Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
55. Identitas Baru


__ADS_3

Ogito-sensei membawa Shiro ke Markas Pusat Asosiasi Pahlawan melalui jalur Khusus.


Tak lama kemudian, keduanya akhirnya tiba. Mereka disambut oleh pihak Asosiasi Pahlawan. Pihak yang menyambut mereka adalah orang yang sama yang datang ke tempat Shiro dipenjara untuk melakukan interogasi.


"Aku titipkan muridku, jaga ia baik-baik." ucap Ogito-sensei sambil membiarkan pihak Asosiasi Pahlawan membawa Shiro.


"Tenanh saja, keamanannya terjamin disini." ucap Pihak Asosiasi Pahlawan tersenyum sambil membawa Shiro masuk ke dalam.


Lalu keduanya masuk kedlaam, sedangkan Ogito-sensei kembali ke Akademi Beta.


Ogito-sensei masih punya banyak hal yang perlu dilaporkan di Akademi.


................


Di Markas Asosiasi Pahlawan.


Shiro dibawa masuk kedlaam ruangan besar, banyak sekali kursi didalamnya, Shiro dapat mengira bahwa ini adalah ruangan rapat.


"Nak, silahkan duduk dulu. Ketua ingin bicara denganmu."


Mendengar ucapan pihak Asosiasi Pahlawan, Shiro mengangguk. Ia kemudian duduk di tempat yang telah disediakan.


Sambil menunggu kedatangan Ketua Asosiasi Pahlawan tang dibicarakan sebelumnya, Shiro menyantap beberapa cemilan yang berada di atas meja.


Tak lama kemudian, suara derit pintu terdengar.


Shiro menoleh ke arah pintu tersebut, terlihat seorang pria tua dengan uban di sekujur rambutnya. Badan yang kekar dengan sedikit keriput dikulitnya.


Pakaian Formal yang dipakai oleh pria tua tersebut menambah kharisma pria tua itu. Shiro pun merasakan wibawa yang dibawa di pundak pria tua tersebut.


Pria tua terebut duduk ditempat yang berhadapan dengan Shiro. "Kau kah Shiro ? Perkenalkan namaku Thomas Schven, aku adalah ketua Asosiasi Pahlawan saat ini."


Mendengar perkenalan dari Pria Tua yang menyebut dirinya Ketua Asosiasi Pahlawan, Shiro buru-buru menyambar tangannya dan membalas salamnya. "Halo ketua, nama ku Shiro."


Melihat attitude Shiro, Ketua Thomas mengangguk mengagumi Shiro. "Santai saja, Sebagai Ketua Asosiasi Pahlawan, aku ingin mengucapkan terimakasih karena sudah membantu kami dalam menegakkan keadilan dna mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika tidak, ntah apa yang akan terjadi kedepannya."


"Tidak Pak Ketua, ini adalah tugas hamba sebagai calon Pahlawan untuk menegakkan keadilan. Lagi pula, perjuanganku tidak sebesar perjuangan pak ketua." ucap Shiro merendah.


Ucapan rendah hati Shiro, membuat Ketua Asosiasi semakin mengagumi Shiro. "Tetap saja, kami masih harus berterimakasih kepadamu. Sebagai rasa terimakasih ku, apa yang kau inginkan ?"


Shiro tertegun, namun ia tidak berani meminta. "Tidak perlu Pak Ketua, selama identitas dan tempat tinggalku terjamin, itu sudah cukup bagiku."


"Baiklah kalau begitu, anak buahku bilang, kaubl ingin menjadi pahlawan ?" tanya Ketua Asosiasi.

__ADS_1


"Iya Pak Ketua."


"Kalo begitu, kau perlu identitas batu sebagai seorang Pahlawan. Nama apa yang kau inginkan?"


"Apakah bisa mengganti nama Pahlawan Pak Ketua?" tanya Shiro bingung.


"Itu hal yang normal untuk mengganti nama Pahlawan, beberapa Pahlawan bahkan menggunakan nama kode sebagai nama Pahlawan. Bagaiman menurutmu ? Coba kau pikirkan dulu ! "


Mendengar penjelasan dari Ketua Asosiasi, Shiro mencoba memikirkan identitas yang cocok untuknya.


1 menit berlalu.


10 menit berlalu.


Akhirnya Shiro memutuskan, "Pak Ketua, aku sudah memutuskan, akan ku gunakan nama Zero."


Nama Zero merupakan plesetan dari nama Shiro. Ia tidak mau terlalu lama berfikir hanya masalah nama.


"Zero ya ? Kenapa kau memberi nama itu ?" tanya Ketua Asosiasi.


"Zero memiliki makna Nol. Yang berarti tidak ada, namun sebenarnya ada dan diperlukan." ucap Shiro asal-asalan.


Namun Ketua Asosiasi mengangguk mendengar penjelasan dari Shiro. "Lalu bagaimana dengan penampilanmu ?"


Ketua Asosiasi mengangguk, lalu ia memerintahkan bawahannya untukku segera membuatkan Shiro kartu identitas Pahlawan yang asli dan mengambilkan equipment yang diinginkan Shiro.


Walaupun Shiro mempunyai lisensi pahlawan ketika pas eksekusi mati, namun lisensi itu palsu dan langsung dihapus saat itu juga. Maka dari itu, Shiro tidak mendapatkan hadiah dari sistem.


Ngomong-ngomong, Shiro hampir melupakan keberadaan sistem. Sistem dibenak Shiro sangat hambar, kecuali saat promosi pangkat, ia tidak akan muncul untuk memberikan hadiah.


Tak lama kemudian, bawahan Ketua Asosiasi membawakan apa yang Shiro minta. Sebuah Jubah hitam panjang, jika dipakai bisa menutupi sampai kaki Shiro.


Selain itu, sebuah Id Card sebagai identitas kepahlawanan juga langsung diberikan.


Shiro tidak menyangka akan secepat ini, namun dari penjelasan Pak Ketua Asosiasi Pahlawan, sebenarnya mereka sudah menyiapkan Id Card untuk Shiro. Namun mereka perlu perubahan identitas untuk Shiro.


Shiro mengagumi efisiensi dari Ketua Asosiasi Pahlawan. "Terimakasih pak ketua."


"Itu memang hak mu." ucap Ketua Asosiasi dengan santai.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Pihak Keluarga Yuki ?" tanya Shiro.


"Itu sudah diatur, namun dalam waktu dekat belum bisa untuk menghukum mereka. Mungkin sekitar seminggu atau paling lama sebulan agar mereka bisa dihukum sepenuhnya." jelas Ketua Asosiasi.

__ADS_1


Menghukum Keluarga Yuki secara langsung pasti bakal menimbulkan prasangka ketidakefisienan terhadap Asosiasi Pahlawan yang dapat menjelekkan Asosiasi Pahlawan, sehingga perlu waktu. Shiro dapat memahami semuanya.


Melihat Shiro termenung, Ketua Asosiasi Pahlawan merasa bahwa Shiro agak gugup, ia mencoba menenangkan Shiri, "Kau tidak perlu takut, mereka pasti akan kena ganjarannya."


Namun bukan itu yang membuat Shiro merenung, namun karena pesan sistem yang sudah lama tidak terdengar kini terdengar kembali di benaknya.


"Tidak apa-apa Pak ketua, aku percaya pada kalian." ucap Shiro setelah terbangun dari lamunannya.


"Syukurlah kalau kau tidak apa-apa, oh ya, kau bebas untuk menjalankan misi didalam Gate yang berada di bawah kuasa Asosiasi Pahlawan. Jadi kuharap, kau bisa menjaga keselamatanmu saat menjalankan misi."


Pak Ketua Asosiasi menjelaskan mengenai tentang jenis-jenis misi dan pengaruh Gate.


Shiro mengangguk, menjadi pahlawan juga butuh uang untuk hidup. Dan uang tersebut berasal dari misi yang dijalankan. Shiro tahu tentang itu semua.


"Terimakasih atas pengingatnya Pak ketua." ucap Shiro.


"Kalau kau sudah mengerti, aku pamit dulu. Masih ada urusan lain yang menungguku. Sementara bawahanku yang akan mengantarkanmu ke kamar sementara sebelum kau mendapatkan rumah." ucap Ketua Asosiasi sembari bangkit dan berjalan keluar ruangan.


"Terimakasih pak ketua, berjalanlah perlahan."


Setelah Ketua Asosiasi pergi, Shiro diantar oleh bawahan Ketua Asosiasi ke kamar miliknya.


Kamar tersebut berada di gedung sebelah Markas Asosiasi Pahlawan. Lebih tepatnya di Asrama khusus Pahlawan yang berada dibawah komando Asosiasi Pahlawan.


Setelah mengucapkan beberapa kata, bawahan Ketua Asosiasi pergi meninggalkan Shiro di Asrama Asosiasi Pahlawan.


Setelah kepergian bawahan Ketua Asosiasi, Shiro memandangi ruangan asrama yang cukup besar. Sepertinya ia memang ditakdirkan untuk tinggal diasrama. Mulai dari Akademi, Magang, hingga kini di Asosiasi Pahlawan.


Namun apa boleh buat, mungkin ia takdirnya. Setelah itu Shiro meletakkan beberapa barang yang ia bawa di ruang Inventory, walaupun tidak banyak. Toh banyak perlengkapan yang sudah tersedia di asrama ini.


Setelah cukup berkemas, Shiro tiduran di kasurnya. Ia melihat-lihat ruang Inventory dan banyak sekali barang-barang ataupun bahan berharga yang masih tersimpan di ruang Inventorynya.


"Setidaknya ini semua bernilai uang." ucap Shiro dengan ringan.


Setelah itu, Shiro tidak melupakan tujuannya. "Sistem, mulai lotere."


[Ding! Lotere dimulai.]


.


.


[Selamat! 'Tuan Rumah' mendapatkan....]

__ADS_1


__ADS_2