
Setelah melihat lingkungan yang ada didepan matanya, Shiro yakin kalau ia atau sampai di lokasi kediaman Ras Murloc.
"Melambat!"
Shiro memberi perintah kepada Murloc Orca, dan Murloc itu menuruti perintah Shiro untuk memperlambat pergerakannya.
Setelah kecepatannya sama, Shiro lalu menarik tali yang menghubungkan mereka berdua. Murloc itu berhenti bergerak maju dan ditarik ke belakang oleh Shiro.
Slasshhh~ Shiro mengeluarkan Twin White Tiger lalu menebas leher Murloc Orca.
Ia sudah sampai di tujuan, jadi Murloc Orca sudah tidak lagi diperlukan sebagai penunjuk jalan. Seperti peribahasa 'Habis Manis, sepah dibuang'.
Selain itu, bisa gawat kalau Murloc Orca bertemu dengan Murloc lainnya. Kondisinya saat ini yang aneh dan selalu menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Membuat Shiro memutuskan untuk membunuhnya.
Setelah membunuh Murloc Orca dalam sekali tebas, Shiro lalu mengaktifkan skill Stealth dan menghilang di tempat.
Bau darah yang menyengat mulai menyebar dari lokasi Mayat Orca itu mengambang. Beberapa monster dan ikan laut banyak mendekati lokasi itu setelah mendengar bau darah.
Tak hanya ikan dan Monster Laut, beberapa Murloc juga bergegas mendekati lokasi tersebut. Untung Shiro telah pergi cukup jauh dari sana dan terus berenang menuju lokasi kediaman Ras Murloc.
...****************...
Dua Murloc yang memiliki rupa mirip Kuda Laut, bergegas menuju lokasi Sumber darah. Sebagai penjaga, mereka belum pernah menemukan pembunuhan brutal oleh monster sekitar lingkungan Ras mereka.
Jadi bau darah yang tersebar sangat menarik perhatian mereka.
"Minggir!"
Salah satu Murloc Kuda Laut memberi perintah kepada ikan dan Monster Laut yang berada di dekat Mayat Murloc Orca untuk memberi jalan kepada mereka.
Para ikan dan Monster Laut menuruti perintah Murloc itu.
__ADS_1
Alangkah terkejut keduanya ketika melihat mayat Murloc Orca yang kepalanya telah jatuh dan perlahan ada jejak racun di tubuh Murloc Orca yang telah mati.
"Sial, siapa yang melakukan ini? Cepat kau cari pihak yang mencurigakan di sekitar sini!" ucap salah satu Murloc Kuda Laut dengan marah.
Belum pernah ada pembunuhan Murloc yang terjadi selama ini selama mereka berada di didalam setelah kalah dari perang Kekacauan di Endless Land.
"Iya, akan ku laksanakan!"
Murloc Kuda Laut yang lainnya langsung pergi mencari sesuatu yang mencurigakan disekitar lokasi tersebut.
Untuk Murloc Kuda Laut satunya, ia langsung membawa mayat Murloc Orca ke Kantor penjaga Ras Murloc.
"Kapten, Wakil Kapten, gawat! Ada keadaan darurat!"
Murloc Kuda Laut masuk ke Ruang Penjaga dengan membawa mayat Murloc Orca. Di dalam ruangan tersebut, ada Murloc Orca dengan bekas luka di tubuhnya yang sedang bermain catur dengan Murloc Hiu yang terlihat relatif lebih mudah.
Murloc Orca yang terlihat garang itu adalah Kapten Penjaga Ras Murloc, sedangkan Murloc Hiu adalah Wakil Kapten yang belum lama ini dilantik.
Murloc Orca Kapten Penjaga langsung bergegas mendekati Murloc Kuda Laut lalu langsung membopong mayat Murloc Orca yang ternyata adalah adiknya. Ia memandang Murloc Kuda Laut yang menggunakan pakaian penjaga, lalu bertanya: "Apa yang terjadi?"
"Lapor Kapten, saat kami sedang berjaga, kami mencium bau darah yang cukup menyengat tidak jauh dari lokasi pos penjaga. Lalu ketika kami memeriksanya, kami melihat tubuh ini sudah mati dengan kepala di potong rapih ditempat. Aku langsung membawa mayat ini kesini dan memerintahkan rekanku mencari pihak yang mencurigakan di dekat lokasi Mayat ini ditemukan."
Murloc Kuda Laut mulai menceritakan apa yang ditemuinya kepada Kapten Penjaga. Kemudian ia menunjuk ke leher mayat Murloc Orca yang telah mulai membiru-keunguan: "Kapten lihat ini, dari tebasan di lehernya yang hanya memiliki satu bekas potongan dan terlihat rapih, itu menandakan musuh sangat kuat sampai bisa membunuhnya dalam sekali serangan."
Mendengar penjelasan dari Murloc Kuda Laut, Kapten Penjaga dan Wakil Kapten mengangguk. Tapi Kapten Penjaga mengerutkan kening: "Tapi bisa saja adikku dikendalikan atau terkena serangan mental. Sehingga musuh bisa mengalahkan adikku dengan mudah."
Mendengar penjelasan Kapten Penjaga, Wakil Kapten Murloc Hiu mencatat di belakang. Ini adalah pengalaman yang berharga.
"Itu bisa saja terjadi Kapten. Tapi coba lihat kulit dan daging tak jauh dari bekas tebasan. Ada bercak Racun yang masih terus menyebar. Jika ia sudah dikendalikan atau pingsan, tak mungkin musuh menyerang menggunakan senjata beracun. Ada kemungkinan ia diracuni dan ketika melemah, ia terbunuh oleh musuh." jelas Murloc Kuda Laut sambil menujuk ke leher mayat Murloc Orca yang racunnya terus menyebar ke area perut.
Mendengar penjelasan dari Murloc Kuda Laut, keduanya merasa penjelasannya cukup masuk akal. Kapten Penjaga bergumam dan membuat kesimpulan: "Jadi tersangka pertama adalah musuh menggunakan senjata racun, ya?"
__ADS_1
"Kau berdua, kumpulkan semua murloc yang memiliki kemampuan racun ataupun senjata beracun. Kumpulkan semuanya ke alun-alun, bilang saja ini adalah perintah dari Kapten Penjaga." Kapten Penjaga mulai memberi perintah.
"Tapi Kapten, kita belum memiliki izin dari Raja." ucap Murloc Hiu.
"Masalah itu, Serahkan saja padaku! Kau lakukan saja tugasmu, aku akan memberi tahu Raja tentang apa yang terjadi. Aku yakin Raja pasti akan memberiku wajah."
"Ya, Kapten! Aku mengerti!"
Keduanya mulai pergi dan melaksanakan tugasnya. Untuk Kapten Penjaga, ia membawa mayat adiknya Murloc Orca ke istana Raja untuk melaporkan situasi.
Kapten Penjaga adalah salah satu kekuatan tertinggi yang diakui dibawah perintah Raja. Selain itu, Kapten Penjaga cukup akrab dengan Raja. Keduanya pernah berjuang bersama di Endless Land. Sehingga Kapten Penjaga yakin bahwa Raja akan memberinya wajah.
Kapten Penjaga masuk ke dalam istana, para penjaga yang berjaga di gerbang istana hanya membiarkannya lewat sambil memberi hormat.
Kemudian ia bertemu dengan pelayan Murloc. "Sampaikan kepada Raja, Kapten Penjaga Orcain, ada berita penting yang perlu disampaikan."
Pelayan itu melihat mayat Murloc yang dipegang Kapten Penjaga langsung mengerti apa yang terjadi.
"Ya, Kapten! Mohon tunggu sebentar!"
Pelayan itu pergi dan langsung mengunjungi kamar Raja. Sedangkan Kapten Murloc masih tetap berdiri sambil memegang mayat adiknya. Meskipun ia berteman dekat dengan Raja, namun masih tidak sopan jika ia datang begitu saja seperti ini.
Tak lama kemudian, Sang Raja akhirnya tiba. Penampilan Raja yang berotot, dan bersisik tebal. Sosoknya mirip seperti buaya dengan gigi yang banyak dan runcing, namun mulutnya tidak terlalu menonjol seperti buaya pada umumnya.
"Yo, temanku! Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya sanga Raja.
"Begini yang mulia..." Kemudian Kapten Penjaga mulai menceritakan apa yang terjadi. Ia juga menyebutkan dugaannya dan perintah yang telah ia berikan.
Mendengar penjelasan dari Kapten Penjaga, Sang Raja mengerutkan kening. Masalah ini cukup serius.
"Baiklah, lakukan saja apa yang kau mau. Aku akan mendukungmu!"
__ADS_1
"Terimakasih yang Mulia!"