
Di sebuah ruangan.
Salah satu pelayan sedang membersihkan suatu ruangan. Namun ia terkejut ketika membersihkan ruangan tersebut.
Mata pelayan itu membelalak, ia langsung melepaskan alat bersih-bersih yang ia pegang. Lalu pelayan tersebut langsung berlari dengan tergesa-gesa.
` tok~ tok~ tok~`
"Tuan... Tuan, ada berita gawat." ucap Pelayan tersebut sambil mengetok pintu suatu kamar.
Seorang pria paruh baya keluar dari ruangan lalu menatap pelayan tersebut, "Ada apa ? "
Pria paruh baya tersebut adalah Ayah dari Shiryuu Yuki. Ia sedang menyiapkan segala macam dokumen yang diperintahkan Patriark sebelumnya.
"Cepat katakan, kalo ini bukan hal yang mendesak, kau akan ku pecat." ucap Ayah Shiryuu dengan marah.
Pelayan tersebut gemetar ketakutan ketika mendengar ancaman dari Ayahnya Shiryuu. Namun ia memberanjkan diri untuk berbicara. "Begini Tuan, ada salah satu perubahan yang terjadi di salah satu monumen jiwa yang berada di ruang penyimpanan, Tuan."
"APA KATAMU ?" Ayah Shiryuu kaget dan berteriak marah. Membuat pelayan tersebut menjadi sangat ketakutan.
Mengabaikan sang pelayan yang gemetar ketakutan, Ayah Shiryuu Yuki langsung berlari menuju ruang penyimpanan. Pelayan tersebut memberanikan diri untuk mengikuti.
Sesampainya di dalam Ruangan Penyimpanan, Ayah Shiryuu Yuki kaget, karena Tanda yang ada di monumen jiwa milik anaknya telah menghilang.
Hal ini berarti ada 2 kemungkinan yang terjadi, anaknya yang sudah meninggal, atau pemilik kemampuan ini yang meninggal.
Monumen jiwa sendiri bukanlah sebuah item khusus ataupun sebuah Artifact. Melainkan hanyalah sebuah item atau Benda biasa.
Monumen jiwa ini spesial karena dibuat menggunakan skill dari seorang pahlawan yang bisa melacak jiwa seseorang.
Pahlawan akan menggunakan Skillnya untuk melihat kondisi jiwa target berdasarkan permintaan klien, lalu menyimpannya dalam sebuah benda, ornamen ataupun sebuah Patung agar bisa diketahui keadaan target yang jiwanya sudah ditargetkan oleh pahlawan tersebut.
Selain untuk mengetahui jiwa target apakah sudah mati atau belum, Monumen jiwa ini juga bisa digunakan untuk melacak jiwa target tersebut jika target menghilang.
Ayah Shiryuu merasa terpukul mengetahui Tanda di Monumen Jiwa anaknya telah menghilang. Ia langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Pahlawan yang membuatkan Monumen Jiwa anaknya, ia ingin memastikan apakah anaknya benar-benar sudah meninggal atau hanya sebuah kesalahpahaman.
` trrrttt~ trrrttt~ Ting~`
Panggilannya diangkat, Ayah Shiryuu berbincang mengenai Monumen Jiwa anaknya kepada sang pahlawan.
Setelah cukup berbincang, Ayah Shiryuu menjadi sangat sedih. Menurut sang Pahlawan, tidak ada kelainan ataupun kesalahan yang dapat terjadi pada monumen jika selain dirinya sudah meninggal ataupun target yang meninggal.
Hal itu berarti, Anaknya yaitu Shiryuu Yuki sudah dinyatakan meninggal dunia.
__ADS_1
"SIAPA YANG BERANI MEMBUNUH ANAKKU~?" Ayah Shiryuu Yuki sangat marah, ia berteriak keras sampai-sampai orang lain yang lewat tak jauh dari sana bisa mendengar teriakannya.
"Sial, aku harus segera melaporkan hal ini kepada Patriark " gumam Ayah Shiryuu.
Sebelum pergi, Ayah Shiryuu memandangi pelayan yang mengikutinya, "Kau, tunggu disini, jangan biarkan satu orang pun masuk sebelum diriku kembali."
"I... iya, Tuan." Pelayan tersebut menjawab dengan gemetaran.
Ayah Shiryuu Yuki bergegas berlari menuju ruangan Patriark. Para pelayan dan anggota keluarga yang melihat Ayah Shiryuu berlari dengan penuh emosi menjadi penasaran apa yang terjadi.
Sesampainya didepan ruangan Patriark, Ayah Shiryuu Yuki mengetuk pintu dan setelah diizinkan masuk, ia baru masuk.
Ayah Shiryuu segera melapor apa yang terjadi kepada putranya kepada sang Patriark. Ia pun sudah menjelaskan tentang panggilan teleponnya kepada sang Pahlawan pembuat Monumen Jiwa anaknya.
Gelas yang dipegang Patriark pecah berkeping-keping setelah mendengar kabar tersebut. Ini berarti ada suatu faktor X yang mengganggu rencana mereka.
Patriark Keluarga Yuki berdiri, "Siapkan semua pahlawan dan keamanan yang bisa dikerahkan saat ini. Jangan lupa selesaikan segela dokumen yang diperlukan sebelumnya. Jangan sampai rahasia Keluarga Yuki bocor dan diketahui oleh pihak lain."
"Iya Patriark. Kalo begitu, saya izin pamit dulu." ucap Ayah Shiryuu.
Ayah Shiryuu segera pergi dan melaksanakan perintah dari Sang Patriark. Ia mulai bertanya kepada beberapa pihak mengenai kemana perginya Shiryuu.
Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, ia segera memobilisasi kekuatan utama dari Keluarga Yuki yang berupa tim keamanan dan juga pahlawan.
Mereka pun mulai berangkat ketempat Gate yang dimasuki Shiryuu.
Di ruangan Patriark Keluarga Yuki saat ini.
Sang Patriark sedang melihat kepergian para tim keamanan dan para pahlawan yang sedang menuju Gate. Ntah kenapa, ia merasakan firasat buruk.
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." ucapnya sambil melihat ke luar melalui jendela.
...****************...
Shiro tidak tahu apa yang terjadi didunia luar saat ini, ia saat ini berusaha mencoba menghentikan serangan dari Panatua Ice Elf.
Panatua Ice Elf tersebut tertawa, "Hahaha.. Berbanggalah kalian semua karena bisa menyaksikan mahakarya ku yang satu ini."
"Serangan ini aku namakan. Blizzard of Sword." tambah Panatua Ice Elf.
Setelah Panatua Ice Elf mengucapkan nama kemampuannya, ruangan Gua mulai bergetar, angin yang berhembus membawa berbagai macam objek semakin kuat.
Aura didalam Ruangan Gua menjadi mengamuk, sebuah badai salju besar tercipta didalam ruangan gua yang kecil itu.
__ADS_1
Melihat pemandangan seperti ini, Brendy dan Denshu langsung putus asa, mereka berpikir bahwa tidak ada harapan hidup lagi bagi mereka. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, mereka pun tidak bisa kabur saat ini.
Badai salju mulai mengamuk di dalam ruangan gua. Sesuai namanya, tidak hanya badai salju yang terjadi, namun Pedang Es juga terbentuk di dalam badai salju tersebut.
Pedang Es yang terbentuk dari badai salju tersebut erbang ke berbagai arah, menembus dan melukai segala macam objek yang menghalangi lintasannya.
"Arrghhh~"
"Arrghhh~"
Beberapa Ice Elf yang tersisa berteriak kesakitan ketika terkena serangan dari Blizzard of Sword. Sepertinya serangan ini merupakan serangan skala besar tanpa menghiraukan mama lawan dan mana kawan.
Bahkan penggunanya sendiri bisa terkena oleh serangan yang ia keluarkan.
` dentang~`
` dentang~`
Shiro menangkis segala serangan pedang yang datang menghampirinya. Area serangan yang sangat luas membuatnya tidak bisa kabur dari jangkauan serangan, kecuali Shiro bisa keluar dari ruangan ini.
Beberapa kali Brendy dan Denshu hampir terkena serangan oleh Pedang Es yang terbentuk dari Badai salju ini, namun mereka masih bisa selamat karena Shiro menggunakan skill Switch berkali-kali pada mereka.
"Shiro, lupakan saja kami, kami hanya membebanimu jika terus seperti ini, kau hanya akan kelelahan dan akhirnya mati disini bersama kami. jadi Shiro, kau pergilah dari sini !" Brebdy dan Denshu memohon kepada Shiro untuk mengabaikan mereka.
Mereka siap berkorban demi kebenaran tentang tempat ini terungkap.
Mata Shiro berkaca-kaca ketika mendengar ini, ingin sekali ia menangis, namun keadaan tidak memungkinkan ia melakukan ini semua.
Shiro tahu bahwa ia tidak akan selamat kalo terus seperti ini, pasokan Auranya juga sudah sangat menipis.
"Kalo begitu yang kalian inginkan, Selamat Tinggal. Denshu, Brendy, Senang mengenal kalian, aku tidak akan melupakan pengorbanan kalian berdua." ucap Shiro dengan berat mengucapkan salam perpisahan kepada Brendy dan Denshu.
"Selamat Tinggal Shiro." ucap Brendy dan Denshu bersamaan.
Tubuh keduanya mulai ditusuk oleh Pedang Es satu persatu. Darah ditubuh mereka mulai mengalir deras, sebelum tubuh keduanya membeku oleh hembusan hawa dingin yang dibawa oleh badai salju ini.
Shiro tidak sanggup melihat hal ini, ia menggunakan skill Switch menuju luar ruangan. Ia keluar dengan air mata yang menetes dipipinya. Segala kenangan yang terjadi diantara mereka bertiga, langsung muncul seketika.
Isak tangis tak bersuara Shiro rasakan. Mungkin bagi sebagian orang, tindakan Shiro hanyalah tindakan seorang pengecut. Namun sebenarnya butuh perjuangan dan pengorbanan untuk menindak suatu keadilan.
Jika tidak ada yang melaporkan hal ini terjadi, akan ada korban lainnya dikemudian hari.
Setelah berhasil keluar jauh dari jangkauan Badai Salju tersebut, Shiro memandangi lorong ke arah ruangan tersebut. Ia menggigit bibirnya kuat sampai meneteskan darah.
__ADS_1
"Selamat Jalan Denshu, Brendy. Kalian adalah Pahlawan yang sesungguhnya."
Brendy dan Denshu dinyatakan Gugur dalam pertempuran. Keduanya meninggal sebagian seorang Pahlawan yang berusaha mengungkapkan suatu kejahatan.