Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
138. Kembali Berpetualang


__ADS_3

Kehidupan santai Shiro hanya berlangsung selama seminggu, setelah itu, ia akan kembali berpetualang di alam bebas.


Dalam seminggu ini, Shiro banyak sekali menghabiskan hari dengan melakukan berbagai macam kegiatan, seperti lari pagi, berbelanja, jalan-jala sore, ngegym dan semacamnya.


Shiro sangat menikmati seminggu santainya.


Walaupun sangat disayangkan Black Market baru seminggu yang lalu diadakan di Kota B, sehingga ia tidak bisa berkunjung kembali ke Black Market di hari-hari liburnya.


Setelah bersih-bersih rumah bersama Unseen, Shiro mengunci pintu dan sekali lagi meninggalkan satu-satunya aset yang ia miliki di dunia ini.


"Mari pergi."


Shiro melangkah keluar dari pekarangan rumahnya ditemani oleh Unseen yang langsung masuk ke dalam ruang bayangan yang berada di bawah kali Shiro.


Meninggalkan rumah, Shiro menghampiri toko tempa milik Roxie. Hari ini adalah hari dimana Shiro mengambil kedua jubahnya.


Jingle~


Memasuki toko tempa, Shiro langsung melihat Roxie yang sedang bicara dengan pelanggan lain. Shiro menunggu sebentar.


Setelah Roxie selesai bicara dengan pelanggan tersebut, baru giliran Shiro yang mendekat.


"Ada apa?" tanya Roxie dingin.


"Aku ingin mengambil kedua jubahku."


"Oh, Jubah itu ya? Mari ikuti Aku."


Shiro mengikuti Roxie ke Ruang kerjanya. Disanalah ia menyimpan dan mencatat semua pesanan yang ia terima.


"Duduk dulu, tunggu sebentar. Aku akan mengambilnya."


Dipersilahkan duduk, Shiro tidaklah sungkan. Ia duduk dan menunggu Roxie membawa kedua Jubah pesanannya.


Tidak menunggu lama, Roxie membawa kedua Jubah pesanannya.


"Ini dia."


Shiro mengambil Jubah yang diberikan Roxie.


"Sebelum kau membayar, aku akan menjelaskan sesuatu dulu."


Shiro mengangguk.


"Jubah hitam, aku bisa menggabungkan dengan material yang kau berikan. Efeknya tidak beda jauh dengan sebelumnya. Anti-identification, Cleaning dan Penyerapan Aura telah ditambahkan ke dalam Jubah itu."


Mendengar itu, Shiro mengangguk dan ia menunggu penjelasan Roxie selanjutnya.


"Masalahnya terletak di Jubah putihmu. Material yang kau berikan ternyata tidak bisa diwarnai, walaupun menggunakan pewarna terbaik. Sehingga warnanya akan kurang bagus jika akan ditambahkan ke dalam Jubah putihmu. Jadi aku tidak memodifikasinya. Namun jika kau tidak masalah dengan warnanya, aku bisa memodifikasi ulang, bagaimana?"


"Tidak usah, begini saja sudah cukup."

__ADS_1


Shiro tidak perlu repot-repot untuk menunggu lama lagi. Tanpa fungsi Penyerapan Aura sebenarnya ia tidak masalah.


Toh, metode pernapasannya bisa menyerap Aura dari alam juga, tidak kalah dengan efek Jubah Lich yang bisa menyerap Aura. Tapi, jika equipmentnya bisa menyerap Aura juga, itu tambah bagus baginya.


"Baiklah, ini material sisanya."


Roxie menyerahkan satu Jubah Lich yang tersisa kepada Shiro. Shiro tidak langsung mengambilnya, ia berpikir sebentar lalu memutuskan sesuatu.


"Apa kau mau membelinya?" tawar Shiro.


Mendengar tawaran Shiro, mata Roxie langsung berbinar, ia sangat bersemangat. "Benarkah? Apakah kau serius?"


Shiro mengangguk, "Selama harganya Pas."


Roxie dengan semangat menggenggam Jubah Lich tersebut dan kembali ke kantornya untuk mengambil uang.


"Ini 5.000 Gold. Dan biaya memperbaiki dan modifikasi jubah sebelumnya jadi Gratis, gimana?"


Shiro berpikir sejenak. Merasa harganya cukup wajar, Shiro setuju. Ia mengulurkan tangannya is Roxie.


"Deal?"


"Deal!"


Roxie mengantar Shiro keluar dengan penuh semangat. Ia tidak sabar untuk membuat Equipment bagus dari Jubah Lich yang ia beli dari Shiro.


Tidak tanggung-tanggung, Roxie langsung memasuki tanda 'Tutup' di depan tokonya, agar tidak ada orang yang mengganggunya dalam mengotak-atik material tersebut.


"Halo."


"Halo, Anastasya disini."


"Bisakah aku berbicara dengan Ketua, Aku Zero."


"Tunggu sebentar, ya."


Shiro menunggu sebentar, sementara panggilan dialihkan kepada Ketua Asosiasi, Shiro terus berjalan menuju Gerbang Kota A.


"Halo Zero, ada perlu apa?"


Mendengar suara Ketua Asosiasi, Shiro langsung menyatakan niatnya untuk kembali berpetualang.


"Apakah kau tidak ingin menetap lebih lama?" bujuk Ketua Asosiasi.


"Tidak perlu Ketua, seminggu ini sudah cukup bagiku. Lagipula masih banyak Gate di luar sana yang perlu aku bersihkan."


"Baiklah jika itu adalah keputusanmu. Aku berharap yang terbaik untukmu. Hati-hati, jangan terlalu memaksakan diri."


"Tenang saja Ketua. Aku akan mengingat semua nasihatmu. Oh ya, Aku nitip salam kepada Anastasya dan Brewthern."


"Oke, aku akan menyampaikannya nanti. Ngomong-ngomong, kau butuh partner ? Kalau butuh, aku mungkin punya beberapa pahlawan yang cukup kuat dibawah komandoku."

__ADS_1


Shiro berpikir sebentar, lalu menggeelangkan kepalanya. "Tidak perlu Ketua, aku lebih nyaman bergerak sendiri."


"Oke, semoga perjalananmu menyenangkan."


Kemudian Shiro mematikan alat komunikasi. Menuju pintu gerbang Kota A yang sudah terlihat. Shiro langsung bergegas kesana.


Setelah menunjukkan Identitasnya kepada Penjaga pintu gerbang, Shiro akhirnya dipersilahkan keluar dari Kota A.


Shiro tidak pergi menggunakan susunan teleportasi. Ia langsung pergi menuju hutan yang tidak jauh dari Kota A.


Suasana hutan di dekat Kota A masih tergolong ramai. Mungkin karena lokasi Shiro saat ini tidaklah jauh dari Kota. Masih banyak Pahlawan yang melaksanakan misi di hutan, seperti mengumpulkan herbal, menangkap monsters, dan lain semacamnya.


Shiro tidak berniat ikut campur, ia hanya numpang lewat sambil melihat aktivitas mereka sesekali. Tak jarang Shiro melambaikan tangan hanya untuk menyapa mereka. Walaupun ia tidak mengenalnya.


Setelah berjalan cukup lama, ia beristirahat sebentar sambil memakan berbagai macam cemilan yang ia bawa dari rumah.


Merasa tidak ada orang disekitar, Shiro baru mengeluarkan Jubah Putih yang ia ambil dari Toko Tempa Roxie sebelumnya, lalu mengenakannya.


Setelah itu, Shiro kembali melanjutkan perjalanannya dengan cukup cepat.


Selama perjalanan, Shiro sering kali bertemu dengan monster liar. Namun Shiro hanya membunuh 1 atau 2 untuk diambil dagingnya sebagai bahan makanan.


Sisanya, ia biarkan hidup berkeliaran. Shiro membiarkannya karena saat ini ia masih berada tidak jauh dari Kota A. Dan biasanya pahlawan kelas rendah akan menjalankan misi melawan monster-monster ini.


Jika Shiro membunuh mereka semua, mata pencaharian pahlawan kelas rendah akan menghilang.


Setelah beberapa jam berlari, hari ternyata sudah siang. Matahari sangat terik di tengah hutan yang rimbun. Shiro beristirahat dan mengeluarkan bekal yang ia buat sebelum pergi.


Bersama Unseen, Shiro melakukan makan siang pertamanya di hutan setelah seminggu lamanya.


Setelah merasa kenyang dan puas, Shiro kembali melanjutkan perjalanannya bersama Unseen.


Baru beberapa kilometer berjalan, Shiro merasakan ada Gate di sekitar sini.


"Hei, cepat sekali."


Shiro tidak menyangka, belum gelap sehari, ia sudah bertemu dengan Gate. Ia pun dengan semangat menghampiri Gate tersebut.


Mendekati Gate, Shiro melihat ada bekas jejak kaki yang memasuki Gate.


Melihat ini, Shiro hanya bisa mendesah pelan. Karena Gate ini sudah ditempati oleh orang lain, Shiro hanya bisa menyerah dan kembali melanjutkan perjalanan.


Dengan perasaan kecewa, Shiro beranjak pergi. Namun beberapa langkah pergi, Aura Gate sebelumnya menjadi lebih ganas.


Gate yang semula berwarna biru dan tampak tenang, kini berubah menjadi merah yang penuh keganasan.


Melihat ini, Shiro merasakan firasat buruk untuk pahlawan yang melaksanakan Raid.


Bodo Amat dengan pihak pahlawan Raid yang bertugas saat ini. Shiro langsung bergegas memasuki Gate tersebut.


"Semoga mereka baik-baik saja."

__ADS_1


__ADS_2