Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
97. Hadiah


__ADS_3

Setelah sarapan, Shiro bersiap pamitan dengan keluarganya Lidya dan Kakek Tingkas. Ia ingin segera melanjutkan perjalanannya.


Sebelum Ia sempat berpamitan, Lidya tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya. Shiro melihat ekspresi serius dari Lidya, "Lidya, ada apa ?"


"Aku ada yang ingin aku sampaikan kepadamu."


Setelah memberitahu Shiro bahwa Ia ingin ngobrol, Lidya tampak malu-malu memandang Shiro.


Shiro masih menunggu Lidya untuk berbicara.


"I-itu.. Apakah kau yakin ingin langsung berangkat ? Gak mau tinggal lagi beberapa malam ?" tanya Lidya.


"Ya, masih banyak tempat yang perlu ku kunjungi. Dan mungkin masih banyak Gate yang terbuka dan perlu diselesaikan olehku."


"Begitukah?" Lidya menunduk sedih.


Lidya tahu bahwa Ia tidak punya hak untuk mengkhawatirkan Shiro. Namun Ia merasa ada yang hilang dihatinya ketika tahu Shiro akan segera berangkat.


Semenjak Ia diselamatkan oleh Shiro, Lidya telah memupuk perasaannya. Ditambah ketika melihat sifat Shiro yang Cool namun masih memiliki rasa sopan dan ramah, membuatnya semakin jatuh hati kepadanya.


Belum termasuk kekuatan Shiro yang sangat luar biasa kuat dimatanya. Semua wanita pasti akan tergila-gila padanya.


"Tapi kan-"


Lidya mencoba menahan Shiro, ketika Ia menegakkan kepalanya, kata-kata terhenti. Karena Shiro mengusap kepalanya saat ini.


Kata-kata yang ingin Ia keluarkan, tidak bisa Ia ucapkan sedikitpun. Wajahnya merona, ingin sekali ia memalingkan muka dan pergi dari sana.


Namun ada sedikit rasa di hati kecilnya yang menyuruh dirinya untuk tetap disana, menikmati elusan tangan Shiro di kepalanya. Ini adalah moment yang kemungkinan tidak akan terbilang lagi.


"Sudah, tidak apa-apa. Aku tahu kalian sangat mengkhawatirkanku. Tapi percayalah, aku lebih kuat dari apa yang kalian bayangkan." Shiro mengucapkan kata-kata itu sambil menunjukkan otot tangannya.


"Siapa yang mengkhawatirkanmu ? Hump~" Lidya memalingkan wajahnya, Ia cemberut, pipinya menggelembung, kedua tangannya melingkari dadanya.


"Pffft~" Shiro ingin tertawa melihat tingkah imut Lidya. Ia gemas, ingin sekali Shiro mencubit kedua pipinya itu. Namun Ia tidak melakukannya.


Lidya juga baru tersadar akan tingkahnya yang memalukan, Ia menutup mukanya dan berlari keluar.


Melihat tingkah Lidya, Shiro terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


Kemudian Ia hendak melangkah keluar, sebelum langkahnya terhenti karenaIa melihat kepala Lidya yang sedang menjulur ke arah kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa ? Ada yang kelupaan ?" tanya Shiro.


Lidya mengangguk, "Aku lupa, kakek tadi memanggilmu ?"


"Oh, ada apa Kakek mencariku?"


"Gak tau, kau cari tahu aja sendiri. Bwekk~" Lidya menjulurkan lidahnya kepada Shiro sebelum Ia bergegas melarikan diri.


"Kira-kira kenapa ya Kakek Tingkas memanggilku ? Bukannya tadi subuh sudah ya ?" gumam Shiro mencoba memikirkan jawabannya.


"Ntahlah, temui saja dulu."


Kemudian Shiro memastikan tidak ada barang yang kelupaan, Ia lalu mengunci kamar dan mencari keberadaan Kakek Tingkas.


Setelah menanyakan tentang keberadaan Kakek Tingkas kepada keluarganya, Shiro mengetahui bahwa Kakek Tingkas saat ini berada di lapangan latihan bela diri.


Sambil berpamitan dengan Keluarga Kakek Tingkas, Shiro menuju lapangan tempat Kakek Tingkas berada.


Setelah bertanya dengan beberapa warga sekitar, Shiro akhirnya menemukan keberadaan lapangan tersebut.


Ia melihat Kakek Tingkas yang sedang mengajarkan beberapa Anak-anak latihan Seni bela diri, pencak silat. Latihan tersebut sepertinya merupakan Silat Harimau.


Shiro tidak mengganggu Kakek Tingkas yang tengah melatih, Ia hanya memandang pelatihan tersebut dari pinggir lapangan.


Shiro pun datang menghampiri Kakek Tingkas, "Halo Kek, Kata Lidya, Kakek memanggilku, ada apa ya ?" ucap Shiro sambil membungkuk dengan sopan.


"Sepertinya kau sudah memutuskan untuk pergi ya ? Sayang sekali, awalnya aku berniat mengajarimu Silat Harimau." Kakek Tingkas menggelengkan kepalanya, menyayangkan keputusan Shiro.


"Iya Kek, aku kesini sambil berpamitan kepadamu juga. Terimakasih telah membiarkanku tinggal disini."


"Tidak nak. Seharusnya aku yang berterimakasih kepadamu. Kau telah menyelamatkan nyawa cucuku dan beberapa penduduk desa. Sebagai Kepala Suku, aku yang seharusnya berterimakasih kepadamu."


Kakek Tingkas ingin membungkuk kepada Shiro, Namun Shiro menghentikannya. "Tidak Kek, tidak perlu. Ini memang kewajibanku untuk membantu sesama."


"Meski begitu, aku mendengar dari Cucuku Lidya kalau kau menggunakan senjata Kerambit dalam bertarung. Kalo begitu, ambil ini! mungkin ini dapat berguna untukmu." Kakek Tingkas mengeluarkan sebuah gulungan kulit dan menyerahkannya kepada Shiro.


Dengan senang hati Shiro menerimanya, percuma saja Ia menolak, pasti Kakek Tingkas akan memaksanya untuk mengambilnya.


"Terimakasih Kek."


"Sama-sama Nak, tapi tunggu sebentar, ada satu lagi yang ingin ku berikan kepadamu."

__ADS_1


Shiro merasa tidak enak hati ketika mendengar ada hadiah tambahan. Ingin sekali Ia menolak dan bergegas pergi, namun Kakek Tingkas pasti akan terus memaksanya.


"Huh~" Shiro hanya bisa mengela napas dan menantikan hadiah apa lagi yang akan Kakek Tingkas berikan kepadanya.


Kakek Tingkas seperti mengeluarkan sesuatu dari lipatan sarung yang dipakainya. Sebuah kantung jerami yang cukup usang yang muncul.


Ia lalu mengambil sesuatu dari Kantung jerami tersebut, sebuah bola Kristal yang cukup terkenal untuk diketahui oleh orang awam seperti Shiro.


Melihat bola Kristal itu, jantung Shiro langsung berdebar. Ia tidak menyangka Kakek Tingkas akan memberikan hadiah sebesar itu.


Ya, bola Kristal itu adalah sebuah Orb.


"Ini-" Kakek Tingkas menyerahkan Orb tersebut kepada Shiro.


Shiro menyambutnya dengan perasaan tidak percaya, Ia memandang Kakek Tingkas, "Ini beneran Kek ?"


Kakek Tingkas mengangguk, "Ya, sepertinya kau tahu benda ini."


Shiro mengangguk, Ia meneguk sedikit Air Liur.


"Silahkan kau pakai, jarang-jarang kami memberi kesempatan pihak luar untuk menggunakan Orb Suku kami."


`DUAR~`


Ucapan Kakek Tingkas bagaikan sebuah petir yang menyambar dirinya. Ekspresi Shiro yang awalnya terlihat sangat bahagia, kini membeku tanpa ekspresi sepertinya nyawanya telah keluar dari tubuhnya.


Awalnya Ia kira Kakek Tingkas ingin memberinya Orb tersebut, namun ternyata, hanya peluang menggunakannya saja.


"Ada apa nak ? Ekspresimu terlihat aneh."


Ucapan Kakek Tingkas mengembalikan nyawa Shiro ke tubuhnya. "Tidak apa-apa Kek, aku cuma punya beberapa pikiran."


"Oh, ku kira ada sesuatu hal yang terjadi."


Shiro terkekeh ringan, walaupun Ia agak kecewa, namun kesempatan menggunakan Orb merupakan peluang yang cukup besar.


Jika beruntung, mungkin Ia akan memperoleh keterampilan yang cukup besar. Setidaknya hadiah ini cukup berharga baginya, dan tidak terlalu rugi untuk bertaruh. Toh, ia tidak mengeluarkan biaya apa pun.


Shiro kemudian menyuntikkan Auranya kedalam Orb tersebut.


Orb tersebut mulai bersinar mengeluarkan cahaya putih, Shiro dan Kakek Tingkas saat ini menjadi sangat penasaran dengan apa yang akan diperoleh Shiro.

__ADS_1


Tak lama kemudian Shiro mendapatkan gambaran dengan apa yang didapatkannya. Disertai dengan pengingat sistem yang telah lama menghilang.


[Ding!~ ...]


__ADS_2