Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
89. Green Nova Priarie


__ADS_3

Shiro dan ketiga Cindaku berlari langsung menuju puncak gunung. Mereka mengikuti jejak pergerakan Green Nova Priarie saat turun gunung dan bertemu dengan mereka.


Mereka bergegas, namun Malam hampir sampai di dalam Gate. Suasana sudah mulai gelap, Shiro berhenti dan berbicara kepada ketiga Cindaku. "Apakah tidak apa-apa terus melanjutkan perjalanan?"


Lidya menjawab, "Tenang, kami para Cindaku sering berburu di malam hari, penglihatan kami cukup baik. Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami."


"Kalo begitu, istirahat sebentar. Lalu kita lanjutkan perjalanan." ucap Shiro.


Shiro lalu mengeluarkan beberapa daging dari inventarisnya dan juga beberapa peralatan masak.


Para Cindaku berniat memburu monster terdekat, namun Shiro mencegahnya. "Tidak perlu berburu. Daging ini cukup untuk kita berlima."


Mereka awalnya enggan, namun setelah bujukan Shiro. Mereka akhirnya mengikuti saran Shiro.


Mereka membantu Shiro untuk memotong-motong bahan makanan. Untuk urusan memasak, tentu saja bukan Shiro. Melainkan Lidya.


Ya, Lidya sebagai seorang wanita dari suku Cindaku. Sangat mahir dalam memasak. Menggunakan beberapa bumbu yang Shiro keluarkan. Lidya berhasil mengubah daging-daging tersebut menjadi makanan terkenal yaitu Rendang.


Sudah lama sekali Shiro tidak mencicipi makanan ini. Aroma Rendang yang begitu khas, membuat perut Shiro bersuara, berteriak untuk meminta makan. Air liur terus berusaha keluar, walaupun Shiro telah beberapa kali menahannya.


Akhirnya, setelah menunggu cukup lama. Lidya membawa sepanci besar Rendang. Shiro sudah tidak sabar untuk mulai mencicipi hidangan tersebut.


Rendang disajikan, mereka semua menyantap Rendang tersebut dengan wajah bahagia. Walaupun mereka kekurangan Karbohidrat seperti Nasi atau Roti. Dengan Rendang ini, bisa sedikit menambah tenaga mereka untuk bertarung kedepannya.


Rendang yang dibuat oleh Lidya terasa sangat enak. Berbeda dengan Shiro, yang terkadang memasak suka matang setengah. Atau penyebaran bumbu yang tidak merata.


10 Menit Berlalu.


Mereka telah selesai makan dan istirahat. Rendang di panci yang awalnya penuh, kini tinggal sedikit. Sisa Rendang tersebut, Shiro simpan untuk dimakan selama dalam perjalanan.


Setelah beres-beres singkat, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung.


Bergerak di hutan pegunungan pada malam hari, agak membuat Shiro kerepotan. Bulan tidak muncul, Shiro hanya bisa melihat sedikit, itupun banyak melalui persepsinya.


Shiro menyerah untuk memimpin jalan, ia membiarkan para Cindaku yang bergerak di depan, untuk memimpin jalan mereka.

__ADS_1


Mereka tidak keberatan, mereka membuat Formasi segitiga. 1 di depan, 2 Cindaku berada di samping kiri dan kanan agak ke belakang. Sedangkan Shiro, ia berada ditengah-tengah mereka.


Shiro pun tidak keberatan, ini hal yang wajar menurutnya. Mungkin mereka takut Ia akan ketinggalan atau tersesat di hutan pegunungan yang lebat dan gelap ini.


Beberapa jam mereka bergerak. Mereka semua melihat cahaya berkilau dari kejauhan. Sebuah Cahaya dari bangunan-bangunan seperti disebuah perkotaan.


Pergerakan Shiro dan para Cindaku mulai melambat. Untuk mencegah agar tidak ketahuan, mereka hanya bisa bergerak dengan mengendap-endap.


Shiro melihat pemandangan didepannya dan ia tercengang. Di tengah hutan pegunungan yang dipenuhi pohon, kini terlihat berbagai rumah berbahan baja.


Rumah dan bangunan tersebut tidak terlalu besar. Namun itu semua sangat futuristik. Rumah berbentuk bola baja, berbagai fasilitas tersedia, dari lampu jalan, sampai berbagai bangunan teknologi yang tidak bisa Shiro jelaskan.


Shiro terkagum melihat pemandangan ini.


"Ini yang aku tidak suka dari mereka."


Sebuah suara wanita memecah rasa kagum Shiro. Wanita itu adalah Lidya.


"Apa maksudmu ?" Shiro bertanya.


Shiro berpikir sejenak, ia setuju dengan pernyataan Lidya. Penggunaan teknologi harus dimanfaatkan dengan optimal, jangan merusak alam hanya demi memuaskan hasrat dan rasa serakah dalam diri seseorang.


Lagian, Cindaku adalah manusia yang sangat mencintai alam, baik flora atau fauna. Mereka adalah makhluk yang cinta tanah kelahirannya. Tentu saja, mereka akan marah melihat tanah yang hijau ini, menghilang begitu saja.


"Oh ya, kalian para Cindaku juga berasal dari Gate kan ?" Shiro bertanya kepada Lidya.


Awalnya Shiro ragu untuk bertanya, namun ketika mendengar bahwa mereka juga tahu tentang Green Nova Priarie dan sangat membencinya, Shiro berniat menanyakan hal tersebut.


Mendengar pertanyaan Shiro, Lidya tidak berbohong, ia mengangguk dengan jujur. "Ya, kami suku Cindaku berasal dari Gate."


"Lalu, kenapa kalian bisa berada di dalam Gate ini?" tanya Shiro kembali.


"Panjang untuk menjelaskannya. Jika kau ingin tahu, ikut kamu ke suku kami setelah menyelesaikan Gate ini."


Shiro hanya bisa mengangguk mendengar jawaban dari Lidya. Merasa tidak bisa melanjutkan pembicaraan, Shiro berniat mengalihkan topik.

__ADS_1


"Karena kalian dari Gate juga. Apakah kalian tahu, keunggulan dari Green Nova Priarie?"


"Huh~" Lidya mendengus ringan. Ia seakan tidak terlalu nyaman jika ditanyai banyak pertanyaan. Namun ia tidak bisa menolak pertanyaan dari penyelamat sukunya.


"Untuk masalah kekuatan, sepertinya kau sudah tahu."


Shiro mengangguk mengiyakan. Unseen sudah memberitahunya tentang kemampuan para Green Nova Priarie.


"Kalo begitu, aku akan memberitahumu kalau teknologi mereka sangat didambakan oleh para Ras di Endless Land."


"Teknologi? Teknologi apa ?" tanya Shiro kebingungan.


"Teknik kloning. Para Green Nova Priarie memiliki teknologi kloning yang sangat didambakan oleh semua ras. Mereka berbondong-bondong ingin mendapatkannya, baik dengan cara yang baik seperti kerja sama, ataupun dengan cara yang kasar. Sehingga mereka sering dikejar oleh beberapa Ras, yang membuat mereka sering migrasi sambil membawa teknologi mereka."


Shiro mengangguk mengerti mendengar penjelasan Lidya. Ia tidak menyangka, makhluk ini bisa menguasai teknologi kloning. Setiap Ras pasti mendambakan teknologi tersebut.


Walaupun teknologi yang mereka kuasai cukup kuat, bukan berarti mereka sangat kuat. Mereka hanya cukup pintar, sehingga untuk bertahan hidup, mereka hanya bisa mencari tempat aman untuk memperbanyak Ras mereka.


"Terimakasih atas informasinya. Mari kita mulai menyerang mereka. Aku punya rencana. Jadi begini..."


Shiro mulai menjelaskan rencana yang ia pikirkan, ia pun mengeluarkan beberapa alat dan senjata yang dibutuhkan untuk menjalankan rencananya. Ia membagikannya kepada Unseen dan Ketiga Cindaku.


"Karena kalian sudah mengerti, mari kita mulai saja rencananya. Jangan sampai gagal."


"Ya."


Mereka semua mengangguk, Keempatnya mulai pergi, mereka bergerak dalam diam untuk melaksanakan rencana Shrio.


Mereka semua menyelinap masuk ke lingkungan perumahan Green Nova Priarie.


Shiro pun tak tinggal diam. Ia memasuki kondisi Stealth dan menghilangkan hawa keberadaanya secara menyeluruh. Shiro lalu bergerak menuju bangunan paling megah diantara bangunan yang ada disana.


Dengan wajah penuh senyuman, Shiro bergerak menuju bangunan tersebut. Ia bergumam:


"Semoga kau berada disana."

__ADS_1


__ADS_2