Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
63. Menjadi Petualang


__ADS_3

Setelah melaporkan misinya. Ia kembali ke Kota A. Shiro menyelesaikan formalitas penyelesaian misi di Aula Misi yang ada di Markas Pusat Asosiasi Pahlawan.


Setelah mendapatkan komisi, ia kembali ke rumahnya.


Ya, setelah beberapa Tahun, Shiro mendapatkan cukup banyak uang untuk membeli rumah sendiri di Kota A.


Walaupun rumahnya tidak terlalu besar dan berada di pinggiran Kota, namun setidaknya ia punya rumah sendiri. Masalah ukuran, bisa diupgrade di kemudian hari.


Sesampainya dirumah, ia berganti pakaian Assasin yang ia pakai dengan pakaian normal berupa sebuah kaos bolong berwarna putih.


Ketika melewati sebuah cermin diruang tamu, Shiro berhenti dan berkaca sebentar.


Ia tersenyum dan seperti biasa, Shiro mencoba beberapa pose. Lalu Shiro mengerutkan kening, Ia memperhatikan rambutnya yang mulai memanjang.


"Kayaknya perlu dipangkas nih rambut." ucap Shiro ringan sambil memelintir rambut panjangnya.


Shiro keluar rumah dan menuju ke pusat pembelanjaan di tengah kota.


Ia hanya memakai pakaian kasual biasa, Shiro tidak takut dikenali.


Sudah beberapa tahun berlalu, ia sering keluar rumah dan bepergian dengan pakaian biasa. Namun ia tidak pernah dikenali.


Mungkin karena ia bukan penduduk asli Kota A, dan ia juga berasal dari Akademi B, sehingga ia tidak terlalu dikenali.


Shiro berkeliling pusat perbelanjaan, ia mampir ke Toko Pakaian dan membeli beberapa pakaian biasa untuk keperluan sehari-hari, diantaranya ia membeli sebuah kimono pria.


Setelah membeli pakaian untuk keperluan sehari-hari, ia juga mampir ke bengkel khusus untuk pembuatan dan memperbaiki equipment dan peralatan para Pahlawan.


Shiro mampir dan minta jasa memperbaiki jubah Assasinnya yang sudah mulai compang-camping. Tak lupa ia juga memberikan Armor dari Sandworm Dune sebagai bahan untuk memperbaiki Jubahnya.


Setidaknya pertahanan dari Jubahnya dapat bertambah dan tidak mudah rusak. Ia akan kembali keesokan harinya untuk mengambil pesanannya tersebut.


Shiro kembali berjalan-jalan sampai akhirnya ia sampai di sebuah Barber Shop, ia pun tak lupa singgah, dah hanya sekedar sedikit merapihkan potongan rambutnya.


Setelah itu, karena bosan, ia pun pulang dan beristirahat.



......................


Keesokan harinya.


Shiro menjalani aktivitas seperti biasa, sarapan, pergi berlatih dan jalan-jalan.


Karena ia hidup sendirian di rumah, ia pun harus beres-beres rumahnya sendirian.


Ia tak mau menyewa pembantu atau layanan pembersih, Lagipula ia bisa melakukannya sendiri, tohh rumahnya tidak terlalu besar.


Setelah beres-beres dan berlatih, tidak disangka siang sudah terik. Matahari sudah berada di puncak harinya.

__ADS_1


Shiro pergi mandi, makan siang, dan ia pergi ketempat Bengkel tempatnya memperbaiki Jubah Assasinnya.


` jingle~`


Ketika Shiro masuk ke dalam, suara bel penanda ada pelanggan berbunyi.


"Selamat datang, ada yang bisa dibantu ?" ucap Seorang pria dengan tubuh gelap kekar.


"Aku ingin mengambil pesananku." ucap Shiro.


"Kalo begitu, silahkan duduk terlebih dahulu."


Pelayan tersebut langsung mempersilahkan Shiro duduk, ia pun pergi memanggil pengajian dari bengkel tersebut.


Shiro duduk dan menunggu kedatangan pelayan dan pengajian yang akan ia bawa. Meskipun suasana di bengkel tersebut cukup panas, namun Shiro sudah biasa.


Shiro menunggu tak lama, pelayan tersebut membawa seoarang pengrajin wanita. Pengrajin wanita itu memiliki rambut merah, dan memiliki tubuh atletis dengan kulit yang sedikit gelap.


Melihat kedatangan Pengrajin wanita itu, Shiro langsung berdiri dan menjabat tangannya. "Halo, Aku yang memesan Jubah Assasin kemarin."


Ya, Shiro langsung menyapa Pengrajin Wanita tersebut. Ia mengenali pengarahan tersebut, karena cuma 2 orang master pengrajin yang bertanggung jawab atas bengkel ini.


Salah satu Wanita itu, ia adalah Roxie, pengrajin equipment tipe ringan, seperti jubah, sepatu, Glove, dan lainnya.


Sedangkan satunya adalah lelaki botak dengan otot menonjol, namanya Grey. Pengrajin pria tersebut bertugas membuat equipment kelas berat seperti Perisai, pedang berat, Armor, dan lain sebagainya.


Pengrajin wanita itu naik ke lantai atas, Shiro mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di sebuah ruangan di lantai dua. Shiro dapat melihat dua jubah berwarna hitam dan putih.


Ya, keduanya adalah pesanan Shiro. Ia tidak hanya ingin memperbaiki Jubah Assasin yang berwarna hitam. Ia juga minta dibuatkan satu lagi Jubah Assasin, tapi kali ini berwarna putih.


Walaupun Shiro sudah merasa nyaman menggunakan jubah warna hitam, namun ia selalu merasa kurang cocok jika jubah hitam tersebut dikombinasikan dengan Frost Wing yang berwarna putih bersih.


"Silahkan coba."


Roxie memberikan kedua jubah tersebut kepada Shiro.


Dengan senang hati Shiro mengambilnya, lalu mencoba kedua jubah tersebut.


Keduanya merasa nyaman untuk dipakai, selain itu skill yang terdapat dari kedua jubah tersebut yaitu Anti-spy dapat berfungsi dengan baik.


"Bagaimana ? Apakah ada masalah." Roxie bertanya kepada Shiro sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


"Ya, ini sempurna. Jadi berapa semuanya ? " ucap Shiro tanpa basa-basi.


Roxie menatap Shiro dengan tersenyum, "Seperti kesepakatan kemarin, semuanya 2.500 Gold"


Shiro langsung mengeluarkan sekantong uang yang telah ia siapkan di Inventorynya.

__ADS_1


Sebenarnya jasa ini tergolong murah, karena semua bahan materialnya berasal dari Shiro. Jika tidak, mungkin harga satunya saja sudah diatas 5.000 Gold.


Roxie mengambil uang yang diberikan Shiro, "Senang berbisnis denganmu."


Shiro tersenyum, ia memasukkan kedua jubah tersebut kedalam ruang inventarisnya, lalu ia diiantar Roxie sampai keluar bengkel.


Setelah pergi dari Bengkel, ia langsung menuju Markas Pusat Asosiasi Pahlawan.


Melewati gang yang sepi, merasa tidak orang, ia langsung menggunakan Jubah Hitamnya.


Setelah itu, dengan santainya, Shiro menuju Markas Pusat Asosiasi Pahlawan.


Sesampainya di Markas Pusat Asosiasi Pahlawan, banyak para Pahlawan yang keluar-masuk Markas.


Beberapa dari mereka menyingkir ketika melihat kedatangan Shiro.


Legenda seorang Assasin pengintai yang selalu menyelesaikan misi pengintaian 100% berhasil, sudah terdengar ditelinga mereka.


Bahkan ada legenda lain yang menyebutkan, bahwa Shiro tidak hanya seoarang pengintai, namun juga seorang pembunuh berdarah dingin. Ia tidak segan membunuh siapapun yang menghalangi misinya.


Sampai-sampai ada yang menjelaskan Shiro sebagai Assasin yang bergerak dalam bayangan, bahkan kau tidak akan tahu ketika kau mati ditangannya.


Dan Shiro dikenal oleh mereka sebagai 'Shadow'.


Tentu saja, dari semua berita yang terdengar, kebanyakan hanyalah sebuah informasi yang dilebih-lebihkan.


Bahkan Shiro tidak mengetahui tentang julukannya, ia berjalan dengan santainya seperti biasa. Ia tidak memperhatikan sikap Pahlawan lain yang melihatnya dengan aneh.


ia dengan santainya masuk ke Markas Asosiasi Pahlawan dan menuju lantai atas, yaitu lantai yang berisi ruang eksekutif Asosiasi Pahlawan.


Benar, Shiro ingin bertemu dengan Ketua Asosiasi Pahlawan.


Sesampainya di depan ruang Ketua Asosiasi, seorang wanita terlihat disana.


Shiro mengenali wanita tersebut, wanita tersebut adalah Anastasya. Ia adalah salah satu dari dua Bawahan Ketua Asosiasi.


Kalau kalian ingat, ia adalah wanita pelayan ketika misinya pertama sebagai kuli sekaligus pengintaian pertamanya.


Untuk Bawahan Ketua Asosiasi yang satunya adalah Brewthern. Ia seorang pria yang selalu berada di dekat Ketua Asosiasi. Ia jugalah yang biasanya mengoordinasi misi para pahlawan.


"Ada yang bisa saya bantu." ucap Anastasya ketika melihat Shiro.


"Aku ingin bertemu Ketua, apakah beliau sibuk ?" tanya Shiro.


Anastasya tersenyum dan membukakan pintu, "Pas sekali, ia sedang kosong saat ini. Silahkan masuk ! "


Shiro dengan sopan membungkuk berterimakasih, lalu ia masuk ke dalam Ruangan Ketua Asosiasi.


"Ketua.. Aku ingin menjadi Petualang ! "

__ADS_1


__ADS_2