
Di dalam ruangan Gua.
Serangan Blizzard of Sword tang dikeluarkan oleh Panatua Ice Elf melukai semua orang yang ada dalam jangkauan Badai tersebut, termasuk Panatua Ice Elf.
Durasi serangan ini sekitar 30 menit, Panatua Ice Elf mencoba bertahan dari serangan yang ia keluarkan.
Setelah durasi serangan Blizzard of Storm berakhir, Aura yang berada di dalam ruangan Gua tersebut mulai memudar, semuanya kembali dalam kondisi normal.
Namun tempat di dalam ruangan Gua tidak sebaik yang dipikirkan. Gua yang awalnya lumayan kering, dilapisi oleh Salju yang perlahan mencair.
Di lapisan Salju, ada beberapa tetes bunga daerah yang tersebar dimana-mana.
Beberapa mayat yang tidak bisa diketahui bagaimana bentukannya. Banyak batuan Gua yang berjatuhan saat serangan tersebut.
Goresan dipermukaan ruangan Gua memperlihatkan seberapa dahsyat serangan Blizzard of Sword yang keluarkan.
Merasakan tidak ada lagi Aura kehidupan didalam Ruangan Gua. Panatua Ice Elf mulai berjalan dengan tertatih-tatih.
Tubuhnya yang semakin kurus, kulitnya tambah memucat dan ditambah berbagai macam bercak serangan terlihat ditubuhnya.
Panatua Ice Elf berjalan mendekat ke arah mayat anak buahnya. Ia memberi kehormatan terakhir kepada para anak buahnya.
"Semoga kalian semua dapat kembali ke pelukan Dewi Niflheim." ucap Panatua Ice Elf.
Setelah penghormatan singkat kepada anak buahnya sesama Ice Elf. Sang Panatua Ice Elf menatap mayat Brendy dan Denshu yang berada tidak jauh dari sana.
Ia berjalan ke arah mayat Denshu yang berada paling dekat dengan dirinya. "Dengan menyerap kalian, pengorbanan ku ini tidaklah sia-sia."
Panatua Ice Elf perlahan namun pasti mendekati mayat Denshu. Walaupun pandangannya menjadi kabur, namun ia tetap berjalan dengan mantap menuju mayat Denshu.
Ketika ia sudah berada didepan mayat Denshu, pemandangan menakjubkan tiba-tiba terjadi. Mayat tersebut langsung menghilang begitu saja, seakan tidak pernah ada sebelumnya.
Panatua Ice Elf membelalak, ia mengusap-usap matanya. Namun Mayat tersebut tidak kembali. "Apakah ini hanya halusinasiku ?"
Panatua Ice Elf tidak banyak berfikir, ia kini menatap mayat Brendy yang jaraknya agak jauh dari dirinya.
Ia perlahan mendekat, tidak ada alasan gagal baginya kali ini. Jika ia tidak bisa menyerap sisa-sisa energi yang berada pada tubuh manusia, keadaannya saat ini akan memburuk. Dan bisa saja ia mati setelah ini.
Namun pemandangan yang tidak ia inginkan kembali terjadi. Mayat Brendy kembali menghilang didepan matanya.
Panatua Ice Elf mencoba mencari mayat bocah satu lagi, namun tidak ia temukan. "Sial, apa yang sebenarnya terjadi."
...****************...
Shiro yang berhasil kabur dari jangkauan serangan Blizzard of Sword, saat ini masih berdiri tidak jauh dari pintu keluar Gua.
__ADS_1
Ia mencoba memulihkan keadaannya terlebih dahulu dan menyelesaikan permasalahan yang ia hadapi sebelum pergi meninggalkan Gua ini.
Perlahan tapi pasti, melalui metode Breathing, Aura ditubuh Shiro perlahan semakin terisi. Tak lupa ia menggunakan persepsinya untuk melihat keadaan di kedalaman Gua.
` bam~`
` bam~`
Shiro memukul tanah dengan lemah beberapa kali, ia memikirkan ketidakmampuannya dalam menyelamatkan teman-temannya.
Saat ini ia juga belum bisa pergi, Shiro belum bisa pergi dikarenakan ia harus membawa kembali tubuh dari kedua temannya yang sudah meninggal. Ia tidak bisa membiarkan tubuh temannya dikorbankan begitu saja.
Karena ia tahu mengapa Panatua Ice Elf menginginkan mereka semua. Tidak lain dan tidak bukan untuk memperpanjang umur mereka.
Dari cerita yang Shiro dapatakan dari Unseen tentang asal-usul Gate. Makhluk yang ada didalam Gate adalah makhluk yang diasingkan karena kalah dalam pertempuran.
Mereka diasingkan ke Gate dan perlu cara untuk bisa terus bertahan hidup.
Gate tidak bisa ada selamanya, ia perlu suatu sumber yang bisa mempertahankan keadaan Gate. Sumber itu adalah sisa-sisa kehidupan yang dimiliki oleh manusia yang memiliki bakat.
Boss dari Gate perlu mengkonsumsi dan menyerap sumber kehidupan tersebut agar Gate bisa terus bertahan.
Dalam hal ini, Panatua Ice Elf sebagai Boss Gate ini yang bertugas sebagai pihak ketiga yang menjembatani proses penyerapan sumber kehidupan agar bisa dikembalikan kepada Gate tersebut.
Dari persepsinya, Shiro merasakan bahwa Aura yang berada didalam Gua perlahan mulai menipis. Itu berarti Blizzard of Sword perlahan menghilang.
Shiro bangkit, Auranya juga sudah hampir penuh. Ia juga merasakan bahwa masih ada pihak yang masih hidup didalam sana. Shiro menebak bahwa kemungkinan besar bahwa Panatua Ice Elf yang masih hidup.
Aura pihak tersebut berjalan mendekat kearah salah satu Sisa Aura yang sangat redup, Shiro bisa menebaknya kalau targetnya adalah salah satu temannya.
Shiro tidak membiarkan hal ini terjadi, ia bergegas masuk agak jauh untuk memastikan skill Switch nya berhasil memindahkan target.
Setelah merasa jangkauannya cukup, ia mulai mengaktifkan Skill Switch yang ia miliki.
` jentik~`
` jentik~`
Satu persatu mayat kedua temannya berada dihadapannya.
Shiro tidak bisa menahan air matanya yang jatuh melihat kondisi tubuh kedua temannya yang hampir tak bisa ia kenali.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga kalian."
Tangan Shiro mengepal, ia tidak akan bisa membiarkan pembunuh temannya bisa hidup dengan selamat. Shiro berniat masuk kembali ke dalam Gua.
__ADS_1
Sebelum pergi, Shiro meletakkan kedua tubuh temannya kedalam ruang Inventory Sistem, walaupun Inventory tidak bisa digunakan untuk menyimpan makhluk hidup, tapi itu bisa digunakan untuk menyimpan mayat.
` jentik~`
Skill Switch kembali digunakan Shiro. Ia kembali ke dalam ruangan Gua. Ia melihat Panatua Ice Elf yang sedang tertatih-tatih mendekat mayat Shiryuu-senpai eh lebih tepatnya Shiryuu Yuki. Ia tidak pantas disebut sebagai Senpai.
Shiro tidak membiarkan hal ini terjadi, Shiro langsung mendekat dan mengeluarkan Katana miliknya. Ia langsung menusuk jantung dari Panatua Ice Elf.
Panatua Ice Elf tidak membayangkan bahwa masih ada orang yang masih hidup setelah serangan besarnya.
Ia memandang Shiro yang menusuk jantungnya, "Sepertinya kau yang memindahkan mayat kedua bocah itu, uhukk"
Panatua Ice Elf tersebut batuk darah, dan Shiro tidak berniat menjawab pertanyaannya.
"Wahai Dewi Niflheim, maafkan hamba... uhukk uhukk." gumam Panatua Ice Elf.
Shiro perlahan bisa melihat bahwa Panatua Ice Elf yang semakin melemah dan batuk darah. Hingga akhirnya meninggal.
Dendam kemarahannya belum terselesaikan, ia ingin menuntaskan ini semua dengan menghancurkan Keluarga Yuki.
Shiro mengambil Mayat dari Panatua Ice Elf dan menyimpannya di ruang Inventory Sistem.
` BAAAANNGGGG~`
Tak lupa, Shiro menghancurkan ruangan Gua tersebut. Ledakan besar terdengar, Gua tersebut perlahan runtuh.
Sedangkan Shiro, ia sedang dalam perjalanan keluar dari Gate. Berhubung di Gate sudah gelap, ia hanya bisa meraba-raba mencari jalan keluar.
Tak kunjung mendapatkan jalan keluar, Shiro hanya bisa bermalam di Gate malam ini. Ia menunggu matahari terbit untuk mencari jalan keluar.
......................
Pagi Harinya.
Cahaya mentari yang menyinari Gate, membuat Shiro dapat dengan mudah menemukan jalan keluar.
Dengan perasaan campur aduk, Shiro keluar dari Gate.
Ia terkejut ketika melihat kondisi di luar Gate. Banyak sekali orang yang hadir.
Sepertinya Shiro tahu apa yang terjadi, namun ia tidak berniat kabur. Karena percuma saja kau melarikan diri, tidak akan ada yang berubah. Malahan Ia akan dianggap bersalah.
Benar saja, salah seorang pria paruh baya maju dan mendekati Shiro.
Pria paruh baya tersebut memberikan perintah. "Shiro, kau ditangkap."
__ADS_1