
Setelah Shiro dan rekan setimnya membantai para Green Nova Priarie. Mereka terus memeriksa setiap sudut bangunan yang ada, memastikan tidak ada sisa-sisa Green Nova Priarie yang bersembunyi.
Setiap Green Nova Priarie yang mereka temui, akan dibunuh tanpa ampun.
Mungkin ini terdengar kejam, namun beginilah hidup. Jika mereka dilepaskan dan dibiarkan bebas, entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Terlalu lunak kepada musuh, hanya akan merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.
Tak lupa, mereka mengumpulkan Inti Kristal dari setiap Green Nova Priarie. Untuk bahan lainnya, mereka tidak mengambil apa-apa. Selain Inti Kristal, tidak ada bahan material yang bisa diambil dari tubuh Green Nova Priarie.
Setelah memastikan tidak ada Green Nova Priarie yang selamat. Shiro dan rekan-rekannya kembali berkumpul di dekat bangunan tua tempat laboratorium kloning berada.
Mereka memasuki bangunan tersebut dan memandang sekeliling mereka dengan tatapan heran.
"Sungguh daya ledak yang luar biasa," ucap Lidya.
Salah satu Cindaku lainnya mengangguk, "Benar, jika ini ditempatkan di alam terbuka, pasti ledakan yang dihasilkan, dapat menghancurkan alam."
"Kira-kira apa penyebab ledakan ini, ya ?" Lidya bertanya-tanya.
"Ini efek serangan dari Boss Gate. Ia meledakkan dirinya sendiri." jelas Shiro secara singkat.
"Benarkah ?" tanya Lidya terheran-heran.
"Huh~" Shiro mendesah pelan, lalu ia mulai menceritakan tentang pertempuran dengan Boss monster atau Green Nova Priarie Tua.
Shiro mula menceritakan tentang penampilan Green Nova Priarie Tua. Mereka pun mengangguk, mencoba memikirkan penampilan Green Nova Priarie yang memiliki kulit Tua dan keriput.
Setelah itu, Shiro menceritakan tentang alat kloning dan hipotesisnya tentang cara Green Nova Priarie berkembang biak. Lidya dan kedua rekannya terkejut mendengar hal itu.
"Heh, ternyata mereka benar mempunyainya, ku kira cuma rumor belaka. Terus-terus, dimana sekarang alat kloningnya ?"
"Kemungkinan itu sudah rusak akibat ledakan besar tersebut. Meskipun begitu, bisa jadi mereka mempunyai alat kloning lain, walaupun probabilitasnya kecil." jelas Shiro.
Merekapun mengangguk, ada sedikit rasa kekecewaan pada wajah mereka. Shiropun mengerti, dengan alat kloning ini, mereka tidak perlu khawatir tentang kepunahan bangsa atau ras mereka.
Shiro pun awalnya ada niatan untuk memilikinya, namun mengingat jumlah manusia di dunia ini, sepertinya Ia tidak perlu mengkhawatirkan masalah garis keturunan.
__ADS_1
Ia tidak terlalu mengkhawatirkan mengenai memperoleh pasangan di masa depannya. Karena menurutnya, setiap orang pasti akan menemukan jodohnya masing-masing. Tentu saja itu harus ditemani dengan sebuah usaha.
Yang dikhawatirkan Shiro, takutnya alat kloning ini, jika diketahui oleh beberapa pihak yang tak bertanggung jawab. Hanya akan menyebabkan perselisihan dan digunakan dengan tujuan yang buruk. Hal ini bukan hanya tidak menguntungkan, namun dapat menyebabkan bencana.
Maka dari itu, Shiro awalnya berniat untuk menyembunyikan keberadaan alat ini. Namun karena sudah rusak dan hancur lebur, apa boleh buat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Setelah itu, mereka mulai menelusuri setiap sudut bangunan tersebut. Shiro tahu, bahwa mereka masih mencoba mencari keberadaan alat kloning lainnya.
Shiro tidak menghentikan mereka, karena ia sudah yakin bahwa tidak ada lagi alat kloning lainnya. Benar saja, mereka kembali tanpa tanpa apapun kecuali lokasi pintu Keluar Gate di salah satu sudut bangunan.
"Bagaimana? ada hasil ?" tanya Shiro secara retorik.
Mereka menggelengkan kepalanya dengan kecewa.
Melihat ini, Shiro hanya tersenyum, "Mari kita kembali."
Shiro memimpin mereka menuju pintu Keluar Gate. Ketika ia hendak melangkah memasuki pintu Keluar Gate, sebuah tangan terulur ke bahunya.
"Tunggu sebentar!"
Shiro lalu menghentikan langkahnya, ia meneh ke belakang dan melihat Lidya yang menepuk bahunya.
"Jangan lupa janjimu."
Shiro berpikir sejenak, mencoba mengingat-ngingat janji yang Ia buat. Ia pun mulai mengingat janjinya tentang berkunjung ke kediaman Suku Cindaku.
"Baiklah, aku ingat. Kebetulan aku lagi butuh tempat untuk istirahat," ucap Shiro.
Lidya yang mendengar jawaban Shiro langsung mengangguk, Senyumnya langsung merekah. "Oke, ikuti Aku."
Shiro tidak bisa berbuat apa-apa, ia membiarkan Lidya untuk memimpin jalan. Namun sebelum melangkah keluar dari Gate, Lidya memandang kedua Cindaku lainnya.
"Kalian berdua, kembali ke pintu masuk Gate. Beritahu teman-teman kita yang lain, bahwa Boss sudah dikalahkan dan kalian bebas untuk kembali ke Suku. Namun ingat, sisahkan 1 atau 2 orang untuk berjaga-jaga, siapa tahu ada sesuatu hal yang tidak terduga yang bakal terjadi terhadap Gate ini."
"Ya, kami mengerti."
__ADS_1
Lidya mengangguk, kedua Cindaku lainnya menuruti perintah Lidya dan bergegas pergi menuruni gunung.
Melihat tingkah Lidya bagaikan sebuah Boss, Shiro kepikiran sesuatu, "Sepertinya Lidya mempunyai posisi tertentu dalam Suku Cindaku."
Kemudian Shiro melihat Lidya memandang dirinya.
"Ayo kita berangkat juga!" ucapnya.
Shiro mengangguk, ia mengikuti Lidya yang telah melangkah terlebih dahulu kedalah Pintu Keluar Gate.
Pemandangan seketika berubah menjadi sebuah pemandangan hutan yang dikenalnya. Suasanapun sudah mulai gelap, sepertinya malam akan tiba.
Melihat pemandangan sekitarnya yang hampir sama dengan keadaan saat memasuki Gate. Shiro sepertinya memikirkan perbedaan waktu antara Real Life dan keadaan di dalam Gate. Ia memikirkan bahwa ia sudah masuk ke dalam Gate selama seharian penuh, atau 1 X 24 jam.
Shiro menggelangkan kepalanya, 'Tidak kusangka, sudah seharian penuh aku berada di dalam Gate' pikirnya.
"Hei, mari ikuti Aku. Jangan coba-coba untuk kabur, ya ?" ancam Lidya.
Shiro hanya bisa terkekeh pelan. Ia mengangguk menuruti ancaman Lidya. Toh, ia berniat mencari tempat istirahat yang layak. "Tenang saja, aku akan mengikutimu."
Lidya mengangguk, kemudian Ia mulai berubah menjadi seekor harimau. Ia mulai berlari kencang menuju arah Selatan.
Shiro lalu mengikutinya.
Sembari terus bergerak, Lidya tidak henti-hentinya bertanya kepada Shiro. Perihal nama, orang tua, tempat tinggal, kemampuan, teman, pacar, caranya mengalahkan Boss, metode pelatihan dan lain sebagainya.
Shiro dibombardir oleh banyak sekali pertanyaan, beberapa diantaranya hanya dijawab secara asal. Seperti metode pelatihan, ia hanya menjawab dengan jawaban umum seperti sering berlatih dengan intensitas tinggi.
Ataupun ketika ditanya mengenai cara mengalahkan Boss sebelumnya, Shiro hanya menjawabnya secara asal bahwa ia beruntung melihat Boss yang sedang tertidur di alat kloning, namun karena serangan yang tidak cukup mematikan, Boss terbangun dan terkaget, sehingga Boss mengeluarkan teknik meledakkan diri.
Jawaban asal Shiro, membuat Lidya kurang senang. Namun beberapa pertanyaan seperti nama, Shiro jawab dengan jujur. Shiro memberitahukan kepada Lidya bahwa namanya adalah Zero.
Selama perjalanan, Shiro seakan sedang diinterogasi.
Sampai akhirnya, Lidya berhenti di sebuah pintu masuk sebuah desa.
__ADS_1
Shiro melihat pemandangan pedesaan dengan penuh kekaguman dan nostalgia.
Lidya memandang Shiro dengan penuh senyuman, "Selamat datang di kediaman suku Cindaku."