Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
142. Skill Book


__ADS_3

Kebingungan Ume menarik perhatian Shiro.


"Ada apa?" tanya Shiro.


Ume menggaruk kepalanya sambil menunjukkan apa yang ia temukan.


"Ini! Perasaan kami pernah melewati tempat ini, tapi kami tidak menemukan ini sebelumnya. Tiba-tiba benda ini muncul saja dibalik pecahan armor teman-temanku."


Apa yang ditunjukkan oleh Ume adalah sebuah Skill Book. Meskipun namanya adalah Skill Book, tapi itu berbentuk selembar kertas tua.


"Benarkah?" tanya Shiro.


"Iya benar."


"Coba lihat nama skillnya, kalo cocok, kau bisa menggunakannya."


Ume mengangguk, ia membuka gulungan Skill Book itu dan melihat nama Skillnya.


'Charge' adalah nama Skill yang ada di gulungan itu. Sebuah skill untuk para Tanker yang digunakan untuk melakukan dash ataupun tabrakan keras.


"Ngomong-ngomong, Job temanmu sebagai apa?" tanya Shiro.


"Temanku yang mati disini memiliki Job sebagai Tanker," jawab Ume.


"Oh, mungkin Skill Book itu milik temanmu."


"Meskipun benar, tapi aneh. Temanku itu sudah memiliki skill Charge, tidak mungkin Ia masih menyimpan Skill Book 'Charge'. Lagipula, tidak mungkin ia sembarangan menyimpannya. Ia pasti menyimpannya di ruang penyimpanannya. Dan apa yang ada di ruang penyimpanan tidak akan jatuh begitu saja."


Mendengar ini, Shiro juga merasa ada sesuatu yang janggal. Ia berusaha memikirkan sebab-akibat kemunculan Skill Book disini. Namun ia tidak bisa memikirkan apapun.


Shiro menyerah.


"Yaudah, kau simpan saja dulu. Itu tidak berguna bagiku. Mau kau gunakan untuk apa, itu terserah dirimu. Mari bergegas, kita lanjut ke lokasi selanjutnya."


Ume mengangguk mendengar perintah Shiro. Ia menyimpan Skill Book dan pecahan armor temannya kedalam ruang penyimpanan miliknya.


Menuju ke tempat selanjutnya, Ume memimpin jalan sambil menaiki tubuh Twin White Tiger. Shiro tetap mengikutinya dari belakang.


Walaupun jalan yang dipimpin oleh Ume merupakan jalan yang terbuka oleh Giant Cyclops yang lewat mengejar mereka. Tapi Shiro masih membiarkan Ume memimpin jalan.


Menuju ke lokasi kedua dan ketiga, mereka menjumpai situasi yang sama. Selain mengambil sisa-sisa armor ataupun senjata dari rekan setimnya, Ume juga menemukan Skill Book yang tidak jauh dari lokasi item yang ingin diambil Ume.


Melihat situasi ini, Shiro tidak bisa tidak berpikir tentang maksud dan arti semua ini.


Apakah ada yang ia tidak ketahui atau ini adalah siasat yang dibuat oleh Giant Cyclops untuk menarik umpan. Shiro tidak tahu.

__ADS_1


Setelah kejadian ini, Shiro yang memimpin di depan. Ia membiarkan Ume mengikutinya, karena ia merasa ada sesuatu hal yang aneh terjadi. Ia selalu waspada selama perjalanan.


Namun yang lebih aneh, menuju lokasi keempat dan kelima, mereka tidak menemui masalah apapun.


Mereka juga menemukan Skill Book didekat potongan armor ataupun senjata rekan setim Ume.


"Mengapa setiap tempat kematian pahlawan di dalam Gate ini selalu ada Skill Book?" Shiro berusaha memikirkan hal ini untuk mencari jawaban dari apa yang terjadi.


Apakah ini kebetulan? Tentu saja tidak.


Shiro belum pernah memasuki Gate dan memiliki rekan setim yang mati. Ia dulu selalu menjadi Scout. Ia cuma beberapa kali memasuki Gate bersama orang lain. Dan tidak pernah ada yang mati.


Kecuali saat didalam Gate Thunder Bird. Itupun karena terpisah, sehingga ia tidak tahu dengan keadaan orang lain.


Shiro mulai kepikiran, "Apakah setiap pahlawan yang mati di dalam Gate akan menjatuhkan Book Skill setelah kematiannya?"


Soalnya setiap Skill Book yang mereka temukan, terkait dengan Skill yang dimiliki oleh Pahlawan yang sudah mati tersebut.


Pernyataan ini mungkin saja benar. Namun ia perlu mengkonfirmasi langsung kepada Ketua Asosiasi.


"Sepertinya aku perlu menunda petualangan kali ini," gumam Shiro pelan.


"Kau bilang apa?" tanya Ume.


"Tidak, bukan apa-apa. Bagaimana selanjutnya? Apakah kau ingin kembali?" tanya Shiro.


"Tidak." Shiro menolak. "Kau terlalu lemah, kau hanya akan membebaniku saja."


Kata-kata Shiro cukup kasar, tapi memang itu kenyataannya. Mendengar ini, Ume tidak bisa berkata apa-apa. Ia menunduk lemah.


"Tapi, aku akan berada jauh dari lokasi kalian bertarung. Aku hanya akan menonton dari kejauhan. Aku janji tidak akan menjadi beban."


"Huh~ Yaudahlah, terserah padamu."


Shiro hanya bisa mendesah pelan dan menyetujuinya. Karena ia tahu, percuma saja berbicara kepada wanita, ia pasti akan kalah.


Mendengar ini, Ume menjadi senang, senyumnya melengkung lebar, "Mari, aku tunjukkan lokasi mereka."


Ume memimpin jalan dengan penuh semangat, sedangkan Shiro hanya bisa menggelangkan kepalanya dan mengikuti Ume.


"Oh ya, Aku sepertinya pernah melihat pedang yang kau gunakan."


Tiba-tiba, di dalam perjalanan Ume mengajukan pertanyaan yang membuat Shiro tertegun.


"Oh, dimana?" tanya Shiro.

__ADS_1


"Entahlah, aku juga tidak ingat."


Shiro menghela napas ketika mendengar ini.


"Aku sudah lama menjadi pahlawan, sudah bertahun-tahun lamanya. Mungkin ketika kau magang, aku sudah resmi menjadi pahlawan. Aku juga sering berkeliaran di Kota A. Mungkin kau pernah melihatku di Kota atau di Kantor Asosiasi Pahlawan dan kau tidak mengenaliku saat itu."


Mendengar cerita Shiro, Ume mengangguk. Ia merasa cerita Shiro cukup masuk akal.


Walaupun sebenarnya, ia merasa ada yang janggal dari cerita Shiro, ia masih berusaha untuk mempercayainya.


Melihat Ume tidak melanjutkan bertanya, Shiro akhirnya bisa bernapas lega.


Ia sengaja menceritakan cerita itu, terutama menekankan informasi kalau ia sudah lama bekerja di Asosiasi Pahlawan. Hal itu ia lakukan agar ia memberi kesan lebih tua kepada Ume. Agar prasangkanya menjauh dari kesan teman sekelas sebayanya.


Selama perjalanan selanjutnya, mereka tidak banyak berbicara. Mereka hanya beristirahat sekali untuk mengisi perut mereka melalui makanan instan yang tersedia di penyimpanan mereka masing-masing.


Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, Ume kembali memimpin jalan.


Setelah satu jam berlalu, Ume berhenti dan menunjuk ke arah Gua besar yang ada di depannya.


"Mereka ada disana."


Shiro mengangguk, ia mengalihkan pandangannya kepada Ume, "Kau tunggu disini, jangan ikut masuk."


Ume mengangguk.


Kemudian Shiro kepikiran sesuatu, ia berbalik kembali ke arah Ume. Shiro kemudian menepuk pundak Ume.


Ume merasa aneh ditepuk oleh Shiro. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Kemudian suara Shiro terdengar yang membuatnya kembali tenang.


"Santai, ini Skill ku. Sekarang, kau menjadi tak terlihat dan sulit di deteksi. Selama kau tidak membuat pergerakan besar, kau tidak akan ditemukan."


Ume mengangguk, "Sekarang, bolehkah aku ikut masuk denganmu?"


"Tidak." Shiro dengan tegas menolaknya.


Ume tahu kalau ia tidak bisa menggoyahkan hati Shiro kalo ini. Ia menyerah ikut masuk ke dalam, ia hanya bisa menunggu di luar.


"Baiklah, hati-hati."


Shiro mengangguk, ia memanggil kembali Twin White Tiger agar berubah menjadi Sepasang Karambit. Ia tidak ingin menggunakan Katana miliknya, ia takut dikenali oleh Ume.


"Unseen, mari kita pergi."


Unseen keluar dari bayangan Shiro, lalu ia memberi hormat militer ke arah Shiro. Ia mengikuti Shiro memasuki Gua tersebut sambil mengeluarkan kameranya dan merekam Shiro dari belakang.

__ADS_1


Melihat ini, Ume dari kejauhan tertawa cekikikan.


"Sungguh aneh, tapi sepertinya aku kenal dengan Aura yang ia pencarkan. Tapi dimana ya?"


__ADS_2