
Shiro melihat pemandangan pedesaan dengan penuh kekaguman dan nostalgia.
Lidya memandang Shiro dengan penuh senyuman, "Selamat datang di kediaman suku Cindaku."
Shiro masuk ke desa Cindaku ditemani oleh Lidya. Ia melihat pemandangan pedesaan dengan penuh nostalgia, sesuai dengan gambar sebuah pedesaan yang ada di kepalanya.
Banyak warga yang terlihat duduk bercerita, ada wanita tua yang sedang mengayak beras, menenun pakaian, merajut dan masih banyak lagi.
Nuansa pedesaan sangat terasa disini. Ketika berjalan, Shiro merasakan udara sejuk pedesaan disertai dengan alunan Seruking yang terdengar ditekinganya. Terlebih dilihat dari pakaian tradisional dan rumah mereka. Rumah kayu yang terbuat dari papan dan anyaman rotan, ada juga beberapa yang rumah panggung.
Pakaian adat mereka juga terlihat sangat Ken dengan budaya mereka. Prianya menggunakan celana yang dililitkan sarung tradisional, tanpa menggunakan atasan. Untuk wanitanya, pakaian mereka cukup sopan, dan untuk wanita tua, kebanyakan hanya menggunakan Sarung atau Kain sebagai pakaian mereka.
Kedatangan Shiro awalnya mengejutkan warga sekitar, namun kemudian mereka tersenyum ramah kepada Shiro. Ia pun membalas senyuman para warga tersebut.
Suasana pedesaan yang sangat kental dengan adat istiadat setempat membuat Shiro sangat nyaman berada disini.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Lidya.
Shiro tersenyum dan mengangguk ringan, "Suasananya sangat bagus, serasa pulang ke rumah."
"Bagaiamana kalau kau menetap saja disini," tawar Lidya kepada Shiro dengan nada penuh ajakan.
Namun Shiro menggeleng, "Tidak, aku hanya bisa tinggal sehari saja, aku masih perlu bepergian ketempat lainnya."
Mendengar penolakan dari Jack, Lidya menunduk sedih. Mereka melanjutkan berkeliling desa Cindaku.
Sampailah keduanya di sebuah rumah kayu semi-panggung yang cukup besar. Ada seorang sesepuh tua yang mendatangi mereka.
Perawakan orang sepuh tersebut cukup bungkuk dengan tongkat ditangannya. Selain itu, baik rambut, kumis, dan janggutnya beruban, namun tampak rapih dan gagah.
"Nak Lidya, siapa pemuda ini ? Aku belum pernah melihatnya di desa," tanya Sepuh itu.
__ADS_1
"Oh, kakek, dia adalah penyelamat kami. Mereka membantu kami mengalahkan musuh. Sebagai tanda terimakasih dan berhubung Ia mencari tempat istirahat, aku mengajak ke Desa."
Kakek sepuh itu kemudian menatap Shiro dengan tatapan tajam. Tak lama, ia mengendurkan tatapannya, "Oke, baiklah."
Lidya senang mendapatkan persetujuan tersebut, kemudian Ia mengingat sesuatu. "Oh, aku baru ingat. Kakek, Ini Zero. Zero, ini Kakek Tingkas, Kepala Suku di desa kami."
Ketika Lidya memperkenalkan keduanya, Shiro tidak mengulurkan tangannya seperti biasa saat kenalan. Karena rasa kesopanan dan mungkin perbedaan adat dan tradisi, Shiro membungkuk dan menyatukan kedua tangannya. "Halo Kakek Tingkas, Saya Zero. Salam Kenal Dan Mohon Izin untuk bermalam disini."
Kakek Tingkas hanya mengangguk tanpa ekspresi, meskipun begitu, ia mengagumi kesopanan Shiro. "Baiklah, masuk ke dalam. Masih ada ruangan kosong di rumah ini." Tunjuk Kakek Tingkas kepada Rumah di depan mereka.
Shiro tersenyum hangat dan mempersilahkan Kakek Tingkas untuk memimpin jalan. Ia mengikuti Kakek Tingkas yang mengantarkannya masuk ke dalam rumah.
"Nak Zero, ini kamar tempat tinggalmu sementara. Semoga kau betah. Jangan lupa, sebentar lagi waktu makan malam, silahkan datang ke Ruang makan."
Setelah Kakek Tingkas mengantar Shiro ke kamarnya, Ia lalu pergi.
Shiro hanya bisa masuk ke kamar lalu berganti pakaian kasual. Kemudian Ia pergi ke Ruang Makan yang dikatakan oleh Kakek Tingkas sebelumnya.
Shiro berjalan menuju Ruang Makan, disana terlihat lalu lalang beberapa wanita yang sedang menata makanan diatas meja makan, termasuk Lidya. Untuk Prianya, hanya ada Kakek Tingkas, satu pria paruh baya, satu remaja, dan 2 anak-anak.
"Nak Zero, silahkan duduk. Mari kita makan."
Seorang wanita tua datang dan memanggil Shiro. Entah dari siapa wanita tua itu tahu namanya. Mungkin Kakek Tingkas atau Lidya yang memberitahunya. Shiro tersenyum dengan sopan, lalu Ia duduk di salah satu kursi kosong yang ada disana.
Tak lama menunggu, semua hidangan telah dihidangkan diatas meja, semua anggota Keluarga telah berkumpul, duduk menghadap makanan diatas meja.
Kemudian mereka semua mulai menyantap hidangan diatas meja, termasuk Shiro. Mereka makan di penuh harmonis, tanpa suara sedikitpun. Sampai makanan habis, hanya suara ketika menyendok yang terdengar, kecuali kedua anak kecil yang rebutan paha ayam.
Ya, malam ini, mereka semua makan Gulai Pindang Ayam. Dengan berbagai lalapan seperti Terong dan Daun Singkong, lengkap disertai dengan Sambel Ijo Mentah.
Setelah makan, mereka sibuk kembali dengan urusan masing-masing. Para wanita mencuci piring, dan pria banyak yang keluar malam atau hanya duduk di teras rumah.
__ADS_1
Sedangkan Shiro, Ia kembali ke kamarnya dan tertidur.
Entah karena suasana yang nyaman, Shiro tidur cukup nyenyak. Meskipun begitu, Dini Harinya, Ia sudah terbangun. Ia sudah terbiasa bangun pagi, jadi sudah sewajarnya Ia bangun pagi sekali.
Walupun kondisi masih agak gelap, namun Rumahnya Kepala Suku sudah cukup ramai, banyak yang sudah mulai beraktivitas, terutama perempuan.
Shiro berjalan keluar rumah, dan hendak duduk di teras rumah. Namun ketika Ia membuka pintu, Ia melihat Kepala Suku Tingkas yanh sedang duduk di teras memandang pemandangan desa yang gelap ditemani dengan dua cangkir kopi.
Shiro hendak menutup pintu dan kembali ke kamarnya, namun Kakek Tingkas tiba-tiba memanggilnya. "Nak, silahkan duduk, tak usah sungkan."
Mendengar ucapan Kakek Tingkas, Shiro berbalik dan duduk diteras dekat dengannya. Kakek Tingkas terus memandang pemandangan desa dan menyodorkan salah satu cangkir kopi yang masih penuh.
"Terimakasih, Kek !" ucap Shiro dengan sopan.
"Slurpp~ Ah~"
Shiro menyesap kopi tersebut dan ikutan memandang pedesaan di depannya. Namun bedanya, Ia lebih terkejut memandang Bintang-bintang dilangit daripada memandnag suasana pedesaan.
Walaupun Shiro tidak terlalu suka dengan Kopi Hitam, namun Ia tidak membencinya. Suasana seperti ini memang cocok untuk ngopi dan sebat. Namun Ia tidak punya rokok disini.
Keduanya diam tak bersuara, mereka fokus memandang ke arah yang sama, namun dengan target yang berbeda.
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Shiro menanyakan sesuatu sebagai sarana memecah kepentingan.
"Kek, boleh bertanya sesuatu ?"
Tanpa mengubah ekspresinya, Kakek Tingkas menjawab dengan nada datar, "Apa yang ingin kau tanyakan ?"
Shiro agak ragu-ragu untuk membicarakannya, Ia takut ucapannya akan menyinggung Kepala Suku. Karena takut menimbulkan masalah, Ia ingin mengganti topik pembicaraan yang lain.
Belum sempat Ia bertanya, suara Kakek Tingkas terdengar di telinganya. "Tak perlu ragu, Nak. Silahkan tanyakan saja apa yang mengganjal dipiliranmu, jangan takut."
__ADS_1
"Huh~" Shiro menghela napas ringan, dan memberanikan diri untuk bertanya.
"Kek, kalian bukan masyarakat dunia ini kan ?"