
Dengan pesawat X, Shiro berhasil tiba di Kota A hanya dalam beberapa menit. Ia berhasil landing di lapangan milik Asosiasi Pahlawan.
"Ketua, aku pulang dulu ya?" Setelah keluar dari Pesawat X, Shiro pamit kepada Ketua Asosiasi.
"Eh... langsung pulang? Kenapa tidak mampir dulu?"
"Tidak ah, aku tidak mau diperalat olehmu."
Setelah itu, Shiro langsung pergi dari Markas Asosiasi Pahlawan dan menuju ke rumahnya. Sudah cukup lama baginya tidak pulang ke rumahnya yang ada di pinggiran kota.
Ketika tiba dirumahnya, Shiro terkaget karena rumahnya sangatlah bersih. Namun Shiro tidak terlalu memikirkannya, ia berpikir palingan semua ini dilakukan oleh pihak Asosiasi Pahlawan atau bawahan dari Ketua Asosiasi.
Ia tidak banyak berpikir, ia mengunci pintu, kembali ke kamarnya dan beristirahat di kamarnya. Sudah lama sekali ia tidak merasakan rasa nyaman tidur di kasur empuknya.
Ia tertidur sampai tidak mengetahui kalau ada pihak yang datang ke rumahnya. Mungkin karena Shiro menganggap rumahnya adalah tempat yang aman. Sehingga ia terlalu santai dan menurunkan kewaspadaannya.
Orang itu masuk ke rumah Shiro dengan santai, ia membuka pintu dengan kunci yang ia miliki.
Orang itu memasuki rumah dengan santai, ia memasuki dapur, dan mengeluarkan berbagai macam bahan makanan yang telah ia beli. Ia memasak dengan santai sambil besenandung ria.
Perilaku Pihak itu seakan menganggap rumah Shiro sebagai rumahnya sendiri.
Setelah masuk, pihak itu dengan santainya mandi. Ia keluar hanya dengan handuk saja dan berjalan ke sebuah kamar yang terdapat Shiro yang sedang tertidur.
Ketika melihat seorang lelaki yanh sedang tertidur di kasur pihak itu ternganga.
Unseen yang sedang berbaring tak jauh dari lokasi Shiro, terbangun ketika mendengar suara pintu terbuka.
Melihat ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar, Unseen refleks langsung menyerang pihak itu.
"Shadow Bind!"
Pihak itu tidak bisa mengelak, ia terkena jeratan Shadow Bind milik Unseen.
Mendengar gerakan di kamarnya, Shiro terbangun dengan kesal. Ia terbangun dengan suara berisik, padahal ia sedang mimpi indah. Namun sekejap kemudia ekspresinya berubah menjadi serius karena merasakan ada Aura milik orang lain yang ada dikamarnya.
__ADS_1
Ia langsung bangkit dan bersiap untuk menghadapi pihak yang sewenang-wenang masuk ke dalam kamarnya.
Bukannya melawan, Shiro malah tercengang dengan pihak yang masuk ke dalam kamarnya. Sesosok wanita yang hanya mengenakan handuk.
Melihat sosok wanita yang masuk ke kamarnya dengan pakaian seperti itu, pasti membuat suasana menjadi canggung. Apalagi ketika melihat sosok wanita itu yang ternyata merupakan kenalan Shiro.
"Ume!"
Ya, wanita yang menganggap rumah ini sebagai rumahnya tidak lain dan tidak bukan adalah Ume Kasumi. Teman sekelas Shiro saat berada di Akademi Beta. Dan perempuan yang ia selamatkan saat berada di Gate Giant Cyclops.
Setelah berpisah dengan Ume di depan Gate Giant Cyclops, Shiro sudah punya firasat kalau identitas rahasianya sudah terbongkar. Ia juga sudah tahu kalau ia bakal ketemu lagi dengan Ume.
Namun ia tidak menyangka akan bertemu secepat ini. Melihat Ume dengan kondisi hanya memakai handuk, dan diikat dengan Shadow Bind dengan ikatan yang sedikit tidak senonoh, suasana menjadi canggung.
"Unseen, lepaskan!" perintah Shiro.
Mendengar perintah Shiro, Unseen melepaskan jurus Shadow Bindnya. Ketika jurus itu dilepas, handuk yang dipakai Ume hampir terlepas, untung tangan Ume dengan secepat kilat langsung memegang kembali handuknya sehingga pemandangan yang tidak seharusnya dilihat, tidak terjadi.
"Fiuh~"
Ume juga kemudian langsung berjalan menuju lemari yang tak jauh berada di kasur Shiro, kemudian Ia mengambil berbagai pakaian secara acak kemudian pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa.
Shiro kemudian memandang Unseen untuk bertanya tentang apa yang terjadi. Namun Unseen tidak menjawabnya, karena ia juga tidak tahu apa yang terjadi.
Hanya dalam beberapa menit kemudian, Shiro masih keadaan linglung, sebelum akhirnya Ume kembali dengan pakaian kasual yang cukup rapih. Ume menghampiri Shiro dan berkata: "Shi... Shiro, apa yang kau lakukan disini?"
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, Ume. Kenapa kau berada di rumahku?" balas Shiro.
"Eh, ini rumahmu?"
Melihat reaksi Ume yang tampak aneh, Shiro mengangguk: "Ya, ini adalah rumahku. Aku sudah lama tinggal disini, dan sepertinya aku tidak menghubungi agen Real Estate untuk menjual atau menyewakan rumah ini."
Ume terdiam mendengar perkataan Shiro, ekspresinya menunjukkan kebingungan. Shiro bertanya kembali kepada Ume : "Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau ada rumahku?"
"Etto.. Anu.. Jadi begini, sebenarnya aku..."
__ADS_1
Ume kemudian menceritakan dengan terbata-bata kepada Shiro alasan ia tinggal dirumah ini.
Ume memberitahukan kepadanya kalau ia sekarang bekerja secara penuh di Asosiasi Pahlawan dan rumah ini diatur oleh pihak Asosiasi Pahlawan sebagai tempat tinggalnya untuk saat ini.
Mendengar penjelasan dari Ume, Shiro mengerutkan dahinya, ia tampak kesal.
"Sial, ini pasti ulah Pak Tua itu yang ingin balas dendam kepadaku!" pikir Shiro sambil menggertakkan giginya.
Kemudian ia membayangkan wajah Ketua Asosiasi yang menyeringai licik kepadanya. Memikirkannya, Shiro ingin sekali mencabik senyum Ketua Asosiasi yang muncul di pikirannya.
"Oh, ya udah! Terserah kamu saja! Aku capek, dan ingin tidur!"
Kemudian Shiro berjalan keluar dari kamarnya, ia berjalan ke ruang tamu dan mengeluarkan matras yang biasa ia gunakan untuk bermalam ketika ia berada dalam petualangannya. Rasa lelah dan melihat kondisi luar yang mulai gelap, Shiro lebih memilih untuk mengalah.
Ume menjadi canggung ketika melihat Shiro tidur di ruang tamu. Kamar yang ditiduri Shiro adalah kamar tempatnya biasa tidur juga. Bahkan lemarinya banyak sekali berisi pakaiannya. Ia agak kurang enak melihat Shiro mengalah.
Masih ada beberapa kamar yang ada di rumah ini, namun karena tidak terpakai, jadi ia tidak membersihkannya. Shiro juga tahu akan hal ini, makanya ia memilih tidur di ruang tamu.
......................
Keesokan harinya.
Shiro bangun dengan perasaan segar, namun sedetik kemudian ia teringat kalau masih ada orang lain yang tinggal di rumahnya.
Ia kemudian berjalan ke kamar mandi dan ingin mencuci muka. Ketika ia berada di kamar mandi, ia mencoba berhati-hati, takutnya ada Ume di kamar mandi.
Namun untungnya apa yang ia khawatirkan tidak terjadi, semua kejadian klise di berbagai animanga tidak terjadi kepadanya.
Setelah mencuci muka ringan, Shiro berjalan ke dapur dan mencium aroma makanan yang menusuk hidungnya. Melihat makanan yang kaya di atas meja, Shiro tidak malu untuk menyantapnya.
Ia membaca surat permintaan maaf singkat atas kejadian semalam beserta memberitahu Shiro kalau Ume telah pergi bekerja.
Shiro tidak menganggapnya serius, ia terus menyantap hidangan yang telah disediakan. Walaupun ia bisa memasak, namun kemampuannya sangat rata-rata.
Ia sangat merindukan masakan enak kelas tinggi seperti yang dimakannya saat ini.
__ADS_1
Setelah makan, Shiro keluar rumah dan tidak lupa mengunci pintu. Kemudian ia berangkat ke Markas Pusat Asosiasi Pahlawan untuk menuntaskan urusannya.