
"Ketua, kami ingin material dari Iblis," pinta Anthonio dan Red Lotus secara bersamaan.
Shiro yang sedang minum menghilangkan dahaganya, langsung memuncratkan air yang masih ada di mulutnya karena terkejut.
Ketua Asosiasi tidak langsung menjawab, Ia mengetuk meja beberapa kali. "Apa yang ingin kalian lakukan pada material tersebut?"
Red Lotus menjawab terlebih dahulu: "Kami ingin mencoba mengembangkan alat yang berhubungan dengan Iblis, mungkin saja kali berhasil membuat alat yang bisa mendeteksi Aura para Iblis."
Mendengar alasan Red Lotus, Ketua Asosiasi mengangguk. Namun Ketua Asosiasi tidak langsung menjawab, ia mengalihkan perhatiannya kepada Anthonio.
"Bagaimana denganmu?" tanyanya.
Anthonio tersenyum lalu menjawab: "Aku ingin menggunakan material Iblis sebagai bahan untuk membuat boneka. Mungkin saja ada keuntungan tak terduga nantinya."
Alasan Anthonio tampak asal-asalan. Namun mengingat kemampuannya yang masih misterius, sepertinya tidak ada masalah memberikannya kepada Anthonio.
Namun mengingat material tidak ada ditangannya, Ketua Asosiasi hanya bisa membiarkan Shiro yang memutuskannya.
"Untuk material, tidak masalah kalian menginginkannya. Tapi..."
Mendengar jawaban positif Ketua Asosiasi, keduanya tampak bersemangat. Kata 'Tapi' diujung kalimat Ketua Asosiasi mungkin merupakan syarat dari pihak Asosiasi Pahlawan, jadi mereka harus mendengarkan permintaan Asosiasi Pahlawan.
"Tapi material Iblis bukan berada ditanganku ataupun Asosiasi Pahlawan."
Mendengar sambungan ucapan Ketua Asosiasi, keduanya mengerinyitkan dahi.
"Apa maksud Ketua?" tanya keduanya.
Ketua Asosiasi menunjuk Shiro yang masih asik menikmati makan siangnya. "Material itu miliknya. Kalian minta kepada dia, soalnya dia yang berhasil mengalahkan Iblis itu sendirian. Tapi ingat, ia berkelana dan memecahkan banyak Gate dan menghadapi banyak bahaya diluar sana. Berikan harga yang sesuai, jangan mempermalukannya."
Keduanya mengangguk mengerti. Mereka juga paham, kalau rampasan Raid dibagi berdasarkan kontribusi atau kesepakatan tim Raid. Namun jika seseorang memecahkan Raid seorang diri, semua material adalah milik orang itu.
Semua ini adalah aturan yang ada di masyarakat, tentu mereka mengerti. Karena Ketua Asosiasi sudah mengizinkannya, mereka tinggal membujuk Shiro dan meminta harga yang sesuai.
Dan jika Shiro menolak, apa boleh buat. Itu semua haknya, ia bebas menggunakan material itu. Terserah dia ingin Ia gunakan sebagai apa, dijual, dipakai sendiri atau disimpam sebagai koleksi. Semua keputusan itu berada di tangan Shiro.
__ADS_1
Keduanya mengangguk dan ingin menghampiri Shiro. Namun melihat kondisi Shiro yang masih asik makan, mereka mengurungkan niatnya. Mereka menunggu Shiro selesai makan untuk melanjutkan transaksi.
Walaupun sebenarnya, Shiro sudah mendengar semua apa yang diinginkan keduanya. Namun Shiro tidak peduli, karena mereka yang butuh, mereka harus menunggu. Ia terus makan sambil memikirkan keputusan apakah ingin menjual material dari Iblis atau tidak.
Setelah beberapa menit, Shiro akhirnya selesai menyantap makan siangnya. Ia pun sepertinya sudah membuat keputusan.
"Zero, kesini?"
Ketua Asosiasi memanggilnya, Shiropun mendekat. Walaupun ia tahu apa yang ingin dikatakan Ketua Asosiasi, Shiro masih bertanya kepadanya.
"Ada apa Ketua?"
Ketua Asosiasi menunjuk Anthonio dan Red Lotus lalu berkata: "Keduanya ada yang ingin dibicarakan kepadamu. Aku akan pergi dulu, semuanya terserah padamu, kami hanya bisa mendukung keputusanmu."
Shiro mengangguk, kemudian Ketua Asosiasi pergi meninggalkan ruangan bersama Brewthern. Shiro ditemani Anastasya ditinggalkan bersama Anthonio dan Red Lotus untuk melanjutkan transaksi.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Shiro pura-pura tidak tahu.
"Kami ingin material dari Iblis," ucap keduanya secara bersamaan.
Kemudian keduanya menjelaskan kembali apa yang mereka jelaskan kepada Ketua Asosiasi. Diakhir kata, mereka juga menambahkan kalau ini untuk membantu menemukan keberadaan Iblis dan untuk kelangsungan hidup manusia.
Walaupun kalimat terakhir tidak bisa membuat Shiro percaya. Namun dari awal Shiro memang sudah berniat untuk membagi material Iblis ditangannya.
"Baiklah, tapi hanya kedua item ini yang akan ku berikan kepada kalian berdua."
Shiro mengeluarkan cakar dan tanduk Iblis yang patah sebelum peningkatan kekuatan. Aura Iblis tidak terlalu besar, namun Shiro berpikir ini sudah cukup untuk mereka.
Bukannya Shiro pelit, namun karena mereka ingin menggunkan untuk penelitian dan keperluan mereka sendiri, Shiro tidak perlu memberikan kualitas terbaik.
"Oke, ini sudah cukup."
Keduanya tersenyum dan ingin mengambil material di tangan Shiro. Namun Shiro langsung menarik kembali tangannya.
"Mari kita negosiasikan harganya terlebih dahulu."
__ADS_1
Keduanya tampak malu, mereka kira akan mendapatkannya secara gratis. Namun mereka tidak mempermasalahkannya. Ketiganya mulai bernegosiasi masalah harga, sedangkan Anastasya hanya menonton disamping.
Setelah beberapa menit, mereka pun mencapai kesepakatan. Shiro tidak menetapkan harga yang terlalu besar, dan keduanya pun tampak puas dengan harganya. Shiro hanya mematikan harga 15.000 Gold untuk masing-masing item tersebut.
Pembayaran untuk kedua item tersebut dilakukan secara konstan. Anastasya membuat faktor penjualan untuk mereka, walaupun sebenarnya tidak terlalu diperlukan juga. Namun untuk formalitas dan pelaporan, itu semua diperlukan.
"Senang berbisnis dengan Anda." Red Lotus bersalaman dengan Shiro lalu pergi dengan material tersebut tampak banyak kata.
"Datanglah ke Bar kami, dan kami menerima material yang tidak kau perlukan. Akan ku jamin, harganya tidak akan pernah mengecewakan."
Sebelum pergi, Anthonio memberi kartu namanya keadaan Shiro, ia berharap agar Shiro dapat mampir ke Bar Heroes miliknya dan memiliki banyak transaksi dengannya kedepannya.
Shiro tidak mempermalukannya, ia mengambil kartu nama itu dan menyimpannya.
Anthonio pun berjalan keluar terlebih dahulu, sebelum diikuti oleh Shiro. Untuk Anastasya, ia masih memiliki laporan tentang hasil transaksi Shiro.
Setelah rapat yang membosankan. Shiro memulai kegiatan refreshing. Sudah lama ia tidak bersantai dan melihat Kota yang sudah lama tidak Ia lihat.
Menikmati jajanan pinggir jalan sambil menonton berbagai aktivitas yang terjadi disekelilingnya yang tampak damai. Ada perasaann nostalgia dan kerinduan di setiap tatapannya. Kehidupan damai yang sudah lama ia impikan.
Selama datang ke dunia ini, Ia selalu khawatir the segala macam bahaya yang akan menimpa hidupnya. Walaupun ia masih memiliki sistem, namun sistemnya tampak kaku, dan tidak terlalu berguna, sehingga ia masih memiliki perasaan takut dan ragu-ragu.
Sekarang, ia sudah memiliki kekuatan untuk melindungi hidupnya. Namun masih ada kekhawatiran di benaknya, sebab kekuatannya tidak akan bisa melindungi semua orang.
"Huh~"
Shiro mendesah pelan memikirkan berbagai persoalan kehidupan.
Ia hanya bisa terus melangkah, meniti jalan yang telah ia buat.
Hari sudah mulai sore, Shiro tidak lupa menghampiri toko tempa Roxie untuk minta dibuatkan Jubah Assassin miliknya untuk digabungkan dengan Jubah hitam Lich yang bisa menyerap Aura dari alam.
Kedua Jubahnya telah rusak selama petualangannya, dan ia masih perlu kedua Jubah itu untuk menjaga identitasnya dan untuk meningkatkan kekuatannya.
Setelah itu, Shiro kembali ke rumah untuk beristirahat.
__ADS_1
Kehidupannya santainya berlangsung selama seminggu. Sebelum Shiro memutuskan untuk melanjutkan kembali petualangannya.