Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
21. Party


__ADS_3

Di Sore harinya.


Shiro tampak terburu-buru kembali ke akademi Pahlawan. Shiro tampak bersemangat ketika pulang keasrama selepas dinyatakan lulus. Ia sibuk memainkan sebuah pedang jiwa berbentuk katanya.


Ia sibuk mencari fungsi pedang itu, yang ternyata memiliki dua kemampuan, yaitu bisa membuat musuh tertidur atau halusinasi dan memasuki alam mimpi bagi lawan yang melihat bilahnya.


Dan bagi siapapun yang tertebas atau terkena serangan pedang tersebut ketika memasuki kondisi tidur atau halusinasi, maka lawan tersebut tidak akan terbangun ataupun mengeluarkan suara.


Saking bersemangatnya Shiro ketika mengetahui kemampuan Pedang Bakat. Sehingga ia tertidur pulas di asrama.


Dan kini ia berlari, takut terlambat mengikuti upacara pembagian lisensi Pahlawan Magang.


Sesampainya di akademi Pahlawan, Shiro melihat bahwa para siswa sedang antre untuk masuk ke dalam ruangan.


Shiro langsung berlari, ingin mengikuti barisan. Namun Shiro dihentikan oleh Guru pengawas.


"Siapa kamu ? kenapa kamu kesini ?" tanya Guru pengawas tersebut.


"Aku Shiro, aku lulus penilaian tadi pagi dan disuruh ikut upacara pembagian lisensi sore ini" jawab Shiro.


"Tunggu sebentar, aku akan cek identitasmu dulu.


Guru pengawas itu pun pergi dan Shiro hanya bisa menunggu Guru pengawas itu kembali.


Tak lama, Shiro melihat Guru pengawas tadi datang menghampiri Shiro.


"Silahkan masuk barisan, untung saja kau datang tepat waktu, kalau tidak kau tidak akan bisa mengikuti upacara pembagian lisensinya" ucap Guru pengawas itu mengizinkan Shiro memasuki barisan.


"Terimakasih" ucap Shiro sembari membungkukkan badannya.


Setelah itu, Shiro memasuki barisan dan menunggu masuk ruangan Aula Utama akademi. Satu persatu siswa masuk, dan kini giliran Shiro.


Shiro masuk ke dalam ruangan Aula Utama akademi mengikuti siswa barisan depan lainnya.


Di dalam ruangan, Shiro beserta siswa lainnya diarahkan ke barisan oleh para guru pengawas ruangan.


Shiro melirik-lirik kiri dan kanan, ia kaget ternyata lumayan banyak siswa tahun ini yang baru mendapatkan Lisensi Pahlawan Magang. Tidak hanya di kelas B, tapi ada juga dari kelas-kelas lainnya. Bahkan Kakak tingkat pun ada.


"Ehemmm~ Ehemmm~"


Suara berdeham tiba-tiba terdengar di telinga para siswa. Para siswa yang awalnya masih sibuk berbisik-bisik di dalam barisan, kini melihat sesorang berdiri di podium depan.

__ADS_1


Bagi mereka yang mengikuti upacara penerimaan siswa baru, pasti tidak asing dengan sosok pria tua yang sudah berdiri di depan podium.


Ya, sosok itu adalah Dewan Siswa Akademi Beta, Charles Winderless.


"Selamat bagi kalian semua karena telah berhasil lolos ujian lisensi magang kepahlawanan. Lisensi ini bukanlah akhir bagi kalian, namun merupakan awal dari perjalanan kalian untuk menjadi seorang Pahlawan. Kami berharap kalian semua bisa menjadi Pahlawan yang hebat dan berguna bagi Kota, teman dan keluarga kalian...."


Dewan Siswa mulai memberikan pidatonya kepada para siswa. Para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian.


"Besok kalian semua akan berkumpul lagi di sini untuk membagikan daftar tim magang kalian. Kalian nanti akan magang kepada pahlawan-pahlawan yang sudah berbuat banyak bagi kelangsungan hidup manusia. Belajarlah yang banyak dari mereka."


"Mengingat hari sudah sore, tidak banyak yang bisa saya sampaikan kepada kalian semua. Selamat kepada kalian semua, Jadilah pahlawan yang melindungi bukan perlu dilindung."


"Selanjutnya, mari kita lanjutkan acara berikutnya yaitu, pembagian Lisensi Pahlawan Magang"


Waktu peresmian yang ditunggu Shiro akhirnya tiba, bukan hanya tentang menjadi Pahlawan Magang. Tapi juga untuk membuktikan spekulasinya beberapa tahun yang lalu


` clap~ clap~ clap~`


Setelah Dewan Siswa, Charles Winderless langsung meresmikan dan langsung menutup pidatonya dan akan melanjutkan pembagian lisensi Pahlawan Magang di akademi Beta tahun ini. Hal ini juga diikuti oleh tepuk tangan antusias para siswa.


Rasa lelah di mata para siswa kini berubah menjadi api ketidaksabaran yang membara, mencoba membakar sisa-sisa semangat juang untuk hari ini.


"Yang pertama Roid Shar, silahkan maju ke depan untuk menerima Lisensi Pahlawan Magang."


"Semoga kau bisa membanggakan Keluargamu" ucap Hiruzen sembari menepuk bahu pemuda itu.


Pemuda itu hanya tersenyum, membungkuk terimakasih. Lalu berjalan turun dari podium dan dipandu keluar ruangan oleh pengawas disana.


Sepertinya jika sudah selesai, bisa dibiarkan untuk pulang ke asrama.


"Selanjutnya, Yo Kusuma."


Selanjutnya satu persatu nama dipanggil dan maju ke podium untuk menerima sertifikat atau lisensi pahlawan magang.


Ucapan selamat dan kata-kata semangat terlantar satu persatu kepada para siswa. Namun semakin berlalunya waktu, Charless Winderless sepertinya tidak sanggup lagi mengucapkan kata-kata semangat kepada para siswa. Bahkan tersenyum pun sulit ia lakukan.


"Shiro"


ketika nama Shiro dipanggil, Shiro langsung berjalan menuju podium. Pria Tua Dewan Siswa itu, Charles Winderless hanya memberikan senyum tipis kepada Shiro sambil menyerahkan sebuah sertifikat lisensi Pahlawan Magang milik Shiro.


Mata Shiro pun berbinar, namun bukan karena mendapatkan lisensi pahlawan magang, tapi karena spekulasinya benar.

__ADS_1


[Ding!]


Sebuah mekanisme sistem yang telah lama tak Shiro dengar akhirnya muncul kembali. Namun Shiro tak melanjutkan menerima informasi dari sistem. Shiro masih harus draw lotere ketika di asrama.


Lalu Shiro turun podium dan ia diingatkan oleh pengawas untuk datang kembali besok untuk pembagian tim magang. Dan Shiro hanya menganggukkan kepalanya kepada pengawas tersebut.


Shiro keluar ruangan dengan penuh semangat, ia tidak sabar untuk kembali keasrama. Ia menantikan hadiah apa lagi yang bisa ia dapatkan dari lotere sistem.


Namun pas mau keluar dari akademi Pahlawan dan menuju asrama, Shiro mengurungkan niatnya untuk pulang cepat. Karena ia melihat 2 sosok teman sekamarnya.


"Hey Brend, Hey Denshu. Apa yang kalian lakukan disini? Kalian sudah selesai kah pembagian lisensinya ?"


Shiro berjalan menuju kedua orang itu, walaupun ia sebenarnya sudah tau niat keduanya, namun Shiro tetap bertanya kepada mereka berdua.


"Haha.. Karena kita sudah resmi menjadi Pahlawan Magang, mari kita merayakannya." ucap Brendy.


"Iya Shiro, mari kita rayakan peristiwa besar ini, Brendy yang traktir" tambah Denshu.


Melihat Brendy ingin mentraktirnya, Shiro sangat bersemangat. Lumayan bisa menghemat uang bulanan. " Oke boleh"


"Hahah.. mari kita makan di Kafe Sihir. Eh Denshu, apa yang mau kau bicarakan tadi ? Bukankah kita akan membayarnya bersama ?"


"Terima saja Brendy, aku tadi liat kau masih mempunyai poin yang cukup banyak " tambah Denshu mencoba membujuk Brendy.


"Yaudah kalo begitu" Brendy hanya bisa menyerah.


Mereka bertiga pun mulai berjalan ke arah kedai ramen ichiraku sembari bercerita.


Sesampainya di kedai Kafe Sihir, terlihat bahwa tempat itu sudah ramai. Untung saja masih ada tempat duduk untuk mereka bertiga.


Mereka bertiga pun mulai memesan minuman dan beberapa cemilan. Lalu mereka menikmati minuman dan cemilan sembari bercerita dan bersenda gurau.


Brendy dipaksa Denshu untuk memberitahukan mereka tentang keluarganya . Dan Shiro hanya mendengarkan cerita Brendy sembari menganggukkan kepalanya.


Waktu semakin berlalu, malam semakin larut. Denshu tampak sudah tertidur di Kafe, Ia tampaknya tidak terlalu kuat meminum anggur, baru beberapa teguk sudah tepar.


Sedangkan Brendy masih bergumam pelan menceritakan cerita heroik keluarganya.


Terpaksa Shiro yang harus membayar tagihan makan dan minum mereka, untung aja dia memiliki cukup poin yang tersimpan untuk membeli senjata.


Tapi karena ia mendapatkan pedang jiwa, jadi tidak apa-apa baginya untuk menghabiskan poin hari ini.

__ADS_1


Shiro kembali ke asramanya sendiri.


Untuk Brendy dan Denshu, Shiro tinggalkan begitu saja di kedai Kafe Sihir.


__ADS_2