
Shiro menyetujui permintaan Ratu Elfie. Ia membantu Ratu Elfie untuk melihat kenyataan yang terjadi sebenarnya.
"Lalu bagaimana kau akan membawaku?" tanya Ratu Elfie.
Shiro tidak menanggapi pertanyaan Ratu Elfie, Ia hanya menepuk bahu Ratu Elfie dan menyalurkan Auranya ke tubuh Ratu Elfie. Ia mengaktifkan skill Stealth kepada dirinya dan Ratu Elfie.
"Eh.. eh... apa yang terjadi ?"
Ratu Elfie tampak terkejut, Ia merasakan ada perubahan pada dirinya. Namun ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
Semuanya tampak normal, dan ia selalu merasakan perasaan aneh pada dirinya.
"Tenang, kau sekarang dalam kondisi tidak terlihat."
Mendengar penjelasan Shiro, mata Ratu Elfie tampak berbinar. Baru kali ini Ia mengalami berada di keadaan tak terlihat.
Ingin sekali Ratu Elfie melompat dan berjingkrak kegirangan, namun Shiro berdeham, membuat sang Ratu tampak malu.
"Tak perlu sebahagia itu. Berperilakulah secara normal. Jika kau mengacaukan Aura-mu, kau mungkin akan ketahuan."
Pengingat Shiro membuat Ratu Elfie menjadi santai dan kembali ke penampilannya seperti semula.
"Ehemm... baiklah ayo pergi," ajak Ratu Elfie.
Shiro hanya bisa menggeleng, ia mengikuti arah perjalanan Ratu Elfie.
Namun Shiro tampak kesal. Bukannya berjalan cepat, Ratu Elfie bergerak sangat lambat. Ia sangat memperhatikan langkahnya dan selalu memperhatikan sekitar.
Shiro menepuk keningnya, Ia tahu bahwa sang Ratu belum berpengalaman ketika dalam kondisi Stealth. Namun kalo terus bergerak selambat ini, mungkin malam nanti mereka baru sampai ke lokasi yang mereka tuju.
Mendekati sang Ratu, Shiro membisikkan kata-kata kepada Ratu Elfie. "Cepatlah, emangnya kau kura-kura."
"Sebentar ah... Bagaimana kalo kita ketahuan ?"
"Tak perlu khawatir, malahan, semakin lama kau disini, kemungkinan akan ketahuan akan semakin besar. Lagipula, Aura-ku tidak terlalu banyak, dan konsumsi penggunaan Skillnya sangat banyak. Jika kau tidak bergegas, kau mungkin akan terlihat disini."
Mendengar kalimat menakut-nakuti Shiro, Ratu Elfie langsung bergidik ngeri. Ia lalu langsung bergerak cukup cepat.
Shiro tersenyum, ia terus melanjutkan mengikuti Ratu Elfie.
"Fiuh... akhirnya keluar juga daru Desa."
Ratu Elfie menghela nafas lega, Ia mengelap keringat di keningnya. Akhirnya ia berhasil keluar dari lingkungan desanya.
"Norak~" ledek Shiro.
"Hum~" sang Ratu mendengus dingin.
Shiro menonaktifkan skill Stealth keduanya. Ia kemudian memimpin jalan sang Ratu. "Mari ikuti Aku!"
__ADS_1
Ratu Elfie mengangguk, ia mengikuti Shiro tepat didepannya.
Langkah Shiro cukup cepat, Ratu Elfie agak kewalahan mengikuti Shiro.
"Hei...tunggu aku."
Shiro mengabaikannya, ia terus melangkah tanpa menghiraukan permintaan sang Ratu.
Sampai Akhirnya, Shiro sampai di tempat yang mereka tuju.
"Hei, kenapa kau berhenti, apakah sudah sam....pai?"
Sang Ratu yang awalnya cukup kelelahan, kini ia tercengang. Ia tidak percaya dengan pemandangan didepannya.
"Apa ini ? Apa yang terjadi ?"
"Bukankah sudah ku jelaskan sebelumnya?"
"I...iya, tapi kan, kenapa bisa sampai seperti ini ?"
Shiro mengerinyit dahi, "Bukankah kau sudah tahu alasannya ? Ini adalah kekacauan yang disebabkan oleh Gerbang Dimensional."
"Ta- tapi, menteri-menteriku bilang kalau semuanya aman terkendali. Dan mereka sudah mendapatkan alternatif penyelesaiannya."
"Alternatif penyelesaian katamu ? Tidak ada yang seperti itu." ucap Shiro dengan nada kesal.
"Kau tahu sendiri satu-satunya menghilangkan Gerbang Dimensional. Mana ada cara alternatif. Jika ada, aku tidak perlu repot-repot menunjukkan hal ini kepadamu." Shiro agak marah kepada Sang Ratu yang tidak mengerti apa-apa.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Kau yang harus mencari tahu sendiri."
Ratu Elfie mencoba menghapus air matanya, ia lalu menatap Shiro, "Lalu kenapa kau tidak membunuhku saja sebelumnya? tak oerlu kau menunjukkan semua ini."
"Tidak, kau salah paham. Aku memang berniat untuk membunuhmu. Namun aku punya pertimbangan tersendiri."
Shiro lalu memandang hutan yang tampak mati tersebut dengan perasaan kesal, "Lagipula aku manusia, aku selalu merindukan perdamaian. Selama bisa dinegosiasikan, aku mungkin dapat mempertimbangkan beberapa anggota Ras kalian untuk terus bertahan hidup."
"Apakah itu benar?"
Shiro mengangguk, "Ya, akan tetapi, tentang keselamatan kalian setelahnya, aku tidak akan ikut campur sedikitpun."
"Apa maksudmu ?" tanya Ratu Elfie dengan curiga.
Shiro mendengus pelan, "Huh-, tak semua manusia sebaik diriku. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang rakus dan tamak. Mungkin saja ketika kalian bertemu manusia bejat, Ras kalian akan dipermainkan layaknya sebuah mainan. Jadi sebenarnya kalian ini beruntung."
Ratu Elfie diam membisu. Sepertinya Ia sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. Shiro tidak berniat mengganggunya. Ia menantikan apa yang akan dilaksanakan Sang Ratu selanjutnya.
Ketika ada orang kepercayaannya yang berniat mengkhianatinya, bagaimana tanggapan sang Ratu setelahnya? Shiro sangat menantikan jawaban dari Ratu Elfie.
Plot seperti ini sering terdengar di berbagai cerita atau film, dan ia kini dapat melihatnya secara langsung.
__ADS_1
Tak lama Shiro menunggu, akhirnya Ratu Elfie berjalan mendekati dirinya.
"Jadi, apa pilihanmu ?" tanya Shiro.
"Apakah kau bisa ku percaya?"
Shiro mengangkat kedua bahunya, "Entahlah, namun kau pasti akan ku bunuh nanti."
"Huh... maukah mau membantuku ?" pinta sang Ratu.
"Tergantung permintaanmu."
"Begini... aku ingin kau...." Ratu Elfie membeberkan rencananya kepada Shiro.
Shiro mendengarkan rencananya sembari sesekali memberi saran. Setelah Ratu Elfie memberitahukan semua rencananya, Shiro baru membuat keputusan.
"Baiklah, aku setuju."
......................
Ratu Elfie memasuki ruang rapat.
Di dalam ruang rapat, ketiga menterinya sudah menunggu, terlihat sudah banyak dokumen dokumen yang menumpuk diatas meja mereka masing-masing.
Ketika Ratu Elfie memasuki ruangan, tidak ada satupun dari ketiganya yang menunduk hormat seperti para Dark Elf lainnya.
"Huh~" Ratu Elfie mendengus dingin melihat sikap dari ketiga menterinya.
Ketiga menterinya adalah Grin, Menteri pertahanan. Dan salah satu Dark Elf pria yang tampak tua adalah Telin, Menteri Sumber Daya.
Satu-satunya wanita dari ketiga menteri yaitu Dark Elf wanita bernama Szee.
Ratu Elfie langsung duduk di mejanya dengan perasaan marah, ia lalu melemparkan semua foto pemandangan di dalam dan luar Gate yang Shiro berikan ke atas meja.
Ketiga menteri tersebut tampak terkejut, mereka tidak pernah melihat tingkah Sang Ratu seperti ini. Namun keterkejutan mereka tidak hanya sampai disitu, ketika mereka melihat foto-foto tersebut, Mereka langsung tercengang.
Mereka memandang Sang Ratu, "Yang Mulia, apa maksudmu ?"
BRAKK~
Ratu Elfie menggebrak meja dengan kuat, "KALIAN BERTANYA KEPADAKU ? SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA KEPADA KALIAN. KENAPA KALIAN MENIPUKU?"
Nada Ratu Elfie meningkat, membuat ketiga menteri tampak kecut. Baru kali ini mereka mendengar kemarahan sang Ratu.
Memanfaatkan pengalamannya, Telin berbicara terlebih dahulu, "Maaf ratu, kami tidak tahu apa yang Ratu bicarakan."
"JANGAN PURA-PURA TIDAK TAHU, AKU TAHU SEGALANYA."
Telin menunduk malu, kemudian Ia saling memandang dengan kedua menteri yang lain. Mereka kemudian mengangguk bersamaan.
__ADS_1
Mereka bertiga berdiri secara bersamaan, kemudian Szee berbicara terlebih dahulu: "Sebenarnya kami tidak ingin memberitahu Yang Mulia tentang kebenarannya, namun kami tidak punya pilihan lain."
Kemudian Grin mengambil busur panahnya dan membidik sang Ratu, "Tak usah banyak bicara, karena semua sudah ketahuan. Langsung saja masuk ke rencana terakhir."