kakek Tingkas menggosok kedua matanya, lalu ia melanjutkan Ending Ceritanya.
"Kamipun perlahan-lahan merasa lega dan bahagia, namun masih ada jejak kesedihan dihati kami semua. Demi pengorbanan Kepala Suku sebelumnya, kami berjanji akan mengasingkan diri, dan mencari Gerbang Dimensional di sekitar untuk dibasmi. Dan itulah Akhir ceritanya."
Shiro termenung, Ia memikirkan seandainya semua Suku dan Ras dapat hidup berdampingan dalam kedamaian. Pasti kehidupan akan lebih baik lagi.
Namun itu adalah hal yang mustahil. Sebab, banyak manusia yang rakus dan tamak akan harta dan kekuatan. Sulit bagi mereka untuk saling menerima. Apalagi jika ada Suku atau Ras yang suka berperang dan memiliki kekuatan yang cukup kuat. Pasti kedua belah pihak akan terjadi pertumpahan darah.
"Huh~" Shiro menghela napas berat.
Semua kehidupan damai yang Ia pikirkan, takkan mungkin bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Selama Gate masih ada, kedamaian di dunia ini tidak akan terjadi. Setiap Suku dan Ras selalu mencoba bertahan hidup. Sebab, Tidak semua Makhluk Gate seperti Suku Cindaku yang rela berkorban demi kecintaan terhadap alam.
__ADS_1
Shiro melirik salah satu Item di Inventorynya. Sebuah item yang Ia dapatkan dari sistem ketika Ia resmi menjadi seorang Pahlawan.
Sebuah item yang pasti dapat merubah dunia.