
Shiro mengeluarkan alat komunikasi yang diberikan Leon kepadanya selain 2 buah Kristal kecil seukuran kelereng.
"Halo, ini aku Zero. Aku punya informasi penting yang ingin diberitahukan."
Segera, suara Leon terdengar, "Zero ? Siapa Zero ? Aku tidak mengenalnya."
Shiro menepuk dahinya, ia lupa mengenalkan identitasnya kepada Leon. Selain itu, Leon hanya melihat sekilah surat identitas Khusus dari Asosiasi Pahlawan dan tidak membaca identitas Shiro di surat tersebut.
"Aku Zero, pasukan Khusus dari Asosiasi Pahlawan. Assasin berjubah putih yang memiliki sayap." Shiro menjelaskan.
"Oh, jadi itu kau. Lalu, informasi apa yang akan kau beritahukan ?" ucap Leon dengan penuh semangat.
"Aku punya informasi tentang ruangan Boss. Dengarkan aku, begini....."
Sebelum Shiro menyelesaikan kalimatnya, Leon memotong pembicaraan Shiro dengan penuh semangat, "Ruang Boss ? dimana itu ? Cepat beritahu aku."
"Dengarkan aku dulu." ucap Shiro dengan nada kesal.
Merasa terlalu terburu-buru, Leon meminta maaf. "Hehe, maaf, maaf. Lalu, bagaimana dengan ruangan Boss yang kau bicarakan? "
"Aku menemukan susunan teleportasi sekali pakai menuju Ruangan Boss. Aku tidak tahu bagaimana spesifikasinya, karena aku belum memasukinya." Jelas Shiro secara singkat.
Leon yang berada di pulau apung lain mengerutkan kening, "Lalu, bagaimana kau tahu bahwa itu ruangan Boss jika kau belum pernah melihatnya secara langsung?"
Shiro tahu kecurigaan Leon, namun ia tidak berniat menjelaskan secara mendetail. "Aku punya caraku sendiri. Mau kau percaya atau tidak, terserah padamu. Setidaknya aku sudah memberitahumu apa yang aku ketahui."
Mendengar kalimat Shiro yang tidak bersahabat, Leon merasa bahwa ia terlalu curiga. Padahal pihak lain merupakan pasukan Khusus dari Asosiasi Pahlawan.
Leon ingin meminta maaf, namun ucapan Shiro kembali terdengar. "Lagian, jika susunan teleportasi sekali pakai hanya ada di pulau apung tempatku berada. Dan aku memasukinya sendirian, kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa, apalagi memasuki ruangan Boss."
Leon mengangguk, "Iya, kau benar. Aku terlalu terburu-buru dan curiga sebelumnya, maafkan aku. Terimakasih atas informasi yang kau berikan. Aku akan mencoba mencari susunan teleportasi di pulau tempatku berada "
Setelah itu, Shiro mengangguk. Ia juga memberitahukan spesifikasi lokasi susunan teleportasi ditempat pulau apungnya berada. Siapa tahu, ada lokasi yang sama di pulau-pulau apung lainnya.
"Huh~" Shiro menghela nafas, ia memandangai lokasi susunan teleportasi diatas altar. Ia hanya bisa menyerah memasuki ruangan Boss saat ini. Meskipun ia cukup kuat untuk by One melawan Boss, namun ia harus berpikir rasional.
Jangan sampai, karena terlalu percaya diri dan hanya untuk satu Boss monster. Nama baikmu akan tercemar.
Shiro mengeluarkan alat marking yang berguna untuk menandakan lokasi agar muncul di GPS Khusus. Shiro menggunakan ini karena ia berniat mencari pulau-pulau apung lainnya, sembari menunggu berita dari Leon.
"Ayo pergi." Setelah menandai lokasi, Shiro mengajak Unsen untuk pergi ke tempat lain.
Shiro terbang, ia keluar dari pulau itu dan mulai mencari pulau-pulau apung lainnya. Dari kejauhan, ia melihat sebuah suar yang menjulur ke langit.
"Sepertinya, ada yang butuh bantuan." Gumam Shiro. Ia lalu bergegas menuju lokasi pulau apung tempat suar tersebut dinyalakan.
Setelah beberapa menit, Shiro melihat sebuah tim yang terdiri dari 4 orang sedang bertarung dengan sekawanan Thunder Bird.
Seorang healer yang sedang mencoba menyembuhkan Damage Dealer berupa Ranger dan seorang Mage. Selain itu, ada Tanker yang mencoba menghalau kedatangan Thunder Bird agar tidak mendekati sang Healer wanita.
Melihat kondisi tubuh Tanker yang dipenuhi luka gosong, Shiro takjub dengan semangat juangnya. Tanker tersebut tidak kabur ketika menghadapi bahaya yang mengancam nyawanya. Ia pun berani berkorban untuk membantu agar rekan setimnya bisa selamat.
"Sial, aku sudah kelelahan, kakiku sudah gemetar. Apakah belum ada bala bantuan yang datang?" keluh Tanker tersebut.
"Tahan, tunggu sebentar lagi. Suar baru kita hidupkan, perlu waktu untuk bala bantuan untuk datang." ucap Healer wanita itu sambil terus menyembuhkan dua anggota timnya yang tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Tanker tersebut melihat keringat deras di dahi sang Healer, ia memutuskan untuk bertahan sebentar lagi.
"Huh, Maju kalian para BANGSAATTT~" ucap Tanker tersebut mengutuk para Thunder Bird yang terbang berputar diatas mereka.
Beberapa Thunder Bird terpancing oleh suara sang Tanker. Tanker tersebut tersenyum. "Ini kemampuan terakhir ku. Shield of Prison."
Sebuah dinding Aura transparan tiba-tiba muncul dan melingkari area temoat sang Tanker dan rekan setimnya berada.
Tanker tersebut langsung terjatuh selepas mengeluarkan skill tersebut. Ia kelelahan, tak hanya fisik, namun mentalnya juga. Menggunakan Skill ini banyak sekali mengkonsumsi Aura ditubuhnya. Sehingga Aura ditubuhnya menjadi sangat tipis sekarang.
Jika ia memaksa menggunakan Auranya saat ini, ia bisa-bisa mati kelelahan kehabisan Aura.
` bang~`
` bang~`
Thunder Bird yang mencoba menyerang, sekaan menabrak dinding tebal. Mereka tidak bisa menembus pertahanan dari Shield of Prison.
Shield of Prison adalah sebuah Skill pelindung Area. Namun, seperti namanya, target area akan terlindungi namun tidak bisa menyerang musuh yang berada di luar.
Namun, Skill ini bisa dihancurkan dari luar dan memiliki batas waktu hanya 10 menit.
"Kita aman untuk sementara." ucap Tanker tersebut dengan lemah.
Healer tersebut mengangguk, setidaknya dengan Shield of Prison ini, bisa mengulur waktu hingga bala bantuan tiba.
` bang~`
` bang~`
Keduanya menjadi khawatir, mereka takut Shield of Prison akan hancur jika ini terus terjadi.
Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan, mereka mereka bisa berharap, bala bantuan akan segera tiba atau Thunder Bird tersebut akan kabur dan menyerah mengejar mereka.
Namun, 1 menit berlalu.
2 menit berlalu.
Masih belum ada bala bantuan yang terlihat.
` Dang~`
` Dang~`
` Dang~`
Gempuran serangan dari kawanan Thunder Bird terus berlanjut. Mereka seakan tidak mengenal kata menyerah, mereka terus menyerang dinding pelindung secara bergantian.
` Klik~`
Sebuah retakan mulai muncul di dinding eindung tersebut. Hanya tinggal masalah waktu saja sebelum dinding pelindung ini hancur.
Sang Tanker yang melihat retakan yang mulai muncul, hanya bisa mendengus pelan dan mulai berdiri.
Ia merasa bahwa mereka harus melawan, tidak ada gunanya terus diam seperti ini. Ia memandang kedua rekan setimnya yang masih pingsan, namun sudah mulai pulih dengan tersenyum. "Jaga mereka, pergi dan cari tempat aman. Aku akan mengulur waktu."
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian." sang Healer tersebut menolak.
Tanker hanya bisa tersenyum kecut, ia tahu bahwa percuma saja untuk melarikan diri. Dengan jumlah Thunder Bird yang banya, pasti ada saja beberapa Thunder Bird yang mengejar mereka.
"Yaudah, mari bertarung bersama. Tolong jaga aku." Tanker tersebut mengangkat Perisai besarnya dan siap menunggu serangan musuh datang.
` Klik~`
`BAANGG~`
Retakan yang muncul semakin membesar dan akhirnya meledak, pecah berkeping-keping.
Para Thunder Bird dengan semangat bergegas menuju tim mereka. dan Mereka hanya bisa berjuang hingga titik darah penghabisan.
` Dang~`
Tanker berhasil menankis serangan paruh dari Thunder Bird. Namun serangan tersebut tidak hanya satu, yang lain perlahan mulai menyerang, dan tangan dari Tanker tersebut mulai mati rasa setelah beberapa kali mencoba menangkis serangan dari Thunder Bird.
` Bang~`
Tanker tersebut terpental mundur ke pohon tempat kedua rekan setimnya beristirahat. "Sial, apa cuma sampai disini."
Sang Healer bergegas mendekat, ia berusaha mencoba mengobati sang Tanker. Namun karena Auranya sudah mau habis juga, ia hanya bisa menggunakan skill penyembuhan sederhana.
"Sial, andai aku masih memiliki banyak Aura, maaf karena menjadi beban kalian." Healer tersebut mengoceh, ia meminta maaf kepada sang Tanker.
"Tidak apa-apa, itu bukan salahmu." ucap Tanker tersebut.
"Tapi... tapi..."
"Ssttt~ Lihat, mereka sudah datang kemari."
Tanker tersebut memotong ucapan dari Healer, lalu ia menunjuk kepada beberapa Thunder Bird yang mengarah kepada mereka.
"Hei, sepertinya ini akan berakhir sampai disini saja. Terimakasih telah menemaniku." ucap sang Tanker dengan pasrah.
"Tidak, pasti ada kesempatan. Bertahanlah, kau tahu, aku menyukaimu. Jadi bertahanlah." sang Helaer mulai menangis. Ia berusaha membujuk Tanker tersebut agar tidak menyerah.
Mendengar pengakuan dari Healer, Tanker tersebut tersenyum. Ia lalu mengusap kepala dari sang Healer, "Terimakasih telah mencintai pria sepertiku."
Melihat serangan Thunder Bird yang hampir sampai. Tanker tersebut merangkul sang Healer ke dadanya. Mereka berdua terpejam dalam dunia mereka.
"Aku juga menyukaimu! "bisik Tanker pelan ditelinga sang Healer.
Mereka saling merangkul dalam pejam, mencoba menahan tangis agar tidak jatuh. Berharap, bisa meninggal bersama. Atau setidaknya, ketebalan Armor sang Tanker dapat melindungi Healer.
10 detik Berlalu.
30 detik berlalu.
Rasa sakit dari serangan Thunder Bird tidak kunjung datang.
Mereka berdua membuka mata, mereka melihat sesosok putih terbang menatap mereka.
Sosok tersebut berbicara kepada mereka. "Apakah kalian sudah selesai ?"
__ADS_1