
Datang ke rumahnya, Shiro mencoba mengakrabkan diri dengan keadaan hidup bersama orang lain.
Bukan karena ia tidak bisa hidup bersama, ia sudah terbiasa hidup bersama orang lain do kehidupannya sebelumnya. Namun yang jadi masalah, di kehidupannya sebelumnya, ia tinggal bersama dengan keluarga yang dicintainya.
Sedangkan saat ini, seorang wanita yang tinggal bersamanya hanya sekedar teman yang telah lama tidak bertemu, sehingga suasana diantara keduanya cukup canggung. Selain itu, temannya Ume memiliki paras yang agak mirip dengan Istrinya di kehidupannya sebelumnya, sehingga ketika melihat Ume, Shiro seakan melihat istrinya. Jadi Ia mencoba untuk menjauhi Ume, agar semua kenangan tentang keluarganya dulu tidak terlalu sering muncul.
"Eh, kau sudah pulang rupanya!"
Ume agak terkejut dengan kedatangan Shiro yang tiba-tiba, ia tidak merasakan kedatangan seseorang di belakangnya.
Menghadapi sambutan dari Ume, Shiro juga bingung mau menjawab apa, "Eh.. iya. Aku baru pulang! Aku mau mandi dulu!"
"Um!"
Shiro lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan Ume yang masih memasak dengan kondisi malu.
Selama mandi maupun setelahnya, Shiro banyak berpikir tentang bagaimana memulai percakapan dengan Ume agar kondisi rumahnya tidak terlalu sepi ataupun canggung.
"Unseen, apa yang harus aku katakan?"
Kemudian Unseen muncul dari bawah bayangan Shiro, "Bersikap santai saja, seperti biasa."
"Tapi... entah kenapa itu terasa sulit."
Unseen merubah ekspresinya, "Tumben kau begini, Shiro. Baru tahu kalau kau bisa ciut juga seperti ini."
"Kau tidak mengerti perasaanku, Unseen. Sudah lupakan, aku akan mengurusnya sendiri." curhat Shiro sambil memberi Unseen beberapa Inti Kristal sebagai makanan.
Shiro berjalan ke dapur, dan melihat Ume yang tengah menyajikan makan malam, Shiro iseng bertanya kepadanya: "Makan malam apa kita hari ini?"
Pertanyaan Shiro mengejutkan Ume, "Eh...Umm... Malam ini aku hanya memasak Steak dan cuma sup sayuran sederhana."
__ADS_1
"Tidak masalah, aku cukup suka dengan itu. Lagian aku sudah lama tidak makan makanan hijau."
"Begitukah, emangnya selama berpetualang, kau sering makan apa saja?" tanya Ume penasaran.
Ia tahu Shiro suka berpetualang, sehingga ia cukup penasaran dengan kehidupan Shiro selama berpetualang.
"Itu tidak mengenakkan." ucap Shiro dengan ekspresi sedih. "Kau hanya bisa makan daging, daging, dan daging. Terkadang ditambah buah-buahan. Kalau bosan, aku akan memakan cemilan dan makanan instan siap saji yang aku simpan di cincin penyimpanan."
"Begitukah? Kedengarannya kurang menyenangkan. Lalu kenapa kau bisa betah berpetualang ketiak mengetahui kondisinya tidak terlalu bagus seperti itu?" tanya Ume penasaran.
"Alasannya cukup banyak, pertama, aku bosan dengan kehidupan perkotaan. Kedua, Alasan kemanusiaan, banyak Gate diluar sana yang jauh dari perkotaan dan jauh dari jangkauan para Pahlawan. Yang ketiga, pemandangan indah dan pemandangan baru yang dapat menenangkan jiwa. Itu saja!"
"Oh, seperti itu ya!" respon Ume.
"Walaupun kedengarannya tidak terlalu tertarik, tapi bisa kau ceritakan pengalamanmu ketika berpetualang? Mungkin saja bisa berguna selama pertarungan di dalam Gate."
"Beneran pengen dengar?" tanya Shiro.
"Ya, Aku cukup penasaran." ucap Ume dengan penasaran.
"Baiklah!"
Selanjutnya, keduanya makan malam sambil mendengarkan cerita Shrio tentang pengalamannya selama berpetualang.
Ume mendengarkan dengan seksama cerita Shiro. Ia tidak pernah memotongnya, namun ia terkadang terkejut dengan cerita Shiro, sehingga ia hanya bisa bertanya kembali kepada Shiro.
Ia terkejut ketika mendengar cerita Shiro tentang setumpuk mayat Ras asing yang berjumlah ratusan. Ada juga yang membuatnya tak percaya kalau ada Ras asing yang menyerah dan pasrah menghadapi kematian dirinya dan rasnya.
Cerita Shiro terbilang tidak masuk akal, tapi ia tidak merasakan tanda-tanda kebohongan ketika Shiro bercerita. Ia hanya bisa menerima fakta tentang hal itu, walaupun itu terdengar seperti cerita fantasi.
Shiro juga tidak memaksa Ume untuk percaya, ia hanya menceritakan sedikit tentang nasib para Orc dan Lizardman. Tentu saja, Shiro tidak menceritakan secara mendetail tentang hal ini. Ia tidak menceritakan tentang Pengorbanan, pembentukan Gate, maupun tentang ras Iblis.
__ADS_1
Ia tidak memberitahunya karena hal ini adalah hal yang tabu bagi mereka. Shiro juga tidak tahu apakah Ume sudah mengetahui tentang Iblis atau tidak. Maka dari itu, mengambil jalur aman, Shiro tidak memberitahukannya.
Tentang mayat para Orc yang menumpuk, Shiro hanya memberitahu Ume kalau mayat tersebut ditumpuk oleh pemimpin ras mereka yang ingin menunjukkan arogansi dan kharismanya.
"Menjadi petualang, kau harus mempunyai persiapan penuh. Sebab, kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi selanjutnya. Kalo jadi pahlawan perkotaan, sebelum memasuki Gate, ada seorang Scout yang mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan informasi. Sedangkan sebagai seorang petualang, kau harus masuk, mengumpulkan informasi sendiri lalu menyelesaikannya seorang diri juga."
"Oh, seperti itu. Jadi persiapannya harus lengkap terlebih dahulu ya?" tanya Ume.
"Ya, tapi semuanya akan terbayar tuntas setelah berhasil menghadapi semua itu. Ada rasa kebanggaan setelah menyelesaikan itu semua."
"Memang, aku juga akan merasa senang setelah melakukan sebuah misi." tanggap Ume.
Setelah itu, Shiro menyelesaikan makan malam dan ceritanya. Ia beristirahat dan tidur di kamarnya. Sedangkan Ume, ia tidur di kamar sebelah yang telah ia bersihkan sendiri.
Keesokan harinya, Shiro menjalani aktivitas seperti biasanya. Ia mampir ke Kantor Ketua Asosiasi dan terlihat Ketua Asosiasi yang kembali sibuk dengan urusan pekerjaannya. Shiro kesana hanya sekedar ingin memanas-manasi Ketua Asosiasi.. Setelah puas membuatnya kesal, Shiro pergi tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Siang hari dan sorenya, Shiro berjalan disekitar kota yang masih tampak damai, sambil mampir ke arena untuk melihat pertarungan yang ada disana.
Setelah sore, Shiro tidak segera kembali ke rumahnya. Ia makan di warung penjajamakanan pinggir jalan. Sebelum akhirnya ia berangkat ke Black Market.
Malam ini adalah malam dimana lelang akan dilaksanakan. Dari katalog atau buklet yang dibagikan pihak lelang, tidak ada item yang menarik perhatian Shiro.
Ia ingin mampir ke rumah lelang hanya untuk melihat proses lelang untuk item-item yang dilelangnya. Selain itu, ia ingin menonton kesenangan atas lelang ini. Kali aja ada item yang bisa menggugah seleranya, walaupun peluangnya sangat kecil.
Lelang dimulai, namun sedari awal hingga akhir, item lelang tidak ada banyak yang berubah. Tidak ada kejutan yang menjadi surprise buat Shiro. Walaupun banyak item keren maupun item baru yang ditampilkan di pelelangan, namun tidak ada yang sangat bermanfaat yang dapat membuatnya tertarik untuk memilikinya.
Lelang berakhir dengan cukup antusias, namun tidak dengan Shiro. Ia berjalan menuju konter untuk mengambil nilai item yang ia jual di pelelangan kali ini.
Banyak item yang ia jual menarik perhatian para Blacksmith dari berbagai Kota. Jubah Lich dan Trisula milik Pemimpin Lizardman sangat membuat para Blacksmith ini ingin membuang uang mereka untuk membelinya.
Mereka menginginkan item-item ini untuk diteliti dan mencoba untuk mereplika atau menyempurnakan item tersebut.
__ADS_1
Alhasil, item tersebut berhasil dijual lebih dari 10 kali lipat dari harga awal pelelangan. Tentunya Shiro juga cukup senang karena berhasil menghasilkan banyak uang dengan mudah. Dengan uang ini, ia bisa menjalani kehidupan santai di perkotaan selama beberapa bulan tanpa perlu bekerja sedikitpun.
Dari pelelangan, Shiro langsung kembali ke rumahnya. Ia cukup lelah dengan harinya saat ini, sehingga ia cepat tertidur dengan lelap.